Malam selalu datang lebih cepat di Kampung Pasir Torok, Desa Cikawung, Kecamatan Trisi, Indramayu. Begitu jarum jam melewati pukul 19.00, gelap menelan seluruh kampung. Hanya nyala redup lampu berbahan bakar solar yang menemani warga.
MOH. HILMI SETIAWAN, Indramayu
KAMPUNG Pasir Torok hanya berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Jakarta. Dari kejauhan, cahaya lampu Jalan Tol Cipali terlihat jelas. Namun, selama hampir 25 tahun sejak kampung itu berdiri, listrik negara belum kunjung masuk ke sana.
Kampung Pasir Torok merupakan satu di antara beberapa perkampungan di Desa Cikawung yang belum menikmati aliran listrik PLN. Dua kampung lain yang serupa adalah Grabyakan dan Balok.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar dan BAZNAS Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Zakat hingga Penyuluhan Hukum
Jawa Pos (kelompok Pontianak Post) mengunjungi Pasir Torok pada Kamis (9/7) lalu. Kendaraan hanya bisa mencapai Jalan Cikamurang. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 2 kilometer melintasi hamparan sawah.
Musim kemarau meninggalkan jejak yang nyata. Tanah sawah pecah-pecah. Padi tumbuh, tetapi sulit berkembang maksimal. Pohon-pohon mangga berdiri di sejumlah sudut kampung, menjadi penanda komoditas khas Indramayu.
Rastiwan, 35, salah seorang penghuni kampung, menyampaikan, sejak dirinya kecil, kampungnya memang tidak pernah menikmati sambungan listrik PLN. Warga yang mampu membeli genset. Selebihnya bertahan dengan lampu berbahan bakar solar yang mereka sebut cempor atau damar.
Dia menjalani kehidupan tanpa listrik bersama dua anaknya. ’’Saya lahir di Desa Cikawung. Sempat merantau ke Lampung, lalu tujuh tahun terakhir tinggal di sini,’’ katanya.
Baca Juga: Prabowo: Motor Listrik Nasional Akan Diluncurkan dalam Beberapa Pekan
Cerita serupa diungkapkan Emik, warga Kampung Grabyakan. Perempuan kelahiran 1967 itu sudah hampir dua dekade tinggal di kampung tersebut. Dia menyatakan, lampu solar menjadi satu-satunya sumber penerangan di rumahnya. ’’Asapnya meninggalkan jelaga hitam di dinding dan langit-langit rumah,’’ ucapnya.
Keadaan itu akhirnya berubah. Beberapa hari lalu, rumah-rumah warga mulai dipasangi perangkat Limar (Listrik Mandiri). Setiap keluarga memperoleh satu panel surya, 5 lampu LED hemat energi, baterai, kabel, serta perangkat pendukung lain.
’’Alhamdulillah, sekarang sudah terang. Teras rumah juga terang,’’ ujar Emik, lantas tersenyum.
Baca Juga: Prabowo Setop Impor Solar, Petani Sawit Kalbar Berpeluang Nikmati Manfaat B50
Rastiwan juga merasakan perubahan besar. ’’Perawatannya mudah. Tinggal membersihkan panel surya supaya penyerapan sinarnya tetap maksimal,’’ katanya.
Program itu merupakan bagian dari agenda Rumah Terang Baznas. Teknologi Limar dikembangkan Ujang Koswara, inovator asal Bandung. Gagasan tersebut lahir dari pengalaman pribadi.
Pada 2008, ibu Ujang yang tinggal di Garut Selatan mengeluhkan harga minyak tanah yang melonjak tajam. Saat itu Ujang telah sukses berwirausaha di Bandung. Namun, ibunya masih bertahan dengan lampu tempel.
’’Boleh dikatakan, saya bergelimang duit, tetapi ibu saya susah listrik,’’ kata Ujang mengenang. Kalimat itu terus terngiang.
Baca Juga: Kalimantan Kembali Terang, PLN Pulihkan Sistem Listrik Usai Gangguan Pembangkit
Dia kemudian mencari cara menghadirkan listrik murah bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan PLN. Berbagai percobaan pun dilakukan. Mulai menggunakan aki hingga akhirnya memilih tenaga surya sebagai sumber energi.
Ujang lantas merancang lampu LED berdaya hanya 1 watt. Daya kecil itu membuat listrik dari panel surya bertahan jauh lebih lama tanpa mengurangi tingkat pencahayaan. Efisiensi cahaya ditingkatkan lagi melalui rancangan kaca prisma yang dibuat khusus.
’’Hampir seluruh komponennya buatan anak negeri,’’ tegasnya.
Kini satu paket Limar terdiri atas panel surya 50 watt, baterai 12 volt 15 ampere, serta 5 lampu LED hemat energi. Menurut Ujang, perangkat tersebut mampu bertahan lebih dari 10 tahun dengan perawatan sederhana.
Inovasi itu telah menerangi sekitar 300 ribu rumah di berbagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kerja sama dengan Baznas menjadi salah satu upaya memperluas akses listrik bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan PLN.
Ketua Baznas Sodik Mudjahid menyampaikan, program Rumah Terang Baznas akan terus diperluas dengan dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat.
’’Kalau rumahnya sudah terang, produktivitasnya juga harus meningkat. Anak-anak lebih rajin belajar. Orang tua lebih rajin membaca Alquran. Yang jangan bertambah mungkin jumlah anaknya kalau sudah dua,’’ ujarnya berseloroh. (*/dri)
Editor : Rafael B. Junior