Menjadi Perempuan Kreatif: Memotret Kuliner Menguatkan Ekonomi Keluarga Lewat Teknologi

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:19 WIB
Ketua DWP Kalbar, Windy Prihastari saat menghadiri pelatihan pembuatan kue, dan strategi promosi digital dalam Seminar Perempuan Kreatif bertema Snap, Cook & Earn di Kota Pontianak, Selasa (4/8). (ISTIMEWA)
Ketua DWP Kalbar, Windy Prihastari saat menghadiri pelatihan pembuatan kue, dan strategi promosi digital dalam Seminar Perempuan Kreatif bertema Snap, Cook & Earn di Kota Pontianak, Selasa (4/8). (ISTIMEWA)

Lewat dapur, kamera ponsel, dan media sosial, perempuan Kalimantan Barat diajak mengubah kreativitas kuliner menjadi peluang usaha. Pelatihan ini membuktikan teknologi bisa menjadi jalan menuju ekonomi keluarga yang lebih mandiri.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

DI ATAS meja tersusun adonan, loyang, dan aneka bahan pembuat kue. Aroma mentega yang baru dipanggang memenuhi ruangan. Namun, di tangan para peserta, telepon genggam tak kalah penting dibanding spatula. Usai memanggang, mereka segera memotret hasil karya, menyusun kemasan, lalu belajar menawarkannya melalui media sosial.

Begitulah suasana Seminar Perempuan Kreatif bertema Snap, Cook & Earn: Strategi Visual Kuliner Perempuan Kreatif Menuju Ketahanan Ekonomi yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Barat bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kalbar di Pontianak, Selasa (4/8). Pelatihan itu tidak sekadar mengajarkan resep, tetapi memperkenalkan cara mengubah hobi memasak menjadi peluang usaha berbasis teknologi.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pameran, Stand Kapuas Hulu di MTQ Kalbar Buktikan Kuliner Lokal Punya Pasar Lebih Luas

Ketua DWP Kalbar, Windy Prihastari, menilai kemampuan memasak saja belum cukup di era digital. Produk rumahan harus memiliki nilai tambah melalui kemasan yang menarik dan strategi promosi yang tepat.

"Hari ini kami belajar membuat kue, packaging-nya menarik hingga promosi melalui media sosial," ujarnya.

Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengikuti seluruh proses produksi. Mereka belajar menyiapkan bahan, mengolah adonan, mencetak, mengoles, hingga memanggang kue. Setelah itu, tantangan berlanjut pada bagaimana menyusun tampilan produk agar lebih menggugah selera calon pembeli.

Setiap kelompok kemudian diminta merancang konsep kemasan, mengambil foto dan video produk, lalu mempromosikannya melalui media sosial. Kreativitas digital menjadi salah satu aspek penilaian dalam pelatihan tersebut.

Baca Juga: Indonesia-Sarawak Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi, Warga Perbatasan Jadi Perhatian

Menurut Windy, konsumen kerap jatuh hati pada pandangan pertama. Karena itu, visual produk menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran.

"Yang dilihat pertama pasti tampilannya. Packaging harus menarik. Itu yang harus dipahami," katanya.

Pelatihan juga menghadirkan narasumber yang membimbing peserta memahami teknik fotografi sederhana menggunakan gawai, pencahayaan, pengambilan sudut gambar, hingga penyusunan konten promosi yang efektif.

Bagi Windy, perkembangan teknologi telah membuka peluang baru bagi perempuan untuk membangun usaha tanpa harus memiliki toko fisik. Cukup dengan ponsel dan akses internet, produk rumahan kini dapat menjangkau pasar yang jauh lebih luas.

Baca Juga: CFD Sambas Diikuti Lebih dari 100 UMKM, Diskumindag Rutin Data Pedagang untuk Perkuat Pembinaan Usaha

"Sebagai perempuan penting bagi kita memanfaatkan teknologi. Zaman sudah sangat berubah. Teknologi harus dimanfaatkan untuk memasarkan produk," tuturnya.

Ia juga melihat usaha rumahan yang berkembang berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru. Ketika permintaan meningkat, pelaku usaha dapat melibatkan orang lain dalam proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran sehingga manfaat ekonomi dirasakan lebih luas.

Sementara itu, Sekretaris Badan Kesbangpol Kalbar, Siti Nurhidayati, yang mewakili Kepala Kesbangpol Kalbar, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak lagi cukup berhenti pada kegiatan seremonial. Organisasi perempuan didorong menjadi motor penggerak literasi digital sekaligus penguatan ekonomi keluarga.

Ia mengingatkan agar gawai yang dimiliki tidak hanya digunakan untuk menghabiskan waktu di media sosial, tetapi menjadi alat produktif menciptakan peluang usaha.

"Jadikan gadget di tangan ibu-ibu sebagai mesin pencetak peluang," tegasnya.

Melalui pelatihan ini, peserta diajak memahami bahwa foto yang menarik, kemasan yang rapi, dan promosi yang kreatif dapat meningkatkan nilai jual produk kuliner. Teknologi, yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan menjadi jembatan bagi lahirnya lebih banyak perempuan mandiri secara ekonomi.

Di tengah perubahan zaman, dapur bukan lagi sekadar ruang memasak. Dari sanalah lahir kreativitas, peluang usaha, bahkan harapan baru untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui sentuhan teknologi digital.(*)

Editor : Hanif
UMKM perempuan kreatif pelatihan Kuliner