Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Menjaga Perisai Hijau Pesisir Kalimantan Barat: Kolaborasi Jaga Pesisir Lewat Penanaman 10.000 Mangrove di Sungai Kupah

haryadi PP • Jumat, 19 Juni 2026 | 14:21 WIB
Sejumlah peserta menanam bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya. Penanaman ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir untuk menahan abrasi, menyerap karbon, dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. (HARYADI/PONTIANAK POST)
Sejumlah peserta menanam bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya. Penanaman ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir untuk menahan abrasi, menyerap karbon, dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. (HARYADI/PONTIANAK POST)

Dari lumpur pesisir Desa Sungai Kupah, ribuan bibit mangrove ditanam sebagai harapan baru untuk menyelamatkan garis pantai dari ancaman abrasi. Di balik gerakan penghijauan itu, tumbuh pula ikhtiar membangun ketahanan ekonomi dan masa depan masyarakat pesisir Kalimantan Barat.

HARYADI, Sungai Kupah-Kubu Raya

SATU demi satu bibit mangrove dibenamkan ke dalam lumpur pekat di kawasan pesisir Desa Sungai Kupah. Di atas hamparan tanah berair yang membentang hingga bibir laut, tangan-tangan warga, mahasiswa, pegiat lingkungan, dan sejumlah pemangku kepentingan bergerak serempak menanam harapan baru bagi masa depan pesisir Kalimantan Barat.

Bibit-bibit yang tampak kecil dan rapuh itu kelak akan tumbuh menjadi pohon-pohon kokoh dengan akar yang mencengkeram kuat. Kehadirannya akan menjadi perisai alami yang mampu meredam hempasan gelombang, menahan abrasi, serta menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang selama ini menghadapi berbagai tekanan lingkungan.

Pagi itu, cuaca di pesisir Desa Sungai Kupah tampak cerah setelah diguyur hujan. Suasana yang semula tenang berubah riuh oleh semangat gotong royong. Ratusan peserta turun langsung ke area penanaman, membasahi kaki dan tangan mereka dengan lumpur demi menanam ribuan bibit mangrove. Aksi rehabilitasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya nyata memulihkan ekosistem pesisir Kalimantan Barat yang semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim dan abrasi.

Baca Juga: Warga Pesisir Sambas Diminta Waspada Rob dan Hujan Lebat hingga 20 Juni 2026

Rudi Hartono, salah seorang pemuda penggerak sekaligus Ketua Pelestari Lingkungan Buih Muara Desa Sungai Kupah, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas dipilihnya desa mereka sebagai lokasi program rehabilitasi mangrove. Menurutnya, kegiatan penanaman ini bukan hanya agenda sesaat, melainkan awal dari program pemulihan ekosistem yang berkelanjutan.

Target rehabilitasi mangrove yang dicanangkan mencapai area seluas 10 hektare dengan penanaman dan pemeliharaan sekitar 10.000 bibit mangrove. Program tersebut juga dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Saat ini, sebanyak 65 kepala keluarga di Desa Sungai Kupah terlibat aktif dalam kegiatan pembibitan. Warga memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lokasi persemaian. Bibit yang digunakan dalam program rehabilitasi ini seluruhnya berasal dari hasil pembibitan mandiri masyarakat setempat.

"Program pembibitan ini secara ekonomi sangat membantu pendapatan masyarakat sekitar," ujar Rudi.

Untuk mendukung keberlanjutan program, kelompok pelestari menerapkan sistem pembelian bibit dari warga. Setiap bibit mangrove yang siap tanam dihargai Rp2.000. Dari jumlah tersebut, Rp1.000 dialokasikan untuk kas kelompok pelestari, sedangkan Rp1.000 diberikan kepada warga yang membudidayakan dan merawat bibit hingga siap ditanam.

Baca Juga: Tanam Pohon di Pantai Camar Bulan, Ria Norsan Dorong Penghijauan Kawasan Pesisir

"Agar tidak membebani masyarakat, seluruh biji mangrove dan media tanam difasilitasi oleh kelompok secara gratis. Melalui sinergi ini, masyarakat Desa Sungai Kupah diharapkan memperoleh manfaat ganda, yakni lingkungan pesisir yang lebih lestari sekaligus peningkatan perputaran ekonomi lokal," jelasnya.

Sayid Muhadhar, Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup, memberikan apresiasi terhadap aksi penanaman mangrove di Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Menurutnya, kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir di kawasan tersebut sudah berjalan dengan sangat baik.

