Dari Peluncuran Produk Sanggau Origin: Cokelat Asal Sanggau yang Sudah Tembus Pasar Eropa

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:35 WIB
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalbar, Heronimus Hero bersama para pemangku kepentingan berfoto bersama usai peluncuran Sanggau Origin di Aula Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Kamis (17/9). (IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST)
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalbar, Heronimus Hero bersama para pemangku kepentingan berfoto bersama usai peluncuran Sanggau Origin di Aula Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Kamis (17/9). (IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST)

Dari kebun kakao di kawasan perbatasan Sanggau, biji premium diolah menjadi Sanggau Origin. Produk cokelat hasil pendampingan petani dan Kalara Borneo itu kini menembus pasar Eropa, sekaligus membuka peluang nilai tambah bagi petani dan daerah.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

DARI kebun-kebun kakao di kawasan perbatasan Sanggau, biji-biji kakao premium menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar menjadi komoditas mentah. Setelah melalui pendampingan, pengolahan, dan penguatan pemasaran, kakao tersebut kini menjelma menjadi cokelat dengan identitas Sanggau Origin yang telah menjangkau pasar Eropa.

Perjalanan itu diperkenalkan dalam peluncuran Sanggau Origin melalui talk show bertajuk Memperkuat Masa Depan Kakao Melalui Kolaborasi di Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Kamis (17/9).

Baca Juga: Dinsos P3AKB Sanggau Gelar FKP, Enam Kelompok Diajak Bahas Perbaikan Pelayanan Publik

Produk tersebut merupakan salah satu hasil olahan Kalara Borneo dari biji kakao premium petani di Kabupaten Sanggau. Di balik sebatang cokelat, terdapat proses panjang yang mempertemukan petani, pemerintah, pelaku usaha, UMKM, serta mitra pembangunan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kalbar, Heronimus Hero, mengatakan pengembangan kakao di Kalbar mulai membentuk sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir.

“Hari ini kami sangat berbangga karena di Kalbar sudah terbangun sebuah sistem yang sangat baik untuk komoditi kakao mulai dari hulu, artinya dari budidaya sampai pada pengolahannya, dan marketingnya, bahkan sampai ke pasar internasional,” kata Heronimus.

Ia mengakui skala perkebunan kakao Kalbar masih relatif kecil. Namun, keberadaan sistem budidaya, pengolahan hingga pemasaran dinilai menjadi fondasi yang dapat diperbesar.

Baca Juga: Antisipasi TBS Petani Tak Terserap, Bupati Sintang Minta Perusahaan Tambah Armada Truk Tangki CPO

Saat ini, luas perkebunan kakao Kalbar disebut sekitar 4.000 hektare dengan produksi sekitar 2.000 ton. Kakao juga dinilai memiliki peluang ekonomi karena nilai tambahnya meningkat ketika biji tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk jadi.

Dengan harga biji kakao kering sekitar Rp80 ribu per kilogram dan potensi produksi satu hingga tiga ton per hektare, pendapatan kotor dari produksi satu ton dapat mencapai sekitar Rp80 juta per hektare.

Namun, perjalanan kakao tidak hanya berbicara soal rupiah. Tanaman tersebut juga dinilai memiliki fungsi ekologis, terutama untuk membantu rehabilitasi lahan yang rusak.

Baca Juga: Wali Kota Pontianak Pastikan Tegas terhadap Pelaku Karhutla, Pemilik Lahan Terbakar Ditelusuri

“Karakter kakao ini memang sangat cocok untuk konservasi, menjaga lingkungan, menjaga sistem hidrologi kita,” jelas Heronimus.

Kabupaten Sanggau sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu sentra kakao. Kawasannya tersebar di lima kecamatan perbatasan, yakni Kembayan, Beduai, Sekayam, Noyan, dan Entikong.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sanggau, Syafriansyah, mengatakan salah satu tantangan terbesar petani adalah pemasaran. Produksi yang meningkat tanpa kepastian pasar berpotensi menekan harga dan membuat petani kehilangan semangat untuk menanam.

Kehadiran produk seperti Sanggau Origin dinilai memberi jalan berbeda. Kakao tidak lagi berhenti sebagai hasil panen, tetapi diproses menjadi produk dengan nilai tambah dan pasar yang lebih luas.

“Dengan adanya proses seperti ini sampai kepada penjualan pengolahan produk, berarti di sini ada satu jaminan bagi para pekebun kita bahwa mereka pasar produk mereka terjamin, apalagi dengan harga premium,” katanya.

Salah satu kawasan pengembangan berada di Balai Karangan, Kecamatan Sekayam. Di wilayah ini, kegiatan Kalara Borneo mendapat pendampingan GIZ dan CU Murakopa.

Program Pertanian Berkelanjutan untuk Ekosistem Hutan (SAFE) dari GIZ bersama Kalara Borneo berlangsung sejak November 2025 hingga September 2026. Sebanyak 40 petani kakao di Balai Karangan mendapatkan pelatihan dan bantuan teknis.

Biji kakao premium hasil petani kemudian dibeli dan diolah Kalara Borneo menjadi batang cokelat Sanggau Origin. Produk inilah yang kemudian membuka akses lebih jauh, termasuk pasar Eropa.

Syafriansyah menjelaskan perbedaan nilai kakao terlihat jelas berdasarkan proses pengolahannya. Kakao yang masih berbentuk buah dihargai sekitar Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram.

Setelah dikeringkan, nilainya dapat meningkat menjadi sekitar Rp50 ribu per kilogram. Sementara kakao yang difermentasi sebelum dikeringkan dapat mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa nilai ekonomi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan jumlah produksi. Cara petani menangani hasil panen turut menentukan nilai akhir komoditas.

Karena itu, edukasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar petani tidak terus menjual kakao pada tahap paling awal.

Plt Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Rino Anteno Tengo, mengatakan pengembangan kakao juga dapat menjadi alternatif pendamping bagi petani di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan.

Data statistik yang disampaikannya menunjukkan luas tanaman kakao Kalbar justru menurun menjadi sekitar 3.100 hektare. Sebagian tanaman bahkan telah berusia puluhan tahun karena ditanam sejak dekade 1990-an.

Pemerintah pusat, Pemprov Kalbar, dan pemerintah kabupaten didorong berkolaborasi melakukan peremajaan tanaman. Dukungan kebijakan juga tersedia melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan berdasarkan Perpres Nomor 132 Tahun 2024 yang mencakup kakao selain kelapa sawit dan kelapa dalam.

Bagi Sanggau, pengembangan kakao juga menjadi bagian dari diversifikasi ekonomi masyarakat. Lahan yang sesuai, termasuk sejumlah kawasan hutan desa dan hutan adat, dinilai masih memiliki peluang untuk pengayaan dengan tanaman kakao.

Sanggau Origin akhirnya menjadi lebih dari sekadar nama produk. Ia menjadi gambaran bagaimana komoditas dari kebun perbatasan dapat diberi identitas, diolah menjadi produk premium, lalu dibawa menembus pasar yang lebih luas. (*)

Editor : Hanif
kakao Sanggau Sanggau Origin cokelat Sanggau kakao Kalbar pasar eropa