Shiddiq Adies Maulana, relawan pemadam asal Pontianak, membuat nozzle suntik untuk membantu memadamkan bara yang tersembunyi di lahan gambut. Alat tersebut dibuat secara otodidak dengan memanfaatkan material yang tersedia.
IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
API yang terlihat di permukaan belum tentu menjadi akhir dari sebuah kebakaran di lahan gambut. Di balik asap yang mengepul, bara bisa saja masih tersimpan di dalam tanah. Kondisi inilah yang membuat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut membutuhkan cara berbeda.
Baca Juga: Cegah Karhutla, Pemegang PBPH Bakal Wajib Pasang Alat Pantau Gambut
Bagi para relawan yang berada di lapangan, menemukan titik api yang tersembunyi di dalam gambut menjadi salah satu tantangan. Dari kebutuhan itulah muncul berbagai upaya untuk mencari cara agar air tidak hanya membasahi permukaan, tetapi juga bisa diarahkan ke bagian tanah yang terbakar.
Salah satunya dilakukan Shiddiq Adies Maulana. Pemuda berusia 23 tahun itu sejak 2017 telah bergabung dalam tim pemadam kebakaran di Kota Pontianak. Berbekal kebiasaan mengutak-atik peralatan, Shiddiq mencoba membuat sendiri sebuah perangkat yang disebutnya nozzle suntik.
Bentuknya sederhana. Namun, perangkat tersebut dirancang untuk membantu relawan menyemprotkan air langsung ke dalam tanah yang masih mengeluarkan asap atau menyimpan bara.
Ide itu bermula dari kebutuhan di lapangan. Shiddiq mendapat masukan dari Ketua Bidang Penanggulangan Bencana sekaligus relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalbar, Asrul Putra Nanda. Saat penanganan karhutla, muncul pertanyaan bagaimana cara menuntaskan api yang sudah masuk ke dalam tanah.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Ingatkan Warga Waspadai Calo PMI Ilegal dan Tawaran Kerja Nonprosedural
“Saya ada sarankan pakai nozzle suntik. Ini jenisnya nozzle suntik. Ada yang jual bebas, ada yang sudah jadi, tapi beberapa kali yang beli jadi itu sering patah,” kata Shiddiq.
Dari persoalan tersebut, Asrul kemudian bertanya apakah Shiddiq bisa membuatnya sendiri. Shiddiq pun mencoba. Bermodal peralatan, dan material yang tersedia, ia merakit nozzle tersebut. Hasil pertamanya memang belum sempurna. Namun, perangkat itu menjadi contoh awal untuk dikembangkan sesuai kebutuhan relawan di lapangan. “Pak Asrul mintanya dibuat, cetak 20 unit kemarin,” ujarnya.
Tak hanya nozzle suntik, Shiddiq juga membuat jenis nozzle lain yang bentuknya menyerupai huruf L. Perangkat tersebut dirancang untuk digunakan langsung di lahan gambut.
Baca Juga: Cegah Karhutla, Pemegang PBPH Bakal Wajib Pasang Alat Pantau Gambut
Pembuatan sendiri dilakukan untuk menekan biaya. Menurut Shiddiq, kebutuhan peralatan seperti itu cukup penting bagi relawan. Sementara harga perangkat yang tersedia di pasaran juga menjadi pertimbangan. “Karena harganya yang lumayan, jadi kita usahakan untuk meminimalisir biaya kita buat sendiri,” katanya.
Cara kerja nozzle suntik tersebut cukup sederhana. Ketika menemukan bagian lahan yang masih mengeluarkan asap, nozzle ditusuk ke dalam tanah. Air kemudian dialirkan melalui perangkat tersebut, dan keluar dari puluhan lubang kecil dari berbagai sisi untuk membasahi bagian gambut yang terbakar.
Setelah dibiarkan sekitar 15 menit, nozzle ditarik dan dipindahkan ke titik lainnya. Proses tersebut dilakukan berulang-ulang pada bagian lahan yang masih menunjukkan tanda-tanda terbakar.
Perangkat itu memang dibuat khusus untuk kebutuhan pemadaman di lahan gambut. “Di lahan gambut. Memang untuk lahan gambut. Jadi sistemnya nanti di mana yang ada asap itu kita cucuk sampai ke dalam, biarkan 15 menit dulu baru kita tarik keluar, pindah lagi, berulang kali,” jelasnya.
