Sebuah kedai kopi di Kota Pontianak itu berubah menjadi ruang sastra. Suasana interaksi para pengunjung berbaur dengan suara-suara yang melafalkan puisi, membacakan cerpen, hingga penggalan novel. Di hadapan para pengunjung yang datang untuk menikmati waktu senggang, kata-kata bergema di balik panggung sederhana itu.
SITI SULBIYAH, Pontianak
RABU (10/6) sore, kegiatan Sastra di Ruang Publik kembali digelar di Aming Coffee, Jalan Putri Candramidi Pontianak. Ini bukan pertemuan biasa. Bagi para penggiatnya, perjumpaan kali ini merupakan edisi ke-57 sepanjang 2026.
Di antara kursi-kursi kedai kopi, satu per satu peserta maju ke depan. Ada anak-anak yang tampak percaya diri menggenggam lembaran kertas, hingga orang dewasa yang menghidupkan kembali kenangan lewat cerpen dan karya sastra lain. Mereka tampil dengan khidmat.
Ahmad Sofian, peggiat literasi yang juga penggagas kegiatan Sastra di Ruang Publik konsisten menghidupkan kegiatan tersebut bersama penggiat lainnya. Menurutnya, sastra memang semestinya hadir di tengah masyarakat.
Baca Juga: MORSA ; Gerakan Besar Kebangkitan Sastra dan Seni Budaya Nasional Siap Mengguncang Generasi Muda
"Jadi tahun 2026 ini sudah 57 kali kami keliling. Jadi kalau sekarang bahasanya keliling," ujarnya.
Tradisi berkeliling itu telah menjadi identitas mereka. Dalam setahun terakhir, kegiatan tersebut tak hanya berpusat di Kota Pontianak. Mereka sempat menyambangi Sanggau, Sekadau, hingga Sintang. Tahun 2026 menjadi tahun keempat gerakan ini berjalan dengan konsep yang sama, yakni mendatangi ruang-ruang publik dan mengajak siapa saja untuk menikmati sastra.
Namun, kecintaan Ahmad Sofian terhadap sastra jalanan ternyata jauh lebih tua daripada agenda rutin ini.
"Kalau dalam konteks dan konsep kita baca-baca sastra atau puisi di warung-warung kopi itu dari zaman-zaman dulu. Dari tahun 90-an lah kami di pasar. Saya dulu juga sempat ngamen puisi, ada komunitasnya," kenangnya.
Memang, setiap Jumat mereka rutin hadir di Aming Coffee, berpindah dari satu cabang ke cabang lainnya. Hubungan baik dengan pihak pengelola membuat kegiatan itu terus mendapat ruang.
Baca Juga: Tren Kopi Street di Kota Khatulistiwa: Cara Anak Muda Merawat Tradisi Ngopi Tanpa Sekat
Namun ruang sastra mereka tak hanya berhenti di kedai kopi. Kadang mereka berkumpul di tepian Sungai Kapuas, tepatnya di belakang Pasar Kapuas Indah. Kadang pula di Bundaran Untan, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, bahkan di Pasar Tengah. Tempat-tempat yang biasanya dipenuhi aktivitas ekonomi dan lalu lintas manusia, sesaat berubah menjadi panggung bagi kata-kata.
"Pokoknya konsepnya itu kami sambil santai, sambil baca," ujar Ahmad Sofian.
Bagi mereka, kehadiran di ruang publik bukan sekadar mencari lokasi baru. Ada semangat yang lebih besar, yakni mendekatkan sastra kepada masyarakat luas.
Selama bertahun-tahun, Ahmad Sofian melihat karya sastra kerap hanya dibacakan di lingkungan komunitas yang itu-itu saja.
"Terus kita kadang baca sastra itu di komunitas-komunitas, kita baca sastra di sesama kita. Sekarang di ruang publik," tuturnya.
Padahal, kerap ada partisipasi masyarakat. Interaksi itulah yang menjadi kejutan menyenangkan. Pengunjung yang semula hanya datang untuk menikmati secangkir kopi, tak jarang memberanikan diri naik ke panggung. Membacakan puisi, penggalan cerpen, atau sekadar mencoba merasakan bagaimana menjadi bagian dari peristiwa sastra.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia bahkan menyediakan hadiah sederhana. "Nah, salah satu interaksi kita itu saat kegiatan, kita memberikan kesempatan pengunjung itu untuk baca sastra. Dan siapa yang mau baca itu, nanti dikasih bubuk kopi 100 gram," katanya.
Sastra di ruang publik juga tak berjalan sendirian. Sesekali mereka berkolaborasi dengan mahasiswa dan pegiat seni lain. Musikalisasi puisi menjadi salah satu bentuk pertunjukan yang memperkaya suasana.
Karya-karya yang dibacakan tak dibatasi oleh satu genre atau satu generasi. "Nah memang kita baca karya sastra semuanya. Puisi, cerpen, kemudian novel. Terus dari karya-karya itu, kita baca karya yang dari Kalimantan Barat," katanya.
Karya-karya lama yang nyaris terlupakan kembali dihidupkan. Karya-karya baru pun diberi ruang yang sama untuk dikenal publik.
"Semuanya kita baca. Tujuannya kita ingin sastra Kalbar itu menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri," ucap Ahmad Sofian.
Namun menjadi tuan rumah, menurutnya, bukan berarti menutup pintu bagi karya dari luar. Mereka juga membaca karya sastra nasional, karya dari negara-negara ASEAN, hingga sastra dunia.
Sebab, sastra yang hidup adalah sastra yang terbuka. "Tujuannya apa? Kita ingin sastra Kalbar menjadi tuan rumah yang ramah bagi karya-karya sastra yang lain,” pungkasnya.(*)
Editor : Hanif