Jelang Hari Jadi ke-255 Pontianak: Logo Baru Angkat Semangat Warga Agar lebih Tangguh

Mirza Ahmad Muin • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 13:39 WIB
Logo baru yang mengangkat manusia sebagai ikon utama. (ISTIMEWA)
Logo baru yang mengangkat manusia sebagai ikon utama. (ISTIMEWA)

Logo Hari Jadi ke-255 Pontianak mengangkat manusia sebagai ikon dengan tema “Tangguh Bersahabat”. Identitas visual ini merefleksikan kemampuan warga beradaptasi, saling menguatkan, serta menjaga keberagaman dan keharmonisan kota.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

Pontianak tidak hanya dibangun dari tugu, bangunan bersejarah, sungai, atau berbagai ikon fisik kota. Di balik semua itu, ada manusia yang terus beradaptasi, saling menguatkan dan menjaga kota tetap hidup.

Gagasan itulah yang coba ditampilkan dalam logo Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak resmi meluncurkan identitas visual tersebut di Pontive Center, Senin (5/10/2026), dengan mengusung tema “Tangguh Bersahabat”.

Baca Juga: Resmi Diluncurkan! Ini Makna di Balik Logo Baru Ke-255 Kota Pontianak

Berbeda dari logo-logo sebelumnya yang banyak menggunakan representasi fisik kota, identitas tahun ini menempatkan manusia sebagai ikon utama. Dari gagasan tersebut lahir pula slogan “Kite Jage Kite”, yang menggambarkan semangat menjaga kota secara bersama-sama.

Perwakilan pemenang sayembara, Gusti Fakhri Aliansyah, mengatakan pemilihan manusia sebagai ikon berangkat dari refleksi terhadap berbagai kondisi dan musibah yang dihadapi masyarakat Pontianak dalam beberapa waktu terakhir.

“Dari awal sampai sekarang, kita terbentuk karena adaptif dan saling menguatkan satu sama lain,” ujarnya seusai peluncuran logo.

Gusti bersama Tomy Anggara menjadi pemenang sayembara logo Hari Jadi ke-255. Tahun ini, sayembara dirancang berbeda karena peserta mendaftar dalam bentuk tim. Sebanyak 16 tim mengikuti rangkaian proses mulai pelatihan, mentoring hingga presentasi akhir.

Baca Juga: Hampir Dua Bulan Tutup, CFD Pontianak Kembali Dibuka dan Hidupkan Aktivitas UMKM

Menurut Gusti, kemampuan beradaptasi merupakan karakter yang ingin ditonjolkan melalui logo tersebut. Masyarakat Pontianak dinilai telah lama hidup berdampingan dengan berbagai tantangan alam dan lingkungan.

Rumah panggung dan gertak menjadi contoh bagaimana warga menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Begitu pula ketika menghadapi kabut asap dan berbagai persoalan kota, masyarakat menunjukkan kekuatan melalui kebersamaan.

“Yang ingin saya angkat lewat logo ini adalah semangat kolektif. Kita tangguh karena kita bersama,” katanya.

Makna ketangguhan itu sejalan dengan tema yang dipilih Pemerintah Kota Pontianak. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan karakter tersebut lahir dari berbagai tantangan yang dihadapi kota.

Pontianak menghadapi kemarau panjang, kabut asap, genangan, cuaca ekstrem hingga persoalan air baku yang terdampak intrusi air laut.

“Tangguh ini karena kita sedang menghadapi berbagai kondisi alam. Kemarau panjang kemarin menyebabkan kabut asap, kemudian air baku kita juga terintrusi air laut sehingga kadar garamnya meningkat. Karakter tangguh ini yang kita perlukan sebagai semangat warga Kota Pontianak,” ujar Edi.

Namun, ketangguhan tidak berdiri sendiri. Kata “bersahabat” menjadi bagian lain dari identitas kota yang dihuni masyarakat dengan beragam latar belakang suku dan agama.

“Pontianak ini heterogen. Karena itu kita ingin membangun kota yang harmonis, toleran, damai, sejuk dan nyaman,” katanya.

Pada sayembara tahun ini, Edi juga sengaja membatasi peserta hanya bagi warga Pontianak. Kebijakan tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya yang membuka kompetisi secara nasional.

Menurutnya, langkah itu menjadi ruang bagi talenta lokal untuk menunjukkan kreativitas sekaligus ikut membentuk identitas kotanya sendiri.

“Mudah-mudahan yang masuk finalis maupun yang terpilih bisa semakin semangat berkreativitas, bukan hanya membuat logo, tetapi juga branding-branding lainnya, bahkan sampai tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.

Edi berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam pembangunan kota melalui gagasan-gagasan baru. Namun, kreativitas dan modernisasi tetap harus berjalan bersama sejarah serta kearifan lokal.

“Usia 255 tahun ini cukup matang untuk sebuah kota. Tantangannya juga tidak ringan. Karena itu dibutuhkan ketangguhan, kebersamaan, kreativitas dan partisipasi seluruh masyarakat untuk membawa Pontianak terus maju,” pungkasnya.(*)

Editor : Hanif
tangguh bersahabat logo Pontianak 255 tahun Kite Jage Kite hari jadi pontianak Edi Rusdi Kamtono