Di sudut Jalan Parit H. Husin II Gang Anggrek, Pontianak, hamparan sayuran, umbi-umbian, tanaman rempah hingga buah-buahan tumbuh berdampingan. Di sela-selanya, kandang ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB), kolam lele, dan pojok pengolahan kompos melengkapi suasana. Kebun itu bukan sekadar ruang hijau, melainkan laboratorium kecil yang mengajarkan bagaimana ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman rumah.
SITI SULBIYAH, Pontianak
ASOSIASI Muslimah Pengusaha se-Indonesia (Alisa) Khadijah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Kalimantan Barat menghadirkan kebun pangan lokal tersebut. Bernama "Happy Garden", kebun ini sebagai wadah edukasi yang diharapkan menjadi contoh pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Bagi Ketua Alisa Khadijah ICMI Kalbar, Aida Mokhtar, kebun ini memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar tempat menanam. "Kebun Pangan Lokal ini bukan sekadar tempat menanam, tetapi menjadi sarana edukasi, pemberdayaan perempuan, sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan potensi pangan lokal," ujarnya.
Kebun pangan lokal tersebut resmi diluncurkan pada Minggu (19/7). Peluncuran kebun tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam mempercepat diversifikasi pangan berbasis potensi lokal.
Menurut Aida, perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan pola konsumsi keluarga. Karena itu, pemanfaatan pekarangan tidak hanya menghasilkan bahan pangan yang sehat dan bergizi, tetapi juga dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga bahkan membuka peluang usaha.
Peluncuran Happy Garden ditandai dengan pemotongan tumpeng berbahan pangan lokal dan penyerahan bibit tanaman kepada perwakilan organisasi perempuan. Bibit tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya lebih banyak kebun pangan keluarga di berbagai lingkungan organisasi maupun permukiman.
Adapun yang membedakan Happy Garden dari kebun pada umumnya adalah konsep edukasi digital yang diusung. Kebun ini menjadi bagian dari program "Kenali Pangan Asik" milik Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Barat.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Indonesia Sudah Swasembada Delapan Komoditas Pangan
Lebih dari 80 jenis tanaman pangan lokal ditanam di kawasan ini. Setiap tanaman dilengkapi label dan barcode yang dapat dipindai menggunakan telepon genggam. Melalui barcode tersebut, pengunjung dapat mengetahui nama tanaman, kandungan gizi, manfaat kesehatan, masa tanam hingga cara mengolahnya menjadi bahan pangan.
Konsep ini diharapkan membuat masyarakat, terutama generasi muda, lebih mudah mengenal kekayaan pangan lokal yang selama ini mulai tergeser oleh makanan instan dan komoditas impor.
Tak hanya itu, kawasan kebun juga dilengkapi KUB Chicken House sebagai sumber telur ayam kampung unggul, Kolam Protein Keluarga berisi ikan lele sangkuriang, serta Pojok Kompos yang memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk. Seluruh fasilitas tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah pekarangan dapat menjadi sistem pangan rumah tangga yang saling terhubung.
Baca Juga: Tiga Jenis Lohansung Favorit Penghobi Tanaman Hias Menurut Samuel Hendyanto
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Kalimantan Barat, Erlinawati Nasir. Ia menilai gerakan seperti ini penting untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih banyak mengonsumsi pangan lokal yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).
Inisiasi Alisa Khadijah selaku salah satu anggota organisasi BKOW dinilainya selaras dengan semangat pemberdayaan perempuan dan penguatan ketahanan keluarga. “BKOW akan terus mendorong keterlibatan seluruh organisasi perempuan yang sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk konsumsi pangan lokal yang Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Barat, Manto, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sebagai fondasi penguatan ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, pemanfaatan pekarangan dan lahan produktif oleh masyarakat merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan ketersediaan pangan rumah tangga, mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tertentu, sekaligus mendukung diversifikasi konsumsi pangan.
"Semoga inisiatif ini dapat menjadi contoh dan menginspirasi organisasi maupun masyarakat luas untuk bersama-sama membangun kemandirian pangan keluarga," ungkapnya.(*)
Editor : Hanif