Belajar Bahasa Inggris kini semakin mudah. Melalui inovasi bernama KUBIK-FLICO, Harni Cahyani mampu mengubah cara murid-muridnya dalam belajar. Dia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dikombinasikan dengan metode komik, kini murid-muridnya semakin mudah memahami Bahasa Inggris
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Harni Cahyani sudah 21 tahun menjadi seorang guru. Sebelum ditempatkan mengajar di SMP Negeri 4 Sungai Ambawang, dia telah mengajar Bahasa Inggris dari satu sekolah ke sekolah lain selama bertahun-tahun. Dari pengalamannya mengajar Bahasa Inggris itu, akhirnya dia mampu melahirkan satu inovasi belajar Bahasa Inggris dengan mudah.
Inovasi itu dia namakan Kubu Raya Innovative Komik-Flip Comic (KUBIK-FLICO). Metode belajar ini penggabungan komik digital interaktif, teknologi kecerdasan buatan (AI), serta pengutaan literasi dan numerasi dengan dibalut kearifan lokal.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar Perkuat Posbankum Desa, Edukasi Warga Cegah Perkawinan Tidak Tercatat
Harni menjelaskan ide KUBIK-FLICO sebenarnya bukan barang baru di kepalanya. Bertahun-tahun lalu, ide ini sudah muncul saat dia memperhatikan anak-anaknya di rumah yang begitu lahap melahap seri komik edukasi asal Korea Selatan. Komik-komik tersebut mampu mengemas materi sains dan sejarah yang berat menjadi visual cerita yang seru.
"Saya sempat berpikir, seru kali ya kalau membuat komik bahasa Inggris untuk murid-murid saya. Tapi waktu itu saya pendam bertahun-tahun karena saya bukan ilustrator atau komikus. Saya tidak punya ilmunya," tuturnya.
Titik balik itu akhirnya datang ketika Dinas Pendidikan Kabupaten Kubu Raya menjembatani sebuah pelatihan tentang pemanfaatan AI di ruang kelas. Bak gayung bersambut, Harni langsung menyelami teknologi tersebut. Tak puas sampai di situ, dia giat berburu berbagai pelatihan daring gratis demi menyempurnakan impian lamanya.
Alhasil, pengembangan itu dimulai pada September tahun lalu. Setelah sebulan mengerjakannya, akhirnya komik digital itu resmi diuji coba ke murid SMPN 4 Sungai Ambawang.
Baca Juga: Erlina Dorong Perajin Kalbar Perluas Pasar Digital
“Hasilnya luar biasa. Anak-anak begitu antusias. Di komik itu saya menggunakan karakter komik yang wajah dan namanya diambil dari murid-murid di kelas. Hasil post-test pun menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas berbasis teks,” katanya.
Salah satu kekuatan utama KUBIK-FLICO adalah jiwanya yang sangat "Kubu Raya". Dia sengaja memasukkan unsur makanan khas, cerita rakyat, seni musik, seni tari, hingga destinasi wisata lokal ke dalam alur cerita komik. Baginya belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tentang Menara Eiffel atau budaya Barat, melainkan bisa menjadi alat untuk mengenalkan kekayaan daerah sendiri ke dunia luar.
Selain itu, KUBIK-FLICO dirancang sangat inklusif. Saat pertama kali diterapkan, hanya 15,62 persen murid di kelasnya yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di level A2 (sisanya masih berada di level dasar). Diapun menyesuaikan konten komiknya dengan kemampuan riil siswa.
"Metode ini sangat fleksibel (lintas level dan lintas mapel). Kalau ada guru Matematika atau Sejarah di sekolah lain yang muridnya sudah di atas rata-rata, mereka bisa dengan mudah mereplikasi dan menyesuaikan tingkat kesulitannya ke dalam bentuk komik," jelasnya.
Meski banjir pujian, dia tetaplah seorang guru yang membumi. Baginya, rasa duka atau kecemasan terbesar justru muncul dari dalam dirinya sendiri yang selalu merasa KUBIK-FLICO belum sempurna.
"Masih banyak PR bagi saya agar inovasi ini bisa semakin dikenal luas dan memberikan manfaat yang lebih besar untuk guru-guru dan murid-murid lain di luar sana," tutupnya.(*)
Editor : Hanif