Petani Kubu Raya Diajak Cerdas Iklim, Menjaga Lahan Tanpa Bakar demi Cegah Karhutla Berulang

Siti Sulbiyah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:56 WIB
Dosen Untan, Emi Roslinda saat memberikan paparan terkait pertanian cerdas iklim kepada warga Desa Retok, Kabupaten Kubu Raya.  (DOK. EMI ROSLINDA)
Dosen Untan, Emi Roslinda saat memberikan paparan terkait pertanian cerdas iklim kepada warga Desa Retok, Kabupaten Kubu Raya. (DOK. EMI ROSLINDA)

Musim kemarau tak hanya membuat tanah mengering. Di Desa Retok, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, kemarau juga membawa kekhawatiran, yakni api yang mudah menjalar di lahan dan asap yang kembali memenuhi udara. Upaya pun dilakukan dengan mengedukasi warga lewat pertanian tanpa bakar.

SITI SULBIYAH, Kuala Mandor B

UPAYA tersebut dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan. Misi yang mereka bawa adalah dengan mengenalkan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim kepada warga desa yang bermukim berdampingan dengan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Untan. 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat ini diketuai oleh Emi Roslinda dan tim dosen lainnya dan mahasiswa. Sosialisasi yang diikuti oleh 20 perempuan anggota kelompok tani itu dilaksanakan di tengah situasi Kalbar yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, pada 5 September 2026 yang lalu.

Baca Juga: ‎Cegah Karhutla dari Hulu, Norsan Siapkan Skema Bantuan Alat Berat untuk Petani Buka Lahan

Data resmi pemerintah menyebut lahan yang terbakar di Kalimantan Barat sepanjang Januari - Agustus 2026 mencapai 38.310 hektare. “Kabupaten Kubu Raya sendiri, tempat Desa Retok berada, turut menyumbang 8.614 hektare lahan yang terbakar,” ujar Emi Roslinda. 

Asap yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga menurunkan jarak pandang, mengganggu aktivitas sekolah, dan menghambat kegiatan warga sehari-hari.

Dalam paparannya, tim pengabdian menjelaskan tiga faktor utama yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan terus berulang di wilayah ini. Pertama, ada kebiasaan membuka lahan dengan membakar karena dianggap lebih murah dan lebih cepat.  Kedua, lahan gambut kehilangan kemampuan menyimpan air sehingga menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar saat kering. Ketiga, musim kemarau yang semakin panjang dan ekstrem membuat lahan dan vegetasi semakin rentan terbakar.

“Dari akar masalah itulah pendekatan CSA ditawarkan sebagai jalan keluar. CSA merupakan cara bertani yang tetap produktif, tahan terhadap perubahan iklim, dan tidak mengandalkan pembakaran lahan,” jelasnya.

Baca Juga: ‎Cegah Karhutla dari Hulu, Norsan Siapkan Skema Bantuan Alat Berat untuk Petani Buka Lahan

Materi yang disampaikan tim dosen kehutanan menguraikan tiga pilar utama CSA, yaitu produktivitas, adaptasi, dan mitigasi. Produktivitas menyangkut hasil panen agar tetap tinggi dan stabil meski cuaca tidak menentu. Adapun adaptasi dilakukan agar lahan dan tanaman lebih tahan terhadap kekeringan dan cuaca ekstrem. Sedangkan serta mitigasi yakni bagaimana emisi karbon rendah tanpa asap dan tanpa membakar lahan.

Ketiga pilar tersebut diterjemahkan menjadi tiga praktik yang dapat langsung diterapkan oleh warga. Pertama, pembukaan dan pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB), yakni membersihkan lahan dengan cara tebas-tumpuk atau mekanis, lalu mengolah sisa tanaman menjadi kompos atau mulsa untuk menyuburkan tanah. Cara ini memang membutuhkan sedikit lebih banyak tenaga di awal, namun tetap menjaga kesuburan tanah untuk musim tanam berikutnya dan sesuai dengan aturan pemerintah.

Kedua, wanatani atau agroforestri dengan memadukan pohon buah maupun kayu bersama tanaman pangan, pola yang sebenarnya sudah dikenal masyarakat Kalimantan Barat lewat tradisi tembawang. Akar pohon membantu menahan air dan menjaga kelembapan lahan saat kemarau, sekaligus memberi manfaat ganda: hasil panen harian dan tabungan jangka panjang dari kayu atau buah.

Baca Juga: Hotspot Kalbar Turun Jadi 12 Titik, Hujan OMC Bantu Basahi Lahan

Ketiga, menjaga tata air di lahan gambut melalui pembuatan sekat kanal atau embung kecil. Lahan yang tetap basah jauh lebih sulit terbakar dibandingkan dengan lahan kering, sekaligus berfungsi menampung cadangan air hujan untuk musim kemarau panjang.

Sebagai langkah awal, warga didorong memulai dari hal sederhana, yakni mencoba praktik CSA di petak lahan kecil terlebih dahulu. Mereka juga didorong untuk  membuat kompos sendiri dari sisa panen dan dedaunan, menanam pohon di pematang lahan, hingga bergabung dengan kelompok tani agar bisa belajar dan didampingi bersama tim Universitas Tanjungpura secara berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat dari sesi diskusi interaktif yang berlangsung cukup hidup.. Tim pengabdian menyambut baik antusiasme tersebut dan menjadikannya modal awal untuk menyusun rencana pendampingan lanjutan yang lebih spesifik, sesuai dengan kondisi lahan di Desa Retok.

Kegiatan yang mengusung tema "Pertanian Cerdas Iklim untuk Desa Retok yang Lebih Tangguh dan Bebas Asap" ini menjadi bagian dari upaya Fakultas Kehutanan Untan untuk mendekatkan hasil riset kehutanan kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan yang dikelolanya. 

“Desa Retok dipandang strategis karena letaknya yang berdampingan dengan KHDTK Untan, sehingga perubahan pola bertani warga di desa ini turut memengaruhi kelestarian kawasan hutan tersebut,” terang Emi.(*)

Editor : Rafael B. Junior
Karhutla Kubu Raya Pertanian Tanpa Bakar Climate Smart Agriculture untan Desa Retok