Upaya memperkuat perlindungan hutan sekaligus meningkatkan penghidupan petani kecil, masyarakat adat, dan komunitas lokal menjadi perhatian dalam Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang digelar oleh Yayasan Farmers for Forest Protection Foundation (4F)
di Gedung Anex Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu (12/8). Riset 4F dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan keterkaitan antara lanskap dan penghidupan masyarakat.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Sebelas desa tampilkan hasil hutan bukan kayu dan produk lokal dalam Festival Lanskap Lestari di Pontianak. Di antara produk yang menarik perhatian adalah hasil hutan dari Desa Mondi, Kabupaten Sekadau. Sopia Yulia, pengurus BUMDes Desa Mondi, dengan antusias menjelaskan satu per satu hasil hutan yang mereka bawa.
“Ini adalah buah ceriak, ini buah hutan,” ujarnya sambil menunjukkan buah tersebut.
Baca Juga: Ria Norsan Sambut Khofifah di Kalbar untuk Perkuat Kerja Sama Dagang dan Investasi Antardaerah
Hari itu, Sopia datang ke Pontianak bersama Heni, salah seorang pengrajin anyaman dari desanya. Keduanya membawa berbagai produk yang menggambarkan bagaimana masyarakat Desa Mondi memanfaatkan hasil hutan tanpa harus mengubah hutan menjadi lahan produksi.
Selain ceriak, ada pula buah ucung. Menurut Sopia, kedua buah tersebut memiliki cita rasa yang hampir serupa. “Rasa kedua buah ini asam-asam manis,” katanya.
Ada juga buah pekawai. Sekilas, buah ini mengingatkan pada durian karena bentuknya yang berduri. Namun, ukurannya lebih kecil.
“Pekawai ini rasanya manis dan isinya tebal,” timpal Heni.
Pekawai umumnya disantap langsung setelah dipanen. Berbeda dengan durian yang banyak diolah menjadi tempoyak, lempok, atau dodol, masyarakat lebih menyukai pekawai dalam kondisi segar.
Baca Juga: Khofifah Kunjungi Dekranasda Kalbar, Produk Kerajinan Lokal Berpeluang Tembus Pasar Ekspor
“Pekawai ini lebih enak langsung dimakan,” kata Heni.
Buah tersebut juga memiliki musim panen tersendiri. Pekawai dapat dipanen dua kali dalam setahun, sehingga keberadaannya menjadi salah satu sumber pangan yang masih bisa dimanfaatkan masyarakat dari hutan.
Tak hanya buah-buahan. Hasil hutan juga hadir dalam bentuk kerajinan tangan. Beragam anyaman dipamerkan di meja mereka. Salah satunya tengkalang, keranjang punggung tradisional yang banyak dikenal dalam kehidupan masyarakat adat di Kalimantan, termasuk masyarakat Dayak. Kerajinan tersebut dibuat dari rotan yang diperoleh dari alam.
Ada pula topi dan tikar yang dibuat dari daun tumbuhan yang tersedia di kawasan hutan.
Baca Juga: Seminar dan Festival Lanskap Lestari Dorong Kolaborasi Perlindungan Hutan dan Penghidupan Masyarakat
Bagi Sopia, produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Di balik setiap anyaman terdapat keterampilan masyarakat, terutama perempuan di desa. “Untuk anyaman-anyaman ini lebih ke ibu rumah tangga,” ujarnya.
Keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam pengelolaan hasil hutan di Desa Mondi. Aktivitas menganyam dilakukan di tengah kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi cara untuk menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Bagi masyarakat, keberadaan hutan yang tetap terjaga juga berarti mempertahankan sumber kehidupan mereka. Karena itu, Sopia berharap kawasan hutan di desanya dapat terus dipelihara. Ia ingin masyarakat tetap bisa memenuhi sebagian kebutuhan dari sumber daya yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka, tanpa harus bergantung pada sumber dari luar desa.
Kegiatan Festival Lanskap Lestari bertajuk “Celebrating Forests, Food, Culture and Community”, menghadirkan 11 desa binaan Yayasan 4F. Mereka membawa dan menjual berbagai HHBK serta produk lokal dan menampilkan produk unggulan dalam lomba HHBK.
“Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, produk, dan potensi ekonomi yang tumbuh dari lanskap mereka. Hasil penelitian membantu kita memahami lanskap, sementara masyarakat tahu bagaimana lanskap itu dikelola dan dimanfaatkan. Tantangannya adalah mempertemukan keduanya agar bisa diterapkan dalam kerja nyata dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki.
Saling Terkait
Sejumlah kajian 4F dan penelitian BRIN menunjukkan pentingnya memahami keterkaitan tersebut untuk memperkuat perlindungan hutan, pengelolaan lahan, dan penghidupan masyarakat. Temuan tersebut turut dibahas dalam rangkaian kegiatan yang mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, petani dan masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, serta sektor swasta tersebut.
Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki, mengatakan kolaborasi antara penelitian dan pengalaman masyarakat penting agar pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dapat diterapkan dalam pengelolaan lanskap di tingkat tapak.
“Selama bekerja bersama masyarakat di berbagai lanskap desa, kami melihat bahwa perlindungan hutan dan penghidupan masyarakat memang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, kami ingin hasil penelitian yang dibahas hari ini tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dibicarakan bersama dan dilihat apa yang bisa diterapkan di lapangan,” kata Tirza.
