Enam orangutan terjebak di perkebunan warga setelah karhutla menghanguskan jalur menuju hutan. Dua induk memeluk bayi mereka saat api berkobar hanya 200 meter dari lokasi.
RAMSES TOBING, Kayong Utara
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) memutus jalan pulang enam orangutan ke habitatnya di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Terjebak di perkebunan warga dengan kobaran api berjarak sekitar 200 meter, dua induk bersama bayinya dan dua orangutan remaja harus dievakuasi.
Penyelamatan dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dalam dua operasi pada 4 dan 8 September 2026.
Baca Juga: 21 Orangutan Terserang Gejala ISPA, Gibran Tinjau Langsung Perawatan Satwa di Nyaru Menteng
Keenam orangutan itu terdiri atas Mama Nopi dan anaknya, Nopi; Mama Noni dan anaknya, Noni; serta dua orangutan remaja bernama Naufal dan Nopan. Dengan penyelamatan tersebut, BKSDA Kalbar dan YIARI telah mengevakuasi 15 orangutan akibat karhutla dalam sebulan terakhir.
Kebakaran memutus akses dari perkebunan menuju blok hutan yang tersisa. Tanpa jalur aman, orangutan berpindah dari satu kebun ke kebun lain untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Pergerakan itu meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan, ancaman karhutla tidak hanya muncul ketika api mendekati satwa. “Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di perkebunan dan berpindah untuk mencari makanan dan tempat berlindung,” ujarnya.
Baca Juga: Karhutla Ketapang Ancam Habitat Orangutan, Sembilan Satwa Diselamatkan dalam Sebulan
Dua Kali Dievakuasi
Keberadaan orangutan diketahui melalui patroli BKSDA Kalbar dan YIARI yang dimulai pada 1 September. Pada operasi pertama, 4 September, tim mengevakuasi Naufal, Nopan, Mama Nopi, dan Nopi. Laporan berikutnya diterima pada 7 September. Sehari kemudian, Mama Noni dan bayinya berhasil diselamatkan.
Tim medis menggunakan obat bius dengan dosis terukur agar evakuasi berlangsung aman. Pemeriksaan menunjukkan Naufal, Mama Nopi, dan Nopi dalam kondisi baik. Perhatian khusus diberikan kepada Nopan karena suhu tubuhnya mencapai 40 derajat Celsius. Ia mendapat cairan infus hingga suhu tubuhnya kembali normal.
Mama Noni juga mengalami peningkatan suhu tubuh hingga 39,4 derajat Celsius dan bernapas cepat. Tim medis memberikan infus, oksigen, dan kompres. Bayinya yang diperkirakan berusia satu hingga dua bulan masih menyusu dan sepenuhnya bergantung pada induknya.
Baca Juga: Karhutla Ketapang Hanguskan Hutan, 3 Orangutan Dievakuasi
Keenam orangutan kemudian dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Mereka baru dapat dikembalikan ke alam setelah karhutla mereda dan habitat dinyatakan aman.
Kepala BKSDA Kalbar Murlan Dameria Pane mengatakan, kebakaran mengganggu sumber pakan dan ruang jelajah satwa. Laporan masyarakat diperlukan agar satwa terdampak segera ditangani. “Peran masyarakat dalam mendeteksi dan melaporkan satwa terdampak menjadi bagian penting dari penanggulangan kebakaran hutan,” ujarnya.
Masyarakat diminta segera menghubungi BKSDA Kalbar jika menemukan satwa terdampak karhutla. Warga juga diimbau tidak menangkap, mengusir, atau melukai orangutan yang masuk ke kebun maupun permukiman.
Puluhan Orangutan Sesak
Dampak kabut asap juga dirasakan orangutan di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Hingga Minggu (6/9), sebanyak 21 orangutan menunjukkan gejala gangguan pernapasan berupa batuk, bersin, dan keluarnya cairan dari hidung.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau pusat rehabilitasi yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tersebut. Ia melihat proses nebulisasi terhadap orangutan yang mengalami gangguan pernapasan serta menyerahkan obat-obatan dan alat nebulizer. “Penanganan karhutla harus menyeluruh. Manusia harus terlindungi, tetapi satwa dan habitatnya juga tidak boleh diabaikan,” katanya.
Gibran menegaskan, perawatan satwa harus diikuti pemulihan habitat, sumber pakan, air, dan ekosistemnya. “Perlindungan satwa dan pemulihan lingkungan merupakan hal penting yang saling terkait,” ujarnya. (**)
Editor : Rafael B. Junior