Seniman Kalimantan Barat, Puji Rahayu, menjadi salah satu dari dua perupa asal Kalbar yang lolos dalam seleksi untuk mengikuti pameran seni rupa Pra-Biennale Kalimantan 2026, di Kalimantan Selatan. Karya seni rupa yang mengisahkan hutan dan tengkawang lewat sajian di atas piring bakal meramaikan pameran yang digelar dua tahun sekali itu.
SITI SULBIYAH, Pontianak
MENGUSUNG tema "Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama" pameran ini akan digelar pada 10-24 Agustus 2026 di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan melalui mekanisme open call yang dikurasi oleh dewan kurator.
Bagi Puji, lolos dalam ajang tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Ia mengaku bersyukur dapat berkontribusi dalam pameran yang sejak lama direncanakan dan akhirnya dapat terlaksana tahun ini.
Baca Juga: Pagelaran Seni Budaya Melayu Manis Mata 2026 Digelar, Alex Ajak Warga Jaga Warisan Budaya Ketapang
"Tentu senang bisa andil di pameran Pra-Biennale Kalimantan 2026 dengan konsep kurasinya Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama," ujarnya.
Menurutnya, sebelum proses seleksi dibuka, para seniman telah mengikuti sosialisasi bersama dewan kurator melalui pertemuan daring. Dalam forum tersebut, para peserta diberi kebebasan untuk menafsirkan tema sesuai sudut pandang masing-masing.
Sebagai perupa, Puji merasa tema tersebut menuntutnya untuk menggali lebih dalam tentang identitas Kalimantan. "Karena ini menyangkut Biennale Kalimantan tentu saya harus tahu tentang Kalimantan terkait dengan tema tersebut," katanya.
Puji memilih menampilkan metafora mengenai kekayaan alam dan budaya Kalimantan. Ia berupaya menemukan keistimewaan Pulau Borneo yang menurutnya dapat menjadi identitas dalam karya seni.
"Saya berusaha mencari jati diri atau istimewanya Kalimantan itulah yang saya jadikan ide. Tentu dengan referensi dan gagasan yang menggambarkan metafora yang tak lazim, tetapi jujur dalam kekaryaan," ungkapnya.
Dalam pameran tersebut, Puji menampilkan karya berjudul "Ketika Anda Bertanya tentang Kalimantan". Karya itu dibuat menggunakan medium kolase kulit kayu kapuak, kertas tempat telur, cat akrilik, dan benang.
Secara visual, ia menggunakan piring sebagai media utama. Piring yang lazim digunakan untuk menyajikan makanan justru menjadi ruang untuk menceritakan Kalimantan.
Baca Juga: Sekda Kalbar Tekankan Budaya Hukum dan Integritas untuk Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
"Secara visual saya menggunakan media piring yang umumnya untuk penyajian makanan, tetapi di dalam piring itu berkisah tentang Pulau Kalimantan yang dimulai dengan tanda tanya dan sosok yang hanya digambarkan wajahnya," jelasnya.
Puji menggambarkan Kalimantan sebagai wilayah yang kaya sumber daya sekaligus dikenal sebagai paru-paru dunia. Ia menyusun karya menyerupai rantai makanan sebagai simbol keseimbangan kehidupan.
"Dalam karya tersebut kompleksitas tentang Kalimantan semua ada, baik kekayaan alam sebagai sumber pangan maupun budayanya yang menghidupinya, terutama hutannya," ujarnya.
Setiap piring menghadirkan cerita berbeda. Ada piring yang berisi hutan, ada pula yang menampilkan hasil hutan seperti tengkawang, tanaman khas Kalimantan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.
Baca Juga: Kodim 1201 Mempawah Gelar Salat Istisqa dan Ajak Masyarakat Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Menurut Puji, bunga tengkawang tidak hanya dikenal sebagai hasil hutan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kalimantan, mulai dari simbol, motif tato, hingga ornamen bangunan dan desain berbagai produk.
Di piring lain ada cerita konsumtif masyarakat dengan berbagai gaya dan keinginannya. Cerita itu kemudian berlanjut pada sosok manusia yang digambarkan sunyi, sang penjaga alam, penjaga hutan, dengan segala kemampuannya berjuang mempertahankan keseimbangan lingkungan.
"Ini ilustrasi masyarakat yang saat ini selalu menjaga keseimbangan hutan dan sangat menjunjung tinggi adat. Tapi apakah setimpal dengan kehidupan yang sekarang dijalaninya, yang selalu terbatas dan tertindas," tuturnya.
Untuk diketahui, Pra-Biennale Kalimantan 2026, adalah sebuah kegiatan menuju Biennale, yakni pameran seni rupa kontemporer berskala besar yang diadakan secara rutin setiap dua tahun sekali. Berasal dari bahasa Italia yang berarti "dua tahunan", biennale adalah ruang tempat karya, gagasan, dan masyarakat saling bertemu.
Melalui seni rupa, berbagai isu tentang identitas, lingkungan, sejarah, hingga dinamika sosial dihadirkan untuk mengajak masyarakat melihat, merasakan, dan berdialog.(*)
Editor : Hanif