Pontianak Biennale 2026 menghadirkan pertemuan seniman lokal, nasional hingga mancanegara melalui karya tentang sungai, sejarah, lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pameran berlangsung di sejumlah ruang kota hingga 25 Oktober 2026.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
SUNGAI bagi Pontianak bukan sekadar aliran air yang membelah kota. Di tepian dan arusnya, manusia bertemu, berdagang, berpindah, membawa cerita, budaya, bahkan ingatan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gagasan tentang arus dan pertemuan itu kini diterjemahkan melalui Pontianak Biennale 2026. Mengusung tema “Arus, Pertemuan dan Gelombang”, perhelatan seni rupa kontemporer ini berlangsung 25 September hingga 25 Oktober 2026.
Baca Juga: Dorong Seniman dan Budayawan Lindungi Karya Ketapang, Kemenkum Kalbar Sosialisasi Hak Cipta
Ruang pamer tidak hanya berada di satu tempat. Karya dan rangkaian kegiatan tersebar di sejumlah lokasi, mulai dari Port 99, Pasar Tradisional Purnama, SD Negeri 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, ruang konferensi hingga ruang-ruang komunal lainnya.
Perwakilan Pontianak Biennale 2026, Gusti Enda, mengatakan tema yang diangkat berangkat dari posisi Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai titik temu berbagai arus peradaban, budaya, migrasi dan perdagangan.
Sungai kemudian menjadi metafora yang menghubungkan gagasan tersebut. Dari sungai, manusia bertemu. Dari pertemuan, lahir cerita dan kebudayaan. Dan dari cerita itulah para seniman mencoba membaca kembali Pontianak dengan sudut pandang masing-masing.
“Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak,” kata Gusti Enda.
Baca Juga: Kawal Karya Kreatif Seniman Lokal, Kemenkum Kalbar Hadirkan Pelayanan Hak Cipta di Borneo Metamorfos
Biennale kali ini mempertemukan seniman lokal, nasional hingga mancanegara. Namun, yang ditawarkan bukan hanya karya yang dipajang di ruang pamer.
Ada konferensi dan forum, Dapok Warge, Beranda Sinema, tur budaya dan sejarah Pontianak Punye Cerite, Bukumpul Library hingga Kids Corner. Seni juga dipertemukan dengan lintas disiplin melalui pemutaran film dan performative lecture.
Salah satu cerita datang dari Lee Mok Yee, seniman asal Kuala Lumpur, Malaysia. Ia menghadirkan karya instalasi audiovisual yang berangkat dari penelusurannya terhadap sejarah tiga generasi masyarakat Tionghoa di Pontianak.
Karya itu tidak lahir dalam waktu singkat. Lee terlebih dahulu menjalani residensi sekitar satu bulan di Pontianak pada April lalu. Ia berjalan menyusuri sejumlah kawasan dan berbincang dengan masyarakat Tionghoa untuk memahami pengalaman serta perjalanan sejarah mereka.
“Yang sejarah-sejarah orang Tionghoa di Pontianak. Jadi during my residensi saya jalan-jalan dekat, macam Kapuas Besar, Pasar Tengah, saya cakap dengan orang-orang Tionghoa di sana,” ujar Lee.
Dari perjalanan itu, Lee mencoba melihat bagaimana masyarakat mengalami sekaligus bertahan melewati berbagai periode sejarah, termasuk rentang 1965-1969.
Karyanya memperlihatkan bahwa seni dalam biennale ini tidak berhenti pada persoalan bentuk, warna atau estetika. Ada ingatan, pengalaman dan kehidupan masyarakat yang ikut dibawa ke ruang pamer.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi pertemuan seniman dari berbagai daerah dan negara tersebut. Menurutnya, Pontianak Biennale menunjukkan ekosistem seni di kota ini mulai terhubung dengan jejaring yang lebih luas.
“Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalbar, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei,” ujar Edi.
Yang menarik, sejumlah karya juga berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan Pontianak dan Kalimantan Barat. Sungai, lingkungan hingga kebakaran lahan menjadi bagian dari gagasan yang dibicarakan melalui karya seni.
“Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup,” kata Edi.
Di titik itulah Pontianak Biennale menemukan maknanya. Kota tidak hanya menjadi lokasi pameran, tetapi sekaligus menjadi sumber cerita. Sungai, pasar, sejarah, lingkungan dan masyarakat menjadi bagian dari karya maupun percakapan yang dibangun.
Melalui visual, bunyi, instalasi hingga karya tiga dimensi, para seniman mencoba menghadirkan kembali berbagai sisi Pontianak yang mungkin selama ini hanya dilewati tanpa sempat diperhatikan.
Pontianak Biennale 2026 masih dapat disaksikan hingga 25 Oktober. Selama periode tersebut, masyarakat tidak hanya diajak melihat karya seni, tetapi juga menyusuri berbagai cerita tentang kota, manusia dan perubahan yang terus bergerak seperti arus sungai.(*)
Editor : Hanif