Baca Juga: 1.192 Hektare Gambut Sambas Terbakar, Pemulihan Didorong untuk Cegah Karhutla Berulang
Nozzle yang dibuat Shiddiq memiliki panjang sekitar satu meter. Namun, kemampuan menembus tanah juga memiliki keterbatasan. Menurut dia, nozzle tersebut efektif untuk menjangkau kedalaman sekitar satu meter. Sementara untuk api yang sudah menembus hingga delapan bahkan sepuluh meter, perangkat tersebut masih belum mampu menjangkaunya.
“Kalau untuk efektifnya ini hanya bisa satu meteran saja masuknya. Kalau yang sudah menembus sampai mau delapan meter, sepuluh meter itu masih kurang,” katanya.
Baginya, hujan tetap menjadi cara yang paling efektif untuk membantu memadamkan api yang berada jauh di dalam gambut. “Yang benar-benar efektif itu tetap hujan, mampu memadamkan,” ujarnya.
Penggunaan nozzle juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Selama air bertekanan dialirkan, perangkat tersebut harus tetap dipegang. Tekanan air yang tinggi membuat nozzle berisiko terlepas atau mental jika tidak dikendalikan.
Membuat peralatan pemadam bukan sesuatu yang secara khusus dipelajari Shiddiq. Ia mengaku belajar merakit secara otodidak, bermula dari kebiasaannya mengutak-atik berbagai peralatan di rumah.
“Belajar merakit sih tidak ada. Saya cuma coba-coba karena sering di rumah itu iseng-isengnya. Karena ada beberapa mesin juga yang saya buat, merakit-merakit,” tuturnya.
Kebiasaan itu kemudian menjadi modal ketika ia bersama rekan-rekannya mendirikan kelompok pemadam kebakaran dengan keterbatasan biaya. Peralatan yang dimiliki pun tidak selalu dalam kondisi baik. Shiddiq menyebut sejumlah mesin yang didapat merupakan mesin bekas, dan dalam kondisi rusak.
Peralatan tersebut kemudian diperbaikinya agar kembali bisa digunakan. “Saya juga ada mendirikan pemadam dengan modal yang minim. Dan dapat bantuan-bantuan mesin-mesin yang bobrok, yang bekas itu saya perbaiki semua,” katanya.
Dari mesin-mesin bekas hingga sepotong peralatan yang dirakit sendiri, semuanya berangkat dari kebutuhan yang sama yakni bagaimana membantu pekerjaan pemadaman di lapangan. Untuk satu nozzle, proses pengerjaannya sekitar setengah hari. Namun, membuat perangkat tersebut bukan tanpa kendala.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah kopling atau penyambung antara nozzle dengan selang. Komponen itu harus didapatkan secara khusus, dan harganya dinilai cukup mahal per satuannya.
Kesulitan lain muncul ketika membuat bagian lengkungan pada nozzle berbentuk L. Agar hasilnya rapi, dibutuhkan alat untuk membuat lengkungan atau melakukan rol besi. Selain itu, jarak dan jumlah lubang pada bagian bawah nozzle juga harus diperhitungkan.
Nozzle yang dibuat dari barang-barang yang sudah tersedia itu bisa menekan biaya. Shiddiq memperkirakan, jika seluruh material harus dibeli baru, biaya pembuatannya dapat mencapai sekitar Rp1 juta.
Bagi Shiddiq, inovasi sederhana itu bukan soal membuat sebuah alat yang sempurna. Lebih dari itu, nozzle tersebut lahir dari kebutuhan nyata para relawan ketika berhadapan dengan karakter kebakaran di lahan gambut.
Sebab, ketika api telah padam di permukaan, pekerjaan belum tentu selesai. Asap yang masih keluar menjadi tanda bahwa panas atau bara bisa saja masih berada di bawah tanah. Di situlah para relawan kembali bekerja, mencari titik-titik yang masih menyimpan bara, lalu mencoba menjangkaunya dengan berbagai cara.
Nozzle buatan Shiddiq menjadi salah satu upaya kecil di tengah pekerjaan besar pemadaman karhutla. Sebuah alat sederhana yang lahir dari kebiasaan mencoba, memperbaiki, dan mencari solusi atas persoalan yang ditemui langsung oleh para relawan di lapangan.(*)
Editor : Hanif