Ongkos Tambang Beralih dari Uang Tunai ke Layar Ponsel: Kode QR di Antara Riak Sungai Kapuas

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:55 WIB
Para penambang memperlihatkan kode QRIS yang digunakan penumpang untuk membayar ongkos penyeberangan secara nontunai. (RAMSES/PONTIANAK POST)
Para penambang memperlihatkan kode QRIS yang digunakan penumpang untuk membayar ongkos penyeberangan secara nontunai. (RAMSES/PONTIANAK POST)

Ongkos penyeberangan mulai dibayar melalui layar ponsel. Di tengah arus digitalisasi, uang tunai tetap bertahan di sampan-sampan Sungai Kapuas.

RAMSES L. TOBING, Pontianak

DERU mesin memecah kabut asap yang menggantung di atas Sungai Kapuas sejak periode Karhutla beberapa bulan terakhir ini. Sebuah perahu meninggalkan dermaga di Jalan Bardan Nadi atau lebih dikenal sebagai belakang BCA, membawa penumpang menuju Pasar Siantan.

Di dermaga seberang, enam hingga tujuh perahu menunggu giliran. Para penambang berteduh di bangunan biru berukuran sekitar 2 x 2 meter. Mereka bersenda gurau sambil menanti penumpang. Begitu giliran tiba, tali tambatan dilepas dan mesin dinyalakan. Penumpang duduk saling berhadapan. Di belakang buritan, riak air melebar sebelum kembali menyatu dengan arus Kapuas.

Jumat, 4 September 2026, penyeberangan tidak seramai biasanya. Bagi para penambang, Jumat memang cenderung lebih sepi dibandingkan Senin hingga Kamis. Namun, perahu tetap bergerak dari satu tepian ke tepian lainnya.

Di tengah rutinitas yang telah berlangsung puluhan tahun, muncul cara baru membayar ongkos. Sebagian penumpang kini tidak lagi menyerahkan uang tunai, tetapi memindai kode QRIS melalui ponsel.

Kode pembayaran itu digantungkan di leher atau tas penambang. Bentuknya kecil, tetapi menandai perubahan besar: transaksi digital telah sampai ke perahu-perahu penyeberangan Sungai Kapuas. 

Yusuf, 45, termasuk penambang yang selalu membawa kode QRIS saat bekerja. Warga Gang Mawar, Jalan Parwasal Dalam, Pontianak Utara, itu telah menjadi penambang sejak 2002. 

“Sudah lama tahu QRIS. Sebelumnya juga ada pembayaran menggunakan e-wallet, tetapi yang benar-benar menggunakan QRIS baru dua bulan terakhir,” tuturnya. 

Yusuf bekerja sejak pagi hingga siang, terkadang sampai sore. Dalam sehari, ia bisa tujuh kali bolak-balik menyeberangi Sungai Kapuas. 

“Kalau sudah waktunya jalan, berapa pun penumpangnya, perahu tetap berangkat,” ujarnya.

Tarif penyeberangan Rp3.000 per orang. Satu perahu dapat memuat 12 penumpang sehingga pendapatan sekali jalan berkisar Rp30.000–Rp36.000. Sepeda motor beserta pengendaranya dikenai tarif Rp50.000.

Untuk transaksi kecil, sebagian besar penumpang masih memilih uang tunai. Namun, ada pula yang tetap menggunakan QRIS meski ongkosnya hanya Rp3.000. 

“Tinggal pindai, masukkan nominal, lalu selesai. Tetapi pembayaran tunai masih lebih banyak karena nilainya kecil,” kata Yusuf.

Uang tunai juga belum hilang dari kehidupan sehari-harinya. Penghasilan yang diterima melalui QRIS tetap ditarik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk memperkenalkan pembayaran nontunai, Yusuf menggantungkan kode QRIS pada tas di lehernya agar mudah terlihat. Ketika penumpang ingin membayar secara digital, ia tinggal menunjukkan kode tersebut.

Pegawai Bank Kalbar KCU Pontianak, Angga Sofiana Putra mengatakan, pengenalan QRIS kepada penambang dilakukan melalui tokoh kunci di kelompok mereka. 

“Kepada aktor kunci ini kami sampaikan manfaat QRIS,” katanya.

Setelah dua kali pertemuan, para penambang mulai menggunakannya. Sebanyak 14 penambang di jalur Bardan–Siantan telah dibuatkan rekening dan kode QRIS oleh Bank Kalbar. Nilai transaksi mereka mencapai Rp1,4 juta hingga Agustus 2026.

Penambang lainnya, Suparman, 46, mulai mencari nafkah di Sungai Kapuas sejak 2000. Ia menjelaskan, para penambang bekerja secara bergiliran. Jika bekerja hari ini, mereka libur keesokan harinya. Giliran membawa penumpang juga diatur bersama. Setelah satu perahu berangkat, penambang berikutnya menunggu urutan selanjutnya. 

“Jadi, diatur sama-sama,” ujarnya.

Perahu yang digunakan rata-rata berkapasitas 12 orang dengan mesin 15 PK. Dalam kondisi penuh, satu liter bahan bakar cukup untuk sekitar tiga kali perjalanan pulang-pergi. Konsumsinya meningkat seiring bertambahnya beban.

Penghasilan Suparman rata-rata Rp150.000 per hari, bergantung pada jumlah penumpang. Ia melihat QRIS lebih sering digunakan oleh wisatawan yang ingin menikmati matahari terbenam atau menyusuri Sungai Kapuas. Tarif wisata sungai tersebut Rp20.000 per orang. Sementara untuk penyeberangan rutin, pembayaran digital belum menjadi kebiasaan mayoritas penumpang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Doni Septadijaya mengatakan, penggunaan QRIS terus diperluas ke sektor transportasi, termasuk melalui program QRIS Sampan Bardan–Siantan. Bank Indonesia bekerja sama dengan Bank Kalbar untuk memfasilitasi pembuatan kode pembayaran bagi para penambang. 

“Jadi, tinggal pindai dan bayar. Tidak ada persoalan uang kembalian,” katanya.

Hingga Juni 2026, nilai transaksi QRIS di Kalimantan Barat mencapai Rp6,5 triliun atau tumbuh 112,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume transaksi mencapai 62,9 juta, meningkat 131 persen secara tahunan.

Jumlah merchant QRIS tercatat 552.673 dan sekitar 74,17 persen di antaranya merupakan usaha mikro. Penggunanya mencapai 875,4 ribu orang atau sekitar 24 persen dari penduduk dewasa Kalimantan Barat.

Pembayaran nontunai juga mulai diterapkan di Pelabuhan Senghie pada pekan kedua September 2026. Dinas Perhubungan Kota Pontianak mendorong penerapannya untuk mencegah pungutan liar dan memastikan retribusi langsung masuk ke kas daerah.

Digitalisasi bahkan telah menjangkau kawasan perbatasan melalui program QRIS Betang atau Bangun Ekosistem Transaksi Antarnegara. Tahun ini, program tersebut menyasar PLBN Entikong, Badau, dan Jagoi Babang.

Namun, di dermaga Sungai Kapuas, uang tunai dan pembayaran digital masih berjalan berdampingan. Lembaran rupiah tetap berpindah tangan, sementara kode QRIS bergoyang di tas kecil para penambang. Cara membayar berubah, tetapi pekerjaan mereka tetap sama. Perahu terus membawa warga dari satu tepian ke tepian lainnya. Di antara deru mesin dan riak Sungai Kapuas, kode QR kecil itu ikut berlayar. (*)

Editor : Hanif
Sampan Bardan-Siantan transaksi digital bank Kalbar sungai kapuas QRIS