Pakar IT Hajon Mahdy menghibahkan aplikasi deteksi dini karhutla kepada PMI Kalbar untuk memetakan risiko, membaca kondisi gambut, dan menentukan prioritas mitigasi sebelum api meluas.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
ANCAMAN kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mendorong penguatan pencegahan berbasis teknologi. Palang Merah Indonesia (PMI) Kalbar menerima hibah aplikasi deteksi dini karhutla yang dikembangkan praktisi teknologi informasi nasional asal Pontianak, Hajon Mahdy.
Berdasarkan data BPBD Kalbar, luas lahan terbakar mencapai 38.310,86 hektare sejak Januari hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan sistem yang dapat membantu membaca risiko sebelum api meluas.
Baca Juga: Kualitas Udara Memburuk Imbas Karhutla, Pemkot Singkawang Bagikan 3.300 Masker
Aplikasi yang diserahkan secara gratis itu dirancang untuk memetakan wilayah rawan, memantau kondisi gambut, dan membantu menentukan prioritas mitigasi. Dengan demikian, pencegahan diharapkan tidak hanya mengandalkan respons setelah api muncul, tetapi dimulai dari pemetaan risiko.
Aplikasi tersebut diserahkan dalam diskusi strategis bertajuk “Membaca Potensi Karhutla, Memetakan Wilayah Berisiko, Kondisi Gambut hingga Membantu Prioritas Mitigasi Bencana melalui Sistem Informasi” di Markas PMI Provinsi Kalbar, Rabu (26/8/2026).
Hajon mengatakan aplikasi dikembangkan khusus untuk mendukung penanggulangan karhutla di Kalbar. “Melalui teknologi deteksi dini ini, diharapkan proses pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di wilayah Kalbar dapat berjalan lebih maksimal dan terukur,” ujarnya.
Teknologi untuk Kesiapsiagaan
Sistem tersebut dirancang untuk memberikan gambaran awal mengenai potensi karhutla dan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih cepat. Informasi itu dapat menjadi dasar bagi pemangku kepentingan untuk menentukan langkah pencegahan, seperti patroli, pembasahan gambut, penyiapan personel, hingga penentuan lokasi prioritas.
Baca Juga: 700 Personel Kemenhut Dikerahkan ke Kalbar Hadapi Karhutla, Antisipasi Dilakukan Sejak Maret 2026
Kebutuhan tersebut semakin penting di kawasan gambut. Ketika gambut mengering, risiko kebakaran meningkat dan api dapat menyebar di bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan. Namun, teknologi tidak dapat bekerja sendiri. Akurasi sistem sangat bergantung pada ketersediaan dan pembaruan data dari berbagai instansi.
Diskusi yang difasilitasi PMI Kalbar mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Balai Pengelola Ekosistem Gambut dan Mangrove Kementerian Lingkungan Hidup, Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Kementerian Pekerjaan Umum, Pemprov Kalbar, Bank Indonesia, dan Bank Kalbar.
Pertemuan membahas kebutuhan pemetaan risiko, kondisi gambut, serta integrasi data untuk memperkuat mitigasi karhutla. PMI Kalbar berharap dukungan lintas instansi dapat memperkaya data yang digunakan sistem. Dengan data yang terhubung dan diperbarui, pemetaan wilayah rawan serta penentuan prioritas penanganan diharapkan lebih akurat.
Aplikasi tersebut dirancang untuk membaca potensi karhutla, memetakan wilayah berisiko, melihat kondisi gambut, dan membantu menentukan prioritas mitigasi. Namun, jenis dan sumber data yang telah terintegrasi dalam aplikasi belum dijelaskan secara terbuka. Karena itu, penguatan kolaborasi dan integrasi data menjadi tantangan berikutnya.
Baca Juga: Kemarau dan Kabut Asap, Umat Islam Kalbar Diajak Salat Istisqa 29 Agustus
Dari Data Menjadi Tindakan
Deteksi dini tidak cukup hanya menghasilkan informasi. Data harus diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan. Wilayah yang teridentifikasi rawan, misalnya, perlu segera diikuti patroli, pengelolaan tata air, pembasahan gambut, atau pengerahan sumber daya sesuai tingkat risikonya.
Urgensinya terlihat dari kondisi karhutla Kalbar. BPBD mencatat luas lahan terbakar mencapai 38.310,86 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Di Kabupaten Kubu Raya, titik panas sempat mencapai sekitar 214 titik sebelum turun menjadi 63 titik pada 24 Agustus. Penurunan tersebut belum menghilangkan ancaman kebakaran.
BMKG juga mengingatkan risiko karhutla masih perlu diwaspadai di tengah kondisi kemarau dan pengaruh El Niño. Hibah aplikasi kepada PMI Kalbar menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi untuk memperkuat mitigasi. Tantangan selanjutnya memastikan sistem memiliki data yang memadai, diperbarui secara berkala, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebab, dalam menghadapi karhutla, kecepatan membaca risiko harus diikuti kecepatan bertindak. (**)
Editor : Rafael B. Junior