Farah Diba selaku Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, menegaskan pentingnya menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. “Keberlanjutan harus mampu menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Karena itu, bukti ilmiah tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dapat diterapkan di masyarakat dan memberi manfaat nyata, termasuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Farah.
Kajian spasial Yayasan 4F menunjukkan bahwa hutan regenerasi muda dan hutan kerapatan rendah tetap rentan kehilangan tutupan. Harits Yowansyah Pandayu Putra, Expert Spatial Yayasan 4F, mengatakan overlay data deforestasi Kementerian Kehutanan 2023–2025 dengan data tutupan hutan berbasis Stok Karbon Tinggi (SKT) menunjukkan deforestasi cenderung terjadi pada kedua kelas hutan tersebut.
“Perlindungan hutan tidak hanya diperlukan pada kawasan dengan tutupan yang masih rapat. Hutan yang sedang beregenerasi juga perlu dijaga agar peluang pemulihannya tidak kembali hilang,” kata Harits.
Analisis tersebut mengidentifikasi 27.316 lokasi indikatif tembawang di Kabupaten Sanggau dan sekitar 103.584,63 hektare area berpotensi agroforestri. Temuan ini dapat menjadi rujukan untuk menetapkan prioritas perlindungan, pemulihan hutan, dan pengembangan agroforestri, dengan lokasi tembawang masih perlu diverifikasi di tingkat tapak.
Amir Mahmud selaku Peneliti Yayasan 4F, mengatakan tembawang atau wanatani bukan sekadar kumpulan pohon yang tersisa di antara perkebunan, tetapi memiliki fungsi sosial, sejarah, ekonomi, dan ekologis. Beragam tanaman di dalamnya menyediakan pangan, buah, kayu, obat, dan sumber pendapatan, sekaligus menyimpan pengetahuan dan nilai budaya masyarakat.
Namun, wanatani menghadapi tekanan konversi, termasuk menjadi kebun sawit. Meski sawit penting sebagai sumber pendapatan tunai, perubahan menuju monokultur dapat mengurangi keragaman sumber penghidupan masyarakat.
“Persoalannya bukan mempertentangkan sawit dengan wanatani, melainkan bagaimana membangun model wanatani yang mampu menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini tanpa kehilangan fungsi sosial dan ekologisnya,” kata Amir.
Menurutnya, pengembangan agroforestri perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, pilihan dan kemampuan petani, serta peluang pasar, dengan dukungan kelembagaan, pengetahuan, pembiayaan, rantai pasok, dan kebijakan.
Sementara itu, penelitian BRIN yang dipaparkan Asri Insiana Putri, menunjukkan bahwa kesehatan tanaman berkaitan erat dengan komunitas mikroorganisme di sekitar perakaran atau rizosfer. Analisis metagenomik dari Desa Menyabo, Gunam, dan Embala, Kabupaten Sanggau, menemukan perbedaan komunitas jamur pada rizosfer sawit sehat dan sakit, dengan Fusarium memiliki kelimpahan relatif lebih tinggi pada tanaman sakit.
Penelitian juga menemukan kondisi komunitas mikroorganisme yang menarik pada tanaman sehat yang berada dekat rimba alam, termasuk keberadaan Trichoderma virens yang berpotensi sebagai agen biokontrol. Kajian BRIN lainnya terhadap bakteri pengikat nitrogen Azotobacter menunjukkan bahwa rimba dan tembawang memiliki keragaman vegetasi, serasah, karbon organik, kelembapan, dan mikroba tanah yang lebih tinggi.
“Kesehatan tanaman tidak hanya berkaitan dengan tanaman itu sendiri. Di dalam tanah terdapat komunitas mikroorganisme yang memiliki fungsi penting, sementara kondisi lanskap juga memengaruhi lingkungan tempat mikroorganisme tersebut hidup,” ujar Asri.
Temuan ini menunjukkan pentingnya memahami keterkaitan antara lanskap, tanah, mikroorganisme, dan kesehatan tanaman untuk mendukung pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Temuan penelitian tersebut bertemu dengan pengalaman masyarakat yang selama ini mengelola lanskap mereka. Isa Kenedy, perwakilan petani dan Tim Penjaga Hutan Desa Setawar, Kabupaten Sekadau, mengatakan bahwa bagi petani, sawit penting untuk penghidupan, tetapi hutan juga sangat penting untuk menjaga kesuburan kebun dan kehidupan masyarakat. Di tengah tingginya harga sawit, ia mengingatkan adanya risiko hutan adat dan hutan milik masyarakat ikut dibuka untuk perkebunan sawit.
“Kalau hutan habis, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu? Karena itu, masyarakat yang menjaga hutan perlu mendapatkan insentif. Jangan hanya mereka yang membuka hutan yang mendapatkan keuntungan, tetapi mereka yang mempertahankan hutan juga harus mendapatkan manfaat,” kata Isa Kenedy.
Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman BRIN–UNTAN dan penyerahan isolat Azotobacter kepada UNTAN untuk mendukung penelitian dan inovasi lanjutan sesuai kondisi lingkungan setempat.**
Editor : Hanif