Limbah urin sapi dari Kelompok Tani Kembang Mandiri, Desa Segedong, Kabupaten Sambas, kini diolah menjadi pupuk organik cair (POC) melalui teknologi Biotoilizer IoT. Inovasi ini tidak hanya mengurangi potensi pencemaran lingkungan, tetapi juga menekan biaya pembelian pupuk kimia bagi petani.
MARSITA RIANDINI, Sambas
Aktivitas peternakan kelompok tani tersebut menghasilkan sekitar 30 liter urin sapi per hari. Sebelumnya, limbah itu hanya dibuang di sekitar kandang sehingga menimbulkan bau dan berpotensi mencemari tanah serta sumber air.
Melihat potensi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (Untan) memberikan pelatihan dan menerapkan alat Biotoilizer IoT bertenaga surya. Teknologi ini mengolah urin sapi melalui proses fermentasi menjadi POC yang kemudian diaplikasikan pada lahan jeruk milik petani.
Ketua Tim Pengabdian, Ira Erdiandini, mengatakan program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani serta peternak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang masuk kawasan 3T.
“Berdasarkan survei awal, urin sapi belum diolah sama sekali. Limbah hanya dibiarkan di sekitar kandang tanpa memberikan nilai tambah dan berisiko mencemari lingkungan,” katanya.
Ira yang merupakan dosen Program Studi Ilmu Tanah Untan itu menjelaskan, alat tersebut merupakan teknologi tepat guna untuk mengolah urin sapi menjadi POC melalui fermentasi anaerob dengan tambahan mikroorganisme starter.
Teknologi ini dilengkapi sensor pH dan modul Internet of Things (IoT) yang memantau proses fermentasi secara real-time. Data dikirim ke dashboard melalui situs web atau aplikasi Android sehingga petani dapat mengetahui kondisi dan kematangan pupuk tanpa harus melakukan pengecekan secara manual.
Baca Juga: Poltesa Bantu Peternak Sambas Olah Limbah Kambing Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi
“Seluruh sistem menggunakan energi mandiri dari panel surya sehingga tetap dapat berfungsi meski pasokan listrik di wilayah perbatasan terbatas,” ujarnya.
Tim pengabdian terdiri atas tiga dosen lintas disiplin. Ira Erdiandini memberikan materi fermentasi urin sapi menjadi POC, Rahmi Hidayati dari Program Studi Sistem Komputer menangani materi sistem IoT, sedangkan Muhamad Noor Azizu dari Program Studi Agroteknologi memberikan materi pemupukan tanaman jeruk.
Program juga dilengkapi pelatihan produksi POC, mulai dari menyiapkan urin dan mikroorganisme starter sesuai standar operasional prosedur (SOP) hingga mengoperasikan alat melalui aplikasi Android. Petani juga dilatih mengontrol pH, mengkalibrasi sensor, membaca data, mengakses dashboard, dan melakukan koreksi pH sesuai SOP.
“Petani tidak dilepas begitu saja. Ada pendampingan teknis berkelanjutan agar mitra menjadi pelaku utama dalam pengelolaan alat, bukan sekadar pengguna pasif,” jelas Ira.
Program tersebut menargetkan pengurangan biaya pupuk kimia minimal 15 persen setelah POC diterapkan pada lahan jeruk. Selain itu, pengumpulan urin sekitar tiga liter per hari diproyeksikan menghasilkan sekitar 90 liter POC per bulan.
Baca Juga: Kapolres Sanggau Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pelatihan Pupuk Organik Cair Berbasis Mikroba
Menurut Ira, pemanfaatan POC diarahkan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dari luar wilayah sekaligus mendukung kemandirian pangan di kawasan perbatasan.
“Secara prinsip, POC ini diarahkan sebagai substitusi sebagian input kimia, termasuk pupuk yang bersifat subsidi,” katanya.
Pemanfaatan limbah menjadi pupuk juga membuka peluang integrasi peternakan dan pertanian melalui konsep waste-to-resource. Petani dapat mengurangi biaya produksi sekaligus berpotensi memperoleh pendapatan tambahan dari penjualan POC.
Program ini juga diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah perbatasan lainnya. Selain teknologi produksi, pendampingan mencakup pencatatan produksi dan biaya untuk memperkuat manajemen usaha tani.
Baca Juga: Petani Mempawah Mulai Belajar Hitung Untung, Kelola Keuangan hingga Susun Strategi Bisnis Tani
Sebelumnya, jeruk hasil panen petani di Desa Segedong dijual kepada tengkulak dengan harga sekitar Rp6.000 per kilogram. Harga tersebut dipengaruhi mutu hasil panen yang belum seragam dan lemahnya posisi tawar petani.
Dengan integrasi pengelolaan limbah peternakan dan budidaya jeruk, program Biotoilizer IoT diharapkan tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga memperkuat efisiensi dan kemandirian ekonomi kelompok tani di wilayah perbatasan. (*)
Editor : Miftakhair