Mobil water treatment Kodam XII/Tanjungpura mengolah air Sungai Kapuas yang terdampak intrusi air asin menjadi air layak konsumsi. Bantuan ini meringankan warga Kampung Caping yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang.
HARYADI, Pontianak
ANTREAN warga terlihat di Kampung Caping, Kelurahan Bansir Laut, Pontianak, Sabtu (12/9). Mereka datang membawa wadah untuk mendapatkan air bersih di tengah musim kemarau yang membuat sebagian warga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Di dekat antrean itu, sebuah kendaraan berukuran mini menjadi perhatian. Mobil water treatment milik Kodam XII/Tanjungpura bekerja mengolah air Sungai Kapuas yang terdampak intrusi air asin menjadi air layak konsumsi.
Baca Juga: TNI Kerahkan Dua Water Treatment ke Limbung Kubu Raya, Atasi Krisis Air Bersih Warga
Air sungai yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan warga tepian Kapuas kini tidak bisa begitu saja digunakan. Kandungan air asin membuat warga harus mencari sumber air lain, sementara persediaan air hujan yang selama ini ditampung mulai habis karena kemarau berlangsung cukup panjang.
Pratu Dinda Irfan Riyady, anggota tim pengoperasian mobil water treatment Kodam XII/Tanjungpura, menjelaskan air Kapuas terlebih dahulu melewati sejumlah tahapan pengolahan.
Kendaraan tersebut dilengkapi filter penyaringan dan perangkat sterilisasi. Setelah melalui proses pengolahan, air dapat digunakan sebagai air baku untuk kebutuhan masyarakat, termasuk untuk dikonsumsi.
“Hari ini air yang kita olah menggunakan mobil water treatment ini adalah air Kapuas yang nantinya dijadikan air baku dan digunakan oleh warga yang bermukim di tepian Sungai Kapuas,” kata Dinda.
Baca Juga: Kodam XII Tanjungpura Kerahkan 1200 Pasukan TNI Demi Atasi Karhutla Kalbar
Bagi warga, kehadiran mobil pengolah air itu bukan sekadar bantuan. Air yang dibagikan menjadi jawaban atas persoalan yang muncul ketika sumber air di sekitar rumah tidak lagi mudah digunakan.
Burdah, warga sekitar Kampung Caping, mengaku mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Ironisnya, kesulitan itu terjadi ketika rumahnya berada tidak jauh dari Sungai Kapuas.
“Untuk saat ini kami mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Meski tinggal di dekat Sungai Kapuas, airnya sudah asin,” ujarnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Pontianak, Pemkot Datangkan Air dari Sukalanting dengan Tiga Tongkang
Persediaan air hujan yang sebelumnya menjadi salah satu andalan warga juga semakin menipis. Kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat tampungan air di rumah-rumah warga perlahan habis.
Pilihan untuk membeli air pun bukan perkara mudah. Harga air galon yang disebut mengalami kenaikan membuat kebutuhan air bersih ikut menambah pengeluaran harian keluarga.
“Bila harus membeli air galon, sekarang harganya pun sudah naik sehingga menambah pengeluaran per hari untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi,” ungkap Burdah.
Di tengah kondisi tersebut, air yang berasal dari Sungai Kapuas justru kembali dimanfaatkan setelah melewati proses pengolahan. Teknologi sederhana yang dibawa dalam sebuah kendaraan menjadi penghubung antara sumber air yang sulit digunakan dan kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi warga Kampung Caping, antrean air bersih hari itu menggambarkan satu persoalan yang semakin terasa saat kemarau: sungai yang berada di depan mata belum tentu dapat langsung menjadi sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mobil water treatment kemudian menjadi salah satu ikhtiar untuk mengubah kondisi tersebut. Air Kapuas yang sebelumnya terasa asin diproses, disterilkan, lalu dibagikan kepada warga yang membutuhkan.(*)
Editor : Hanif