Memeringati Hari Anak Nasional: Menjahit Asa Penyintas Kecil Lewat Kolaborasi Kepedulian Bersama

Mirza Ahmad Muin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:40 WIB
Anak-anak penyintas saat memeringati Hari Anak Nasional di Aula PMI Kota Pontianak. (ISTIMEWA)
Anak-anak penyintas saat memeringati Hari Anak Nasional di Aula PMI Kota Pontianak. (ISTIMEWA)

Di balik senyum anak-anak penyintas kanker, thalasemia, dan jantung bawaan, tersimpan perjuangan panjang keluarga. Pemkot Pontianak mengajak dunia usaha bergandengan tangan menghadirkan harapan baru.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

Tawa anak-anak memenuhi Aula PMI Kota Pontianak dalam peringatan Hari Anak Nasional, Kamis (23/7). Di balik senyum yang menghangatkan ruangan itu, tersimpan kisah-kisah panjang tentang perjuangan melawan kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan.

Ada anak yang berkali-kali keluar masuk rumah sakit, ada pula orang tua yang harus meninggalkan pekerjaan demi mendampingi buah hatinya menjalani pengobatan.

Baca Juga: Sekda Kalbar Harisson Praktikkan GAMAS, Ajak Ayah Lebih Aktif Dampingi Anak Sejak Hari Pertama Sekolah

Di tengah suasana penuh kehangatan itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengingatkan bahwa perjuangan mereka tidak boleh dipikul sendirian.

Menurutnya, negara memang hadir melalui berbagai program, tetapi harapan akan tumbuh lebih besar ketika masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan para relawan ikut bergandengan tangan.

"Kita mengajak CSR dan dunia usaha juga ikut membantu. Karena dengan kolaborasi, kita bisa meringankan beban dari anak-anak ini," ujarnya.

Selama ini Pemerintah Kota Pontianak telah menyediakan berbagai bentuk dukungan bagi warga kurang mampu, mulai dari kepesertaan BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran hingga bantuan sosial setelah pengobatan. Bahkan, bagi keluarga yang harus membawa anaknya menjalani perawatan ke Jakarta, pemerintah juga membantu biaya perjalanan.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, Kasdam XII/Tanjungpura Ingatkan Ancaman Kekerasan hingga Perundungan Digital pada Anak

Namun Edi menyadari, kebutuhan anak-anak penyintas tidak berhenti pada urusan biaya rumah sakit. Mereka membutuhkan lingkungan yang menerima, ruang tumbuh yang aman, serta tangan-tangan yang bersedia menemani perjalanan panjang menuju kesembuhan.

"Kita berkepentingan untuk terus berkolaborasi bagaimana anak-anak ini punya kesempatan untuk sehat dan berkembang, sehingga bisa membangun masa depan yang baik," katanya.

Di balik setiap keberangkatan menuju rumah sakit rujukan di Jakarta, tersimpan kisah keluarga yang harus belajar menghadapi kecemasan. Banyak orang tua yang belum pernah meninggalkan kampung halaman, lalu mendadak harus berhadapan dengan kota besar, prosedur rumah sakit, hingga masa tunggu operasi yang tidak singkat.

Baca Juga: APBD Kalbar 2027 Diproyeksikan Rp5,80 Triliun, Fokus ke SDM dan Ekonomi

Karena itulah Edi memberikan apresiasi kepada para relawan, termasuk Sedaya Indonesia, yang selama ini mendampingi keluarga pasien. Kehadiran mereka bukan hanya membantu urusan teknis, tetapi juga menjadi tempat bersandar ketika rasa takut dan kebingungan datang.

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD dr. Soedarso Pontianak, dr. Anindia Wardhani, melihat secercah harapan dari berkembangnya layanan kesehatan di Kalimantan Barat. Semakin banyak anak dengan penyakit jantung bawaan kini dapat terdeteksi lebih dini dan memperoleh pemeriksaan di daerah.

Meski demikian, untuk kasus-kasus yang kompleks, terutama yang memerlukan operasi bedah jantung anak, perjalanan menuju Jakarta masih menjadi kenyataan yang harus dijalani banyak keluarga.

"Karena masih ada keterbatasan, kita belum bisa sampai operasi. Beberapa pasien masih kami kirim ke Jakarta untuk penanganan lebih lanjut," jelasnya.

Baca Juga: Edi Kamtono Ajak Dunia Usaha Berkolaborasi Bantu Anak Penyintas Kanker, Thalasemia, dan Penyakit Jantung Bawaan

Dalam sepekan, ia dapat merujuk lima hingga enam pasien ke RS Jantung Harapan Kita. Saat ini, sebanyak 29 pasien asal Kalimantan Barat masih berada di Jakarta untuk menunggu operasi maupun menjalani pemeriksaan lanjutan.

Meski begitu, perkembangan layanan di RSUD dr. Soedarso mulai memberi harapan baru. Sejumlah kasus penyakit jantung bawaan yang lebih sederhana kini sudah bisa ditangani di Pontianak melalui pemasangan alat maupun deteksi sejak dini.

Di balik seluruh upaya itu, tersimpan satu pelajaran sederhana. Kesembuhan bukan hanya soal obat, ruang operasi, atau teknologi medis. Kesembuhan juga tumbuh dari kepedulian yang membuat setiap anak merasa tidak berjuang sendirian.

Ketika pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, relawan, dan masyarakat memilih berjalan bersama, harapan menjadi lebih nyata, bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga mimpi-mimpi kecil agar tetap hidup.(*)

Editor : Hanif
pemkot pontianak anak CSR penyintas kanker dunia usaha