Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Kalbar: Lawan Stunting Lewat Gotong Royong Demi Anak Berkualitas

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:23 WIB
Sekda Kalbar, Harisson membuka Rakor dan Reviu Program Bangga Kencana serta Percepatan Penurunan Stunting 2026 di Pontianak. (ISTIMEWA)
Sekda Kalbar, Harisson membuka Rakor dan Reviu Program Bangga Kencana serta Percepatan Penurunan Stunting 2026 di Pontianak. (ISTIMEWA)

Stunting di Kalimantan Barat ternyata bukan semata persoalan gizi, tetapi juga kemiskinan dan minimnya pengetahuan keluarga. Di tengah capaian Program Genting, kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi harapan lahirnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

DI balik senyum anak-anak Kalimantan Barat, masih tersimpan pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Stunting bukan lagi sekadar persoalan tinggi badan yang tertinggal, melainkan cerminan panjangnya rantai kemiskinan, terbatasnya pengetahuan keluarga, hingga belum meratanya kesempatan memperoleh gizi yang layak sejak awal kehidupan.

Pesan itulah yang mengemuka saat Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, membuka Rapat Koordinasi dan Reviu Program Bangga Kencana serta Percepatan Penurunan Stunting Semester I 2026 di Aula Kencana Kantor Perwakilan BKKBN Kalbar, Senin (27/7). Baginya, stunting tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas kesehatan atau membagikan bantuan pangan.

Baca Juga: Pengabmas Kebidanan Berikan Edukasi Pocket Book Digital Kepada Ibu Hamil Untuk Cegah Stunting

"Kalau menurut saya, penyebab paling mendasar stunting adalah kemiskinan. Selain itu, masih ada keterbatasan pengetahuan ibu dan keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi, mulai dari remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita," ujar Harisson.

Pandangan itu mengingatkan bahwa perjuangan melawan stunting sesungguhnya dimulai dari rumah. Dari dapur sederhana yang mampu menyajikan makanan bergizi, dari keluarga yang memahami pentingnya asupan nutrisi sejak masa kehamilan, hingga lingkungan yang memberi kesempatan anak-anak tumbuh sehat dan berkembang optimal.

Harisson meyakini investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan kualitas manusianya. Anak-anak yang memperoleh gizi cukup sejak dalam kandungan hingga usia balita akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif, sebuah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.

Meski demikian, ia mengakui tantangan belum sepenuhnya berakhir. Angka kemiskinan di Kalimantan Barat memang terus menurun dan kini berada di kisaran 6,6 persen, tetapi penurunan itu harus dibarengi intervensi yang tepat sasaran agar benar-benar berdampak pada turunnya prevalensi stunting.

Baca Juga: Tjhai Chui Mie Tegaskan Peran Strategis Tenaga Kesehatan Dukung Pembangunan Kesehatan di Singkawang

Perbedaan data stunting antara pencatatan rutin daerah dan survei nasional pun menjadi perhatian. Bagi Harisson, kesenjangan data harus menjadi bahan evaluasi agar setiap program benar-benar menjangkau keluarga yang paling membutuhkan.

Karena itu, ia mendorong pendekatan pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan warga.

"Kalau ingin sebuah program berhasil, maka kita harus menggunakan pendekatan pentahelix. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, media, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat harus ikut terlibat," tegasnya.

Baca Juga: BKKBN Kalbar Ajak Semua Pihak Sukseskan Program Genting Atasi Stunting

Semangat gotong royong tersebut diwujudkan melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), sebuah program yang mengajak perusahaan, lembaga, komunitas hingga masyarakat menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting.

Harapan itu mulai menunjukkan hasil. Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Barat, Nyigit Wudi Amini, mengungkapkan Kalbar berhasil mencatat capaian membanggakan. Hingga semester pertama 2026, Program Genting telah menjangkau 13.548 keluarga sasaran, atau 116 persen dari target, menjadikan Kalbar sebagai peringkat pertama nasional.

Transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga juga memperluas fokus pembangunan, tidak hanya pada pengendalian penduduk, tetapi juga penguatan kualitas keluarga sebagai pondasi pembangunan manusia.

Selain Genting, berbagai program seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), pendampingan calon pengantin melalui aplikasi eLSimil, hingga peningkatan pelayanan keluarga berencana terus dikembangkan.

Di balik angka-angka capaian tersebut, tersimpan sebuah keyakinan sederhana: ketika keluarga menjadi lebih kuat, anak-anak akan tumbuh lebih sehat. Dan ketika seluruh masyarakat memilih berjalan bersama, stunting bukan lagi sekadar target statistik, melainkan persoalan yang perlahan dapat ditinggalkan.(*)

Editor : Hanif
genting Penurunan Stunting kalbar generasi sehat gotong royong