Hanif menjadi komika asal Pontianak pertama yang tampil di Jambore Standup Indo 2026. Membawa nama kota dan Kalbar, ia membuktikan komika daerah punya ruang untuk tumbuh, bersaing, dan menyalakan tawa di panggung nasional.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
LAMPU panggung menyala. Sorot mata penonton mengarah ke satu sosok yang membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar materi lawakan. Di balik penampilannya, ada nama Pontianak yang ikut berdiri di atas panggung nasional.
Sosok itu adalah Hanif, komika asal Kota Pontianak yang mencatat perjalanan baru bagi komunitas stand up comedy di daerahnya. Dalam Jambore Standup Indo 2026, ia menjadi komika asal Pontianak pertama yang tampil di ajang yang mempertemukan komika dan komunitas Standup Indo dari berbagai penjuru Indonesia.
Hanif tampil pada hari pertama jambore, Jumat (4/9/2026). Bagi dirinya, momen tersebut bukan sekadar kesempatan tampil di depan penonton dari berbagai daerah. Ada kebanggaan tersendiri ketika bendera Standup Indo Pontianak ikut dibawa ke panggung tersebut.
“Setelah tampil, selain aku merasa senang bisa bawa nama Pontianak, aku juga merasa yakin bahwa Standup di Pontianak mampu untuk bersaing di panggung-panggung besar nasional seperti Jambore ini,” kata Hanif, Senin (7/9).
Perjalanan menuju panggung itu menjadi semacam pembuktian bahwa jarak geografis bukan alasan bagi komika daerah untuk berhenti bermimpi. Dari kota di tepian Sungai Kapuas, Hanif membawa cerita dan keberanian untuk berdiri sejajar dengan komika dari berbagai daerah.
Jambore Standup Indo 2026 digelar selama dua hari, 4–5 September 2026. Ajang tersebut menjadi ruang pertemuan bagi komunitas, komika, sekaligus talenta-talenta yang selama ini tumbuh dari panggung-panggung kecil di berbagai kota.
Bagi Hanif, panggung nasional itu justru diharapkan menjadi awal, bukan akhir. Ia ingin pengalaman tersebut membuka pintu lebih lebar bagi komika lain dari Pontianak dan Kalimantan Barat.
“Harapannya setelah ini semakin banyak komika dari Pontianak yang bisa tampil di panggung nasional. Jadi bukan hanya aku, tapi teman-teman komika lainnya juga bisa punya kesempatan untuk membawa nama Pontianak dan Kalbar lebih luas lagi,” harapnya.
Harapan itu tumbuh seiring geliat stand up comedy di Pontianak yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Panggung-panggung komunitas terus bermunculan. Komika baru datang mencoba peruntungan, sementara mereka yang lebih dulu terjun terus mengasah kemampuan.
Salah satu ruang tumbuh tersebut adalah open mic yang rutin digelar Standup Indo Pontianak setiap pekan. Di sana, tawa bukan sekadar hiburan. Ia menjadi latihan keberanian, tempat menguji materi, sekaligus ruang bagi komika untuk menemukan karakter dan suaranya sendiri.
Kehadiran komika nasional dalam berbagai kegiatan di Pontianak juga ikut memperluas pengalaman para pelaku stand up comedy lokal. Mereka tidak hanya belajar membuat penonton tertawa, tetapi juga memahami bagaimana sebuah materi dibangun, disampaikan, dan dipertanggungjawabkan di atas panggung.
Hanif kini telah melewati satu pintu yang sebelumnya belum pernah dibuka oleh komika asal Pontianak. Namun, pencapaian itu tidak berhenti sebagai catatan pribadi.
Di balik satu penampilan, ada harapan agar semakin banyak nama dari Pontianak yang kelak berdiri di bawah sorot lampu panggung nasional. Bukan hanya untuk mengejar tawa, tetapi membawa cerita tentang kota dan daerahnya ke hadapan Indonesia.
Sebab terkadang, sebuah panggung besar memang dimulai dari panggung kecil. Dan bagi Hanif, langkah itu kini telah membawa Pontianak ikut tertawa bersama Indonesia. (*)
Editor : Hanif