Memasuki tahun ketujuh, Festival Film Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Barat terus menjadi ruang bagi generasi muda menuangkan gagasan. Dari isu AI hingga karhutla, film menjadi medium untuk mengasah kreativitas, berpikir kritis, sekaligus membaca perubahan zaman.
DENI HAMDANI, Pontianak
DARI sebuah gagasan yang dituangkan ke dalam gambar, cerita anak muda Kalimantan Barat kembali menemukan ruang untuk berbicara. Melalui layar film, pelajar dan mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar melihat persoalan di sekeliling mereka dan mengubahnya menjadi karya.
Ruang itu hadir melalui Festival Film Pelajar dan Mahasiswa (FFPM) Kalimantan Barat yang kembali digelar pada 2026. Memasuki tahun ketujuh, festival tersebut terus dipertahankan sebagai wadah kreativitas sekaligus tempat generasi muda mengasah keberanian menyampaikan gagasan melalui karya visual.
Baca Juga: Enam Film Indonesia Lolos Seleksi Resmi Bucheon International Fantastic Film Festival 2026
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Rizal, melihat konsistensi FFPM sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Sebab, tidak sedikit kegiatan kreatif yang hanya bertahan beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
“Saya apresiasi buat Pak Zulfydar Zaidar Mochtar yang bersama-sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Barat yang sudah efektif kayaknya enam kali pelaksanaannya di Kota Pontianak bersama-sama kami. Di tahun ketujuh ini kita lihat terus berlanjut,” ujar Rizal.
Bagi Pemerintah Kota Pontianak, keberlanjutan festival menjadi peluang untuk membangun kolaborasi baru. Meski penyelenggaraan FFPM kini berada dalam ranah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, pemerintah kota tetap membuka ruang dukungan.
Karya yang lahir dari festival, menurut Rizal, tidak harus berhenti setelah kompetisi selesai. Film-film tersebut dapat dikembangkan menjadi materi edukasi ataupun produk kreatif yang mengangkat persoalan masyarakat.
Baca Juga: Karhutla di Ketapang, KLH/BPLH Segel Lahan PT Sinar Karya Mandiri 1.500 Hektare
“Kita support di kegiatan di provinsinya. Mungkin nanti ada kegiatan-kegiatan hasil dari Festival Film Pelajar dan Mahasiswa ke-7 ini, ada yang bisa kita soundingkan, kita akan lakukan kerja sama berikutnya dalam teknis yang berbeda,” katanya.
Bagi peserta, membuat film bukan sekadar urusan kamera, pemeran, atau penyutradaraan. Di dalam prosesnya ada gagasan yang harus dirancang, cerita yang perlu disusun, kemudian diterjemahkan menjadi gambar yang dapat dinikmati orang lain.
Anggota DPRD Kalimantan Barat dari daerah pemilihan Kota Pontianak, Zulfydar Zaidar Mochtar, mengatakan FFPM sejak awal dirancang untuk memberikan ruang kepada pelajar dan mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus berkreasi.
Baca Juga: WHW Bantu BPBD Ketapang Tangani Karhutla, Kerahkan Damkar hingga Ekskavator ke Lokasi Kebakaran
“Kita ingin adik-adik kita, anak-anak kita cerdas dalam mengembangkan pikiran dan visionernya. Jadi berikan ruang kepada mereka dalam memfasilitasi kemampuan untuk membuat film,” kata Ketua Fraksi PAN DPRD Kalbar tersebut.
Menurut Zulfydar, kemampuan membuat film tidak harus berujung pada profesi sebagai sutradara atau aktor. Lebih jauh, proses kreatif dalam produksi film melatih anak muda mengubah sesuatu yang semula hanya ada dalam pikiran menjadi karya yang nyata.
“Yang tidak ada menjadi ada. Sesuatu yang baru ditulis lalu dibuatkan dengan gambar visual. Sesuatu yang menjadi keinginan yang tidak ada menjadi nyata. Dan dia bisa merencanakan dan menjadikan nyata,” ujarnya.
Layar FFPM tahun ketujuh tidak hanya menjadi tempat menampilkan cerita fiksi. Berbagai persoalan yang sedang hidup di tengah masyarakat juga mendapatkan ruang.
Baca Juga: Siswa SMAN 3 Singkawang Wakili Kalbar di Lomba Baris-Berbaris Nasional Jakarta
Salah satunya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi yang berkembang begitu cepat itu membawa peluang sekaligus dilema bagi generasi muda. Karena itu, AI menjadi salah satu isu yang dapat dieksplorasi peserta melalui karya mereka.
Persoalan lingkungan juga mendapat perhatian. Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang berulang di Kalimantan Barat menjadi salah satu isu yang diangkat dalam festival.
Bagi Zulfydar, persoalan di sekitar anak muda semestinya tidak hanya dilihat, tetapi juga dipikirkan dan diceritakan. Film dapat menjadi medium untuk menyampaikan kritik, kegelisahan, pandangan, bahkan gagasan mengenai solusi.
“Kita ingin apa yang terjadi di lingkungan itu menjadi pemikiran atau kritis buat DPRD, pemerintah sebagai bagian pemerintah. Hal-hal yang mereka ceritakan ini menjadi sesuatu. Tidak semuanya negatif, tentu ada juga yang positif,” katanya.
Optimisme terhadap penyelenggaraan tahun ketujuh juga terlihat dari perkiraan jumlah karya yang masuk. Jika pada tahun-tahun sebelumnya sekitar 40 hingga 50 film diproduksi peserta, tahun ini jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 70 hingga 100 film.
“Kalau dulu rata-rata 40 film, 50 film. Saya perkirakan bisa 70-100 film tahun ini,” ujar Zulfydar.(*)
Editor : Hanif