Kunjungan Purnomo Yusgiantoro membangkitkan kenangan awal berdirinya STT Pastor Bonus. Kini kampus teologi di Pontianak itu bersiap membuka program magister bertaraf internasional.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
DI sebuah sudut Kota Pontianak, perjalanan panjang yang dimulai hampir tiga dekade lalu kembali dikenang. Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi, Purnomo Yusgiantoro, di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus, Kamis (4/6), menjadi penanda bagaimana sebuah cita-cita pendidikan yang dahulu dirintis perlahan tumbuh menjadi lembaga yang diperhitungkan.
Langkah Purnomo memasuki lingkungan kampus membawa ingatannya kembali ke masa-masa awal perjuangan mendirikan dan mengembangkan STT Pastor Bonus bersama Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus. Saat itu, lembaga pendidikan teologi tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan dan membutuhkan dukungan dari banyak pihak.
“Waktu terus berlanjut, dan saya ingat betul kami datang ke sini untuk peresmiannya juga,” kenang Purnomo.
Baca Juga: Dinas LHK Kalbar Perkuat Program Iklim untuk Capai Target Penurunan Emisi GRK
Kini, pemandangan yang ia lihat jauh berbeda. Kampus yang dahulu dirintis dengan berbagai keterbatasan telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan calon imam dan tenaga pastoral di Kalimantan Barat. Bahkan dalam waktu dekat, STT Pastor Bonus bersiap meluncurkan Program Magister/Lisensiat Teologi Pastoral Kontekstual melalui kerja sama dengan Universitas Santo Tomas Manila dan Universitas San Agustin Pontianak.
Bagi Purnomo, langkah tersebut merupakan lompatan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan teologi di daerah.
“Saya pikir program ini sangat bagus sekali. Adanya peningkatan kualitas dari STT ini,” ujarnya.
Harapan pun ia titipkan agar perkembangan tersebut tidak berhenti pada pencapaian saat ini. Menurutnya, STT Pastor Bonus perlu terus berkembang agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menjawab tantangan zaman.
Di sisi lain, kunjungan itu juga menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar Yayasan Pastor Bonus. Ketua Pembina Yayasan Pastor Bonus, Mgr Agustinus Agus, menyambut hangat kedatangan sahabat lama yang dinilainya memiliki kontribusi penting dalam perjalanan lembaga tersebut.
Baca Juga: Sektor Perhotelan Kalbar Tumbuh, Lama Tamu Menginap Meningkat pada April 2026
Baginya, kehadiran tokoh nasional seperti Purnomo bukan hanya sekadar kunjungan kehormatan, tetapi juga menjadi suntikan semangat bagi pengembangan pendidikan tinggi keagamaan di Kalimantan Barat.
“Kami di daerah ini tentu membutuhkan dukungan tokoh-tokoh nasional seperti beliau ini,” kata Mgr Agustinus.
Perjalanan STT Pastor Bonus sendiri menyimpan catatan yang tidak sedikit. Sejak berdiri pada 1998, lembaga ini telah melahirkan ratusan lulusan yang mengabdikan diri di berbagai bidang pelayanan gereja. Data kampus mencatat sebanyak 247 pastor, lima diakon, 56 frater, dan total 399 alumni telah ditempa dari institusi tersebut.
Angka-angka itu menjadi bukti bahwa lembaga yang lahir dari semangat pelayanan ini terus tumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi Gereja Katolik, khususnya di Kalimantan dan Indonesia.
Plt Rektor STT Pastor Bonus Pontianak, Romo Gregorius Kukuh Nugroho CM, menjelaskan bahwa program Magister/Lisensiat Teologi Pastoral Kontekstual yang tengah dipersiapkan bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan. Program tersebut dirancang untuk membentuk calon imam yang memiliki pemahaman mendalam dan kontekstual dalam bidang biblis, teologis, liturgi, pastoral, hingga hukum kanonik.
Baca Juga: Wagub Kalbar: Gawia Sowa Simbol Pelestarian Budaya Dayak Bidayuh di Bengkayang
Kerja sama dengan institusi pendidikan teologi ternama di Filipina menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring akademik sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.
Di tengah perkembangan dunia pendidikan yang semakin kompetitif, STT Pastor Bonus menunjukkan bahwa kampus berbasis nilai dan pelayanan juga mampu tumbuh menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Dari Pontianak, sebuah perjalanan panjang yang dulu dimulai dengan mimpi sederhana kini perlahan mengarah pada panggung pendidikan teologi bertaraf internasional.(*)
Editor : Hanif