Budaya ngopi di Kota Pontianak tidak pernah kehabisan cara untuk berevolusi. Jika dulu tradisi ini identik dengan warung kopi legendaris di dalam gang-gang tua, kini malam-malam di Pontianak menawarkan wajah baru yang lebih dinamis. Kreativitas anak muda berhasil menyulap sudut-sudut kota yang mati menjadi ruang publik yang penuh energi.
Haryadi, Pontianak
Lihat saja bagaimana kawasan Jalan Nusa Indah, Jalan Diponegoro dan beberapa sudut lainnya bertransformasi saat malam menyapa. Ruko-ruko yang telah tutup tidak dibiarkan sunyi begitu saja. Teras-teras pertokoan disulap menjadi "kedai kopi dadakan" dengan hamparan kursi dan meja minimalis.
salah satu penikmat setia kopi street adalah Surya Pratama, pria yang akrab disapa Cuy ini mengungkapkan. Kedai kopi jalanan atau populer di anak muda Pontianak dengan sebutan 'Kopi Street' menawarkan daya tarik dan atmosfer unik yang tidak dapat ditemukan di kedai kopi modern (coffee shop) pada umumnya.
Melalui konsep terbuka ini, para pengunjung dapat menikmati secangkir kopi sembari menyaksikan langsung dinamika lalu lalang kendaraan dan keunikan visual Kota Pontianak di malam hari.
"Saya cukup sering menikmati kopi jalanan di beberapa tempat bersama teman-teman, terkadang selepas jam pulang kantor," ujar Cuy menjelaskan rutinitasnya.
Selain faktor suasana yang disuguhkan, kualitas produk juga menjadi alasan kuat mengapa tren ini kian menjamur. Cuy menegaskan bahwa soal cita rasa, racikan kopi jalanan saat ini sudah sangat bersaing dan tidak kalah dengan kopi kekinian yang sedang populer di pasaran.
Namun, ada satu aspek krusial yang dinilai menjadi magnet terbesar bagi masyarakat Pontianak untuk berbondong-bondong mendatangi kopi street.
"Nah, ini yang menarik mengapa kopi jalanan banyak digandrungi di Kota Pontianak. Karena mereka menjual kopi dengan harga yang sangat terjangkau dan ramah di kantong," pungkasnya sembari tertawa.
Kreativitas anak muda Pontianak tidak berhenti di situ. Jalan-jalan yang dulunya sunyi dan terabaikan saat malam tiba, kini diberi nyawa baru. Tengoklah kawasan di samping Hotel Kini. Jalan yang dulunya senyap dan hanya dilewati kendaraan sesekali, kini telah berubah total. Tempat yang dulu sepi itu kini justru menjelma menjadi pusat keramaian baru yang estetik. Sudut yang sunyi kini riuh oleh deting sendok yang beradu dengan cangkir kopi.
Baca Juga: 18 Anak Muda Kebanggaan Indonesia Masuk Daftar Bergengsi Forbes 30 Under 30 Asia 2026
Tren kopi street ini membuktikan bahwa Kota Pontianak selalu punya cara yang dinamis untuk merawat tradisi ngopinya. Peluang manis tersebut ditangkap dengan cerdik oleh Syah Ramadhan.Dia menggebrak pasar kuliner lokal dengan mendirikan kedai kopi jalanan unik bernama COMBI, yang merupakan akronim dari Comfort Bid atau bermakna "Tawaran Kenyamanan".
Daya tarik utama dari COMBI terletak pada konsep tempatnya yang menggunakan mobil antik Volkswagen (VW) Combi yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Tidak hanya mengandalkan estetika kendaraan klasik, Ramadhan sapaan akrabnya juga menerapkan strategi pemasaran kreatif pada buku menunya, yakni menggunakan kombinasi singkatan dan kepanjangan yang unik untuk memikat hati para konsumen.
"Untuk operasional harian, COMBI menyapa para pelanggannya setiap malam di kawasan Jalan Diponegoro. Kendati demikian, bisnis kuliner bergerak ini juga aktif memperluas jangkauan pasar dengan rutin berpartisipasi di sejumlah acara (event) besar," jelasnya.
Dia melanjutkan berbeda dengan kedai kopi jalanan pada umumnya, COMBI membidik target pasar yang sangat luas, yakni menyasar semua kalangan usia. Strategi ini diwujudkan melalui konsep menu yang memadukan keunggulan kedai kopi modern (coffee shop) dan kedai kopi tradisional (kopitiam).
"Di sini, pengunjung dapat menikmati beragam varian minuman kekinian maupun tradisional, baik yang berbahan dasar kopi (coffee) maupun non-kopi. Tak hanya itu, menu kuliner yang dihadirkan pun sangat variatif, mulai dari aneka camilan, makanan ringan, hingga makanan berat siap saji seperti nasi goreng tumpah.""tuturnya.
Baca Juga: Kopi Liberika Kalbar Tembus Pasar Dunia, Mulai Melirik Pembeli dari Dubai hingga Swedia
Kopi street lainnya Dink Coffee milik Baharudin Dandy. Ia memilih pasar mahasiswa dan anak-anak muda. Makanya kawasan strategis di sekitar Universitas Tanjungpura yang kini menjadi salah satu pusat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dipilih sebagai lokasi operasional. Menyasar jalur jalan daya nasional di area kampus, Dink Coffee membidik pangsa pasar yang sangat potensial, yakni kalangan mahasiswa.
"Dink Coffee menerapkan sistem minibar ala branding kedai kopi modern (coffee shop). Kualitas pelayanan, estetika penyajian, hingga penggunaan kemasan yang ramah dan menarik bagi konsumen yang diterapkan pada produk kami," jelasnya.
Pria yang biasa disapa Dandy ini pernah bekerja sebagai supervisor di salah satu brand kopi ternama, lalu memilih berhenti dan merintis usaha kopi hingga kini. Menurutnya animo masyarakat Kota Pontianak untuk menikmati kopi masih sangat tinggi, khususnya di kawasan Untan. Berdasarkan analisis pasarnya, sekitar 80 persen pelanggan di daerah tersebut didominasi oleh generasi muda dengan rentang usia 17 hingga 30 tahun.
"Untuk memanjakan lidah para pengunjung, Dink Coffee tidak hanya menyajikan beragam varian minuman kopi berkualitas. Dandy juga mendampingi produk utamanya dengan aneka camilan ringan yang populer di kalangan muda, seperti baso goreng (basreng), makaroni, dan camilan gurih lainnya." tutupnya. (*)
Editor : Hanif