Pulang S-3 dari AS, Kakak Beradik Kembangkan Motor Listrik Lokal dengan TKDN 75 Persen

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:48 WIB
William Ekaputra Taifan, kanan, dan Garry Surya Putra Taifan, kiri, bersama motor S-1P dengan tiga warna yang berbeda di workshop SAVART Motors di Trosobo, Taman, Jumat (14/8).  (JAWA POS)
William Ekaputra Taifan, kanan, dan Garry Surya Putra Taifan, kiri, bersama motor S-1P dengan tiga warna yang berbeda di workshop SAVART Motors di Trosobo, Taman, Jumat (14/8). (JAWA POS)

Dua kakak beradik asal Surabaya, William Ekaputra Taifan, 35, dan Garry Surya Putra Taifan, 32, pulang ke Indonesia dari pendidikan S3 di Amerika Serikat dan mengembangkan motor listrik SAVART Motors dengan berdayakan engineering lokal hingga UMKM di Sidoarjo. Dua motor produknya berhasil raih TKDN tertinggi yaitu sekitar 75 persen. 

AHMAD R. BELANI, Sidoarjo

Ruko sempit menjadi saksi perjuangan dua kakak beradik, William dan Garry, merintis perusahaan motor listrik. Dari ruang sederhana itu, keduanya membangun mimpi menghadirkan motor listrik yang teknologi intinya dikembangkan anak bangsa.

William, pemegang gelar PhD dari Lehigh University dan master dari UC Berkeley, meninggalkan tawaran karier sebagai konsultan engineering di Amerika Serikat untuk membangun ekosistem teknologi di Indonesia. Adiknya, Garry, juga menyandang gelar PhD dari Princeton University.

Baca Juga: Motor Listrik Avore EX2S Cuma Rp29 Jutaan, Top Speed 114 Km/Jam

William mengatakan, ayahnya meminta ia pulang ke Indonesia pada 2018. Didorong rasa nasionalisme dan optimisme terhadap perkembangan industri dalam negeri, ia tertantang membangun sesuatu di Tanah Air. Motor listrik menjadi salah satu pilihannya.

Beberapa tahun kemudian, Garry ikut pulang dan membantu mengembangkan usaha tersebut. “Awalnya kami hanya berdua, dari ruko itu tiap hari kontak supplier, kalau tidak dibalas ya kami diam-diam belajar dari buku tentang sepeda motor listrik dan magnet permanen,” ungkap William.

Pada awalnya, William berniat menggunakan jasa maklon untuk merakit komponen kelistrikan dari Tiongkok berdasarkan desain mereka. Namun, rencana itu urung karena dinilai tidak memberi keunggulan dan kepemilikan kekayaan intelektual. “Kalau begitu, tidak ada diferensiasinya, dan kita tidak punya kepemilikan atas kekayaan intelektual atau intellectual property,” ujarnya.

Keduanya kemudian memutuskan mengembangkan teknologi inti (core technology stack) dari nol. Mulai dari motor listrik, baterai, controller, hingga Battery Management System (BMS) mereka kembangkan sendiri bersama sejumlah kolega.

Baca Juga: 5 Motor Listrik Unik 2026, Ada yang Tembus 260 Km Sekali Cas

Lima tahun riset membuahkan hasil. Motor listrik yang mereka kembangkan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi. Saat didaftarkan ke Kementerian Perindustrian, TKDN seri SRE-1 mencapai 75,03 persen dan S-1P sebesar 74,27 persen. “Angka ini menjadi capaian tertinggi di Indonesia,” katanya.

William mengatakan desain rangka, baterai, hingga sistem penggerak merupakan hasil pengembangan dalam negeri. Garry menambahkan, pencapaian tersebut tidak lepas dari peran para insinyur lokal yang bekerja di pabrik mereka di Mojokerto. “Kami punya pabrik di Mojokerto, pekerjanya semuanya tenaga lokal bahkan untuk engineeringnya,” paparnya.

Alih-alih merekrut tenaga ahli asing, keduanya memilih memberdayakan lulusan perguruan tinggi dalam negeri. Perusahaan menyerap lulusan PENS, ITS, dan kampus lainnya, termasuk para fresh graduate yang kemudian dilatih untuk mengembangkan teknologi dari awal.

Baca Juga: Motor Listrik FTN Streetdog Phantom Edition Cuma 30 Unit Harga Rp115 Jutaan

“Kami mengambil anak-anak fresh graduate, mengajari, dan memampukan mereka. Kita percaya orang Indonesia bisa, dan kita buktikan dengan memberdayakan mereka untuk mendevelop dari nol,” ujarnya.

Rangkul UMKM

Pengembangan motor listrik juga melibatkan pelaku UMKM. William dan Garry mendatangi sejumlah sentra industri kecil, salah satunya Kampung Logam Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Sentra pandai besi tersebut menjadi bagian dari rantai pasok produksi. UMKM lokal mengerjakan sejumlah komponen, seperti standar motor dan bagian kulit jok. “Dari UMKM kami pakai untuk besi seperti standar motor. Kami ajari dan bantu mereka untuk bisa membuat sesuai standar kami,” paparnya.

Pendampingan dilakukan untuk memastikan produk UMKM memenuhi standar otomotif. Bahkan, perusahaan membantu menyediakan bahan baku ketika pelaku usaha kesulitan mendapatkannya.

Baca Juga: Penggunaan QRIS Pontianak Tembus 186.753 Merchant pada 2025, Pemkot Terus Dorong Digitalisasi UMKM

“Kami dampingi betul. Kalau mereka kesulitan mencari supplier bahan baku, kami yang belikan. Kami ajarkan juga standar kualitasnya, misalnya proses mengelas harus penuh dan tidak boleh ada yang keropos,” jelasnya.

Bagi William dan Garry, pengembangan motor listrik bukan hanya soal memproduksi kendaraan. Kehadiran perusahaan juga diharapkan membuka lapangan kerja di sektor teknologi tinggi dan manufaktur, memperkuat kemampuan engineering nasional, serta meningkatkan aktivitas ekonomi daerah.

Keduanya menilai keberadaan perusahaan mereka menjadi bukti bahwa program motor listrik nasional (Molinas) dapat dikembangkan oleh industri dalam negeri dengan penguasaan teknologi sendiri.

Namun, perjuangan tersebut kini menghadapi tantangan masuknya motor listrik impor utuh maupun komponen dari luar negeri. Kondisi itu dinilai mengancam keberlangsungan industri yang berupaya membangun rantai pasok lokal.

Keduanya berharap pemerintah memberi perlindungan dan ruang lebih besar bagi industri dalam negeri. Menurut mereka, program Molinas seharusnya dibangun di atas penguasaan engineering dan kekayaan intelektual nasional, bukan sekadar perakitan komponen impor.

Mereka juga berharap pemerintah daerah hingga pusat mulai menggunakan motor listrik lokal dengan TKDN tinggi sebagai kendaraan operasional. “Jika tujuan kita adalah membangun Molinas yang benar-benar lahir dari kemampuan anak bangsa, maka seluruh kompetensi nasional semestinya diberi ruang untuk berkontribusi dan bersinergi,” ungkapnya. (**)

Editor : Rafael B. Junior
kakak beradik motor listrik Indonesia motor listrik lokal TKDN 75 persen SAVART Motors