Program rehabilitasi ini menargetkan penanaman dan pemeliharaan sebanyak 10.000 bibit mangrove pada lahan seluas sekitar 10 hektare. Kegiatan tersebut melibatkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga kelompok masyarakat pesisir.

Dukungan Internasional

Proyek di Kabupaten Kubu Raya ini merupakan bagian dari implementasi SCS SAP Project yang dijalankan oleh United Nations Office for Project Services. Program tersebut menjadi bentuk dukungan internasional dalam pemulihan ekosistem sekaligus mendorong pengelolaan mangrove multiguna secara berkelanjutan.

"Memang luasnya tidak seberapa, namun ini menjadi langkah yang baik dalam upaya penanaman mangrove secara berkelanjutan," ujar Sayid saat ditemui Pontianak Post usai kegiatan penanaman.

Baca Juga: Pemkot Pontianak Dorong Pemerataan Ekonomi Lewat Perluasan Akses Keuangan Melalui Program TPAKD

Sayid menekankan bahwa pemulihan kawasan mangrove yang rusak membutuhkan kolaborasi yang kuat agar ekosistem pesisir Indonesia dapat pulih secara optimal. Pemerintah menargetkan program rehabilitasi ini dapat diselesaikan dalam dua tahun ke depan.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan. Salah satu kendala utama adalah kebutuhan pembangunan infrastruktur pemecah ombak untuk melindungi bibit mangrove yang baru ditanam.

Fasilitas tersebut diperlukan agar bibit tidak hanyut terbawa arus laut. Mengingat biaya pembangunannya cukup besar, Sayid menilai diperlukan komitmen bersama dari berbagai pihak untuk mencari solusi pembiayaan secara gotong royong.

Benteng Alami Kalbar

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, menegaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat pesisir. Hal itu disampaikannya saat turut serta dalam aksi penanaman mangrove di Desa Sungai Kupah.

Menurut Adi Yani, manfaat mangrove dapat dilihat dari tiga aspek utama. Dari sisi ekonomi, mangrove menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Dari sisi sosial, kawasan mangrove berpotensi dikembangkan sebagai sarana edukasi dan ekowisata. Sementara dari sisi ekologi, mangrove berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pantai sekaligus habitat berbagai jenis flora dan fauna pesisir.

Baca Juga: Ria Norsan Dorong Temajuk Jadi Gerbang Wisata Perbatasan, Ekowisata dan Konservasi Penyu Jadi Prioritas

Ia menambahkan, di tengah ancaman pemanasan global, mangrove memegang peran penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap karbon. Ekosistem mangrove diketahui mampu menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan hujan tropis.

Selain berfungsi sebagai penyerap karbon yang efektif, hutan mangrove juga menjadi benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi dan intrusi air laut. Keberadaannya sangat penting untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat pesisir.

"Sejalan dengan semangat Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 yang mengusung tema 'Saatnya Bekerja untuk Iklim', kelestarian mangrove harus menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi perubahan iklim demi menjaga masa depan generasi mendatang," tutur Adi Yani.

Menurut Adi Yani, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tantangan yang dihadapi saat ini cukup besar. Ekosistem mangrove di berbagai belahan dunia dilaporkan hilang tiga hingga lima kali lebih cepat dibandingkan laju kehilangan hutan global secara keseluruhan.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat terus berupaya mengamankan aset ekologis daerah. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, Kalimantan Barat memiliki kawasan mangrove seluas 163.209 hektare atau hampir 5 persen dari total luas mangrove Indonesia. Ekosistem tersebut tersebar di tujuh kabupaten, dengan salah satu kawasan utama berada di Kabupaten Kubu Raya.

Sebagai langkah konkret, Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat tengah menyusun dokumen strategis jangka panjang berupa Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

"Kami sedang menyusun dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Melalui dokumen ini, berbagai isu strategis dalam pengembangan mangrove di Kalimantan Barat dapat dipetakan secara komprehensif. Dokumen tersebut akan menjadi landasan utama dalam pengambilan kebijakan untuk memulihkan, melindungi, dan mengelola kawasan pesisir secara berkelanjutan. Dengan pendekatan yang berbasis data dan partisipatif, restorasi mangrove diharapkan mampu memperkuat ketahanan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," tutupnya. (**)

Editor : Hanif
#pesisir #ekonomi warga #Kolaboratif #penanaman mangrove #sungai kupah