Dari Bumi Khatulistiwa, pembicaraan tentang masa depan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tak lagi sebatas soal modal, pasar, atau akses pembiayaan. Ada satu hal yang semakin dianggap menentukan, yakni manusia yang menggerakkan ekosistem tersebut.
SITI SULBIYAH, Pontianak
PESAN itu mengemuka dalam pembukaan Temu Nasional Pendamping (TNP) IV dan International Conference on Cooperatives, MSMEs and Entrepreneurship (ICCME) 2026 di Ruang Teater 1 Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Rabu (12/8).
Pertemuan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari UMKM Nasional itu mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, pendamping koperasi dan UMKM, hingga mitra internasional. Dari Pontianak, mereka membicarakan satu agenda besar, yakni bagaimana membangun ekosistem koperasi dan UMKM yang lebih inklusif, tangguh, dan mampu bersaing.
Baca Juga: Ria Norsan Dorong Hilirisasi Produk Kalbar, UMKM Dibidik Naik Kelas dan Tembus Pasar Nasional
Sesi pembukaan diawali laporan Ketua Steering Committee TNP IV, Muhammad Fahmi. Setelah itu, sambutan bergantian disampaikan sejumlah tokoh, termasuk Ketua Umum DPN ABDSI, Rektor Untan, dan Gubernur Kalimantan Barat.
Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Business Development Services Indonesia (DPN ABDSI) Bahrul Ulum Ilham yang turut hadir dalam kegiatan ini melihat pertemuan tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai kekuatan yang selama ini bekerja dalam ekosistem koperasi dan UMKM.
“Kehadiran para pemimpin dan pemangku kepentingan pada pembukaan ini menunjukkan bahwa penguatan KUMKM bukan agenda satu institusi,” ujar Bahrul Ulum Ilham.
Menurut dia, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, pendamping, dan mitra internasional memiliki peran yang saling melengkapi. Kolaborasi antarpihak menjadi penting agar pelaku koperasi dan UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi perubahan ekonomi.
Baca Juga: Pasar Kakap Kubu Raya Makin Cantik, Taman Baru Jadi Ruang Publik dan Peluang bagi UMKM
Namun, tantangan koperasi hari ini telah berkembang. Persoalannya tidak lagi hanya bagaimana mendapatkan modal atau memperluas pasar.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Destry Anna Sari dalam sambutannya menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi penting transformasi koperasi. Menurutnya, koperasi modern membutuhkan pengurus dan pengelola yang mampu bekerja secara profesional. Begitu pula para pendamping yang berada di lapangan.
“Pergeseran paradigma dari capital intensive menuju talent intensive menjadi fondasi penting bagi transformasi koperasi menjadi badan usaha modern yang profesional dan mampu menghadapi dinamika global,” tegas Destry.
Baca Juga: Mendes: Koperasi Desa Merah Putih Tak Akan Matikan Warung Desa
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa investasi terbesar dalam pengembangan koperasi tidak selalu berbentuk uang. Pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, hingga penguasaan teknologi menjadi modal yang semakin menentukan.
Dalam ekosistem ini, lanjut dia, posisi pendamping menjadi semakin strategis. Pendamping bukan hanya pihak yang membantu menyelesaikan persoalan administratif atau teknis pelaku UMKM. Para pendamping, menurutnya berada di antara kebijakan dan realitas lapangan, menerjemahkan pengetahuan menjadi praktik, sekaligus membuka akses terhadap inovasi, teknologi, pasar, dan jejaring. Karena itu, kualitas pendamping ikut menentukan seberapa jauh koperasi dan UMKM mampu berkembang.
TNP IV menjadi ruang untuk membicarakan persoalan tersebut secara lebih luas. Setelah pembukaan, agenda berlanjut dengan ICCME 2026 yang menghadirkan empat pembicara internasional.
Rangkaian kegiatan TNP IV dan ICCME 2026 telah berlangsung sejak 10 Agustus 2026. Setelah agenda nasional dan internasional di Pontianak, kolaborasi kemudian bergerak melintasi batas negara. Pada 13–15 Agustus 2026, peserta dijadwalkan melanjutkan agenda ke Kuching, Sarawak, Malaysia. (*)
Editor : Hanif