12 Jam Berjalan Kaki, Ibu dan Tiga Anak Akhirnya Menemukan Pertolongan di Tayan Hilir

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:41 WIB
Jajaran Polsek Tayan Hilir, Polres Sanggau, membantu seorang ibu bernama Rohaela bersama tiga anaknya yang mengalami kesulitan setelah berada di Kalbar. (Humas Polri)
Jajaran Polsek Tayan Hilir, Polres Sanggau, membantu seorang ibu bernama Rohaela bersama tiga anaknya yang mengalami kesulitan setelah berada di Kalbar. (Humas Polri)

 

PONTIANAK POST – Dua belas jam berjalan kaki menjadi perjalanan panjang bagi Rohaela dan ketiga anaknya.

Dengan bekal yang terbatas, mereka meninggalkan kawasan pedalaman Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Tujuannya hanya satu: menemukan jalan keluar dan kembali ke kampung halaman di Provinsi Lampung.

Perjalanan itu ditempuh setelah harapan yang membawanya bersama anak-anak ke Kalimantan tidak berjalan seperti yang dibayangkan.

Rohaela sebelumnya datang dari Lampung setelah diajak calon suaminya bekerja di Kalimantan. Ia dijanjikan pekerjaan dengan penghasilan besar.

Ada pula janji untuk menikahinya dan menyekolahkan ketiga anaknya setelah mereka tiba di Kalimantan. Namun, kenyataan yang ditemuinya berbeda.

Janji yang Tak Sesuai Kenyataan

Setibanya di Kalimantan Barat, Rohaela justru diminta bekerja sebagai tukang masak di sebuah camp pertambangan emas di kawasan pedalaman Tumbang Titi, Ketapang.

Pekerjaan itu memberinya penghasilan sekitar Rp1,5 juta setiap bulan.

Sementara janji pernikahan tidak kunjung terwujud. Ketiga anaknya pun tidak mendapatkan pendidikan seperti yang sebelumnya dijanjikan.

Rohaela akhirnya bertahan sekitar dua bulan dalam kondisi tersebut. Sampai kemudian ia memutuskan pergi bersama ketiga anaknya.

Tidak banyak yang dapat dibawa. Yang terpenting bagi Rohaela saat itu adalah membawa anak-anaknya keluar dari tempat tersebut.

Mereka berjalan kaki selama sekitar 12 jam. Hingga akhirnya, jalan raya ditemukan.

Berharap Bisa Pulang ke Lampung

Perjalanan belum selesai. Setelah tiba di jalan raya, Rohaela dan ketiga anaknya mendapat tumpangan kendaraan menuju Pontianak.

Di dalam perjalanan, pengemudi mengetahui bahwa Rohaela hanya memiliki uang sekitar Rp400 ribu.

Keterbatasan biaya membuat perjalanan mereka tidak dapat dilanjutkan hingga Pontianak.

Rohaela bersama ketiga anaknya akhirnya diturunkan di kawasan Simpang Ampar, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.

Di tempat yang tidak mereka kenal itu, mereka mencari pertolongan. Langkah mereka kemudian membawa keluarga tersebut ke Polsek Tayan Hilir. Di sana, Rohaela menceritakan apa yang dialaminya kepada personel kepolisian.

Pintu Pertolongan di Polsek Tayan Hilir

Bagi Rohaela, kedatangan ke kantor polisi bukan sekadar mencari tempat untuk berhenti. Ia membutuhkan bantuan agar dapat kembali ke Lampung bersama ketiga anaknya.

Personel Polsek Tayan Hilir kemudian memberikan pendampingan dan memastikan Rohaela bersama anak-anaknya berada dalam kondisi aman.

Kapolsek Tayan Hilir Iptu Dr. Kusdarwanto, S.H., M.H., mengatakan polisi tidak boleh menutup mata ketika masyarakat datang meminta pertolongan dalam kondisi sulit.

“Ketika masyarakat datang meminta pertolongan dalam kondisi sulit, apalagi bersama anak-anak, kami tidak boleh tinggal diam,” ujar Kusdarwanto, Kamis (20/8).

Menurutnya, kepolisian berupaya membantu sesuai kemampuan, termasuk mempersiapkan perjalanan Rohaela dan ketiga anaknya untuk kembali ke daerah asal.

Bagi Kusdarwanto, tindakan tersebut merupakan bagian dari semangat Polres Sanggau Berkarakter HEBAT untuk menghadirkan pelayanan yang humanis, peduli dan bermanfaat.

Tiket Kapal untuk Perjalanan Pulang

Bantuan tidak berhenti pada pendampingan. Polsek Tayan Hilir kemudian membantu membelikan tiket kapal laut bagi Rohaela dan ketiga anaknya.

Dengan tiket tersebut, mereka memiliki jalan untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Lampung. Namun, polisi juga melihat bahwa Rohaela membutuhkan bekal tambahan untuk perjalanan.

Personel Polsek Tayan Hilir kemudian mencarikan pekerjaan sementara bagi Rohaela di sebuah rumah makan milik warga. Selama empat hari, Rohaela bekerja untuk memperoleh tambahan uang saku.

Uang tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan selama perjalanan bersama ketiga anaknya.

Ketika Polisi Hadir Bukan Hanya untuk Penegakan Hukum

Kisah Rohaela dan ketiga anaknya memperlihatkan sisi lain tugas kepolisian. Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, polisi juga berhadapan dengan warga yang datang bukan karena persoalan hukum.

Mereka datang karena membutuhkan pertolongan. Di Polsek Tayan Hilir, persoalan Rohaela tidak berhenti sebagai sebuah cerita yang disampaikan kepada petugas.

Personel kepolisian mencoba mencari jalan agar seorang ibu dan tiga anak tersebut dapat kembali ke rumah. Tiket kapal disiapkan. 

Pekerjaan sementara dicarikan. Pendampingan diberikan. Semua dilakukan agar perjalanan mereka menuju Lampung memiliki kepastian.

Bagi Polsek Tayan Hilir, tindakan tersebut merupakan bagian dari semangat Polisi Penolong.

Sebuah pendekatan yang menempatkan kepolisian tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai tempat masyarakat mendapatkan pertolongan ketika berada dalam situasi sulit.

Perjalanan Rohaela dan ketiga anaknya memang belum selesai ketika mereka tiba di Simpang Ampar. Namun, di tempat itu mereka menemukan sesuatu yang sebelumnya mereka cari sepanjang perjalanan: pertolongan.

Dan dari sebuah kantor polisi di Tayan Hilir, jalan pulang menuju Lampung kembali terbuka.*

Editor : Uray Ronald
Polsek Tayan Hilir kisah ibu tiga anak pulang Lampung Polisi Penolong Sanggau bantuan Polsek Tayan Hilir