Air laut yang asin dapat disulap menjadi air tawar, bahkan air minum. Melalui teknologi desalinasi, kandungan garam dan zat terlarut dalam air laut dipisahkan sehingga menghasilkan air dengan tingkat kemurnian tinggi. Teknologi inilah yang tengah tengah dikembangkan dan dikaji oleh Jurusan Teknik Kelautan Universitas Tanjungpura.
SITI SULBIYAH, Pontianak
KETIKA musim kemarau datang seperti saat ini, kualitas dan ketersediaan air baku menjadi persoalan. Sungai yang selama ini menjadi tumpuan dapat mengalami penurunan debit hingga menghadapi ancaman pencemaran. Di tengah tantangan itu, air laut justru menawarkan potensi yang nyaris tak terbatas.
Namun, dengan teknologi desalinasi, air laut dapat diolah menjadi air tawar berkualitas tinggi, bahkan berpotensi menjadi sumber air minum bagi masyarakat perkotaan. Teknologi inilah yang tengah dikembangkan dan dikaji sebagai salah satu alternatif menjawab kebutuhan air bersih di masa depan.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Red Mud Bauksit Jadi Mineral Bernilai Tinggi
Ketua Jurusan Teknik Kelautan Universitas Tanjungpura, Meddy Danial, menjelaskan bahwa proses desalinasi memanfaatkan teknologi Reverse Osmosis (RO).
"Prinsipnya adalah bagaimana air laut yang memiliki kadar garam tinggi kita tekan menggunakan pompa bertekanan tinggi, kemudian dilewatkan melalui membran RO. Garam dan zat-zat terlarut akan tertahan, sementara airnya dapat melewati membran.” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa air laut memiliki tekanan osmosis yang tinggi. Oleh karena itu, maka sistem membutuhkan high-pressure pump untuk memberikan tekanan yang cukup agar molekul air dapat menembus membran RO. Air laut dengan kadar Total Dissolved Solids atau TDS sekitar 10.000 ppm dapat ditekan hingga berada di kisaran 10 hingga 50 ppm setelah melalui proses pemurnian.
Namun, proses ini bukan sekadar mengurangi rasa asin. Teknologi ini juga mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: BRIN Dorong Teknologi untuk Hadapi Ancaman Krisis Air
“Jadi yang kita hasilkan bukan hanya air tawar, tetapi air dengan kualitas yang sangat baik. Namun setelah proses RO, tetap harus ada tahap pengamanan atau sterilisasi agar air benar-benar memenuhi persyaratan sebagai air minum.” terang Meddy.
Untuk memastikan keamanan air, ia menyebut hasil pemurnian kemudian dapat melewati proses sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet atau UV. Teknologi ini berfungsi menonaktifkan mikroorganisme, termasuk bakteri seperti Escherichia coli (E coli)
Selain itu, pengujian laboratorium juga menjadi bagian penting untuk memastikan air hasil pengolahan memenuhi standar kualitas air minum.
Baca Juga: YBM PLN Salurkan 64 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga di 10 Lokasi Kalbar
Lebih jauh ia menjelaskan, proses desalinasi tidak harus bergantung pada penggunaan bahan kimia dalam proses utama. Pengolahan dilakukan melalui tahapan fisik, mulai dari pre-treatment, filtrasi, hingga proses pemisahan menggunakan membran RO.
Namun, teknologi ini bukan tanpa tantangan. Ia menyebut bahwa kebutuhan energi dan biaya operasional, terutama untuk menjalankan pompa bertekanan tinggi, menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan. Karena itu, pengembangan teknologi desalinasi juga perlu dibarengi dengan inovasi sumber energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
"Desalinasi ini sebenarnya bukan teknologi baru. Tetapi ke depan, teknologi ini sangat mungkin menjadi salah satu alternatif sumber air baku. Apalagi kita memiliki sumber daya air laut yang sangat besar,” jelasnya.
Bagi Kota Pontianak, teknologi ini menjadi semakin menarik karena berada di kawasan yang memiliki akses terhadap sumber daya air yang melimpah. Selama ini, Sungai Kapuas menjadi salah satu sumber air baku utama. Namun kualitas air sungai tetap harus dipantau, terutama terhadap kemungkinan pencemaran logam berat maupun zat pencemar lainnya.
Jika ditemukan kandungan seperti merkuri, kata dia, maka diperlukan proses pengolahan khusus sebelum air masuk ke tahap RO. Sebaliknya, apabila kualitas air baku masih memenuhi persyaratan, proses pengolahan dapat dilakukan dengan sistem yang lebih sederhana dan efisien.
“Yang paling penting adalah kita harus mengetahui dulu karakteristik air bakunya. Jadi sebelum menentukan teknologinya, air harus diuji. Dari hasil pengujian itu baru kita bisa menentukan treatment yang paling tepat dan ekonomis,” paparnya.
Ia menilai teknologi desalinasi pun membuka peluang baru bagi masa depan penyediaan air bersih. Apalagi jika dipadukan dengan energi terbarukan seperti tenaga surya. Matahari yang bersinar hampir sepanjang tahun dan laut yang membentang luas menjadi dua sumber daya alam yang dapat dikolaborasikan untuk menghasilkan air bersih.
“Cepat atau lambat, kita membutuhkan teknologi desalinasi. Kita punya sumber daya alam yang luar biasa, ada matahari dan ada air laut. Tinggal bagaimana teknologi ini kita kembangkan supaya lebih efisien, ekonomis, dan bisa dimanfaatkan masyarakat.” pungkasnya.(*)
Editor : Hanif