Kebakaran hutan di lahan gambut memang menjadi batu sandung tahunan pemerintah dalam upaya pemadamannya. Kontur lahan gambut sulit diprediksi. Oleh karena itu dalam upaya pemadamannya, perlu penanganan lebih serius. Kajian dan riset pemadaman api di lahan gambut mesti dilakukan. Jika tidak, penanganan kebakaran di lahan gambut bakal terus terjadi tanpa intervensi kesiapan yang lebih mumpuni
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA Untan yang juga dosen Prodi Fisika, Yudha Arman menjelaskan kebakaran lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa.
Ketika terjadi kebakaran api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat merambat dan membara di bawah tanah seperti sekam. Kondisi ini membuat upaya pemadaman membutuhkan strategi yang lebih tepat sasaran, terutama ketika ketersediaan air terbatas saat musim kemarau.
Baca Juga: Dana Karhutla Kalbar Diatur Ulang, Pemerintah Siapkan Anggaran Hadapi Banjir dan Longsor
Kata dia pemadaman kebakaran gambut tidak semata-mata bergantung pada seberapa banyak air yang tersedia. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap liter air dapat digunakan secara efektif.
“Dalam kondisi keterbatasan air, strategi pemadaman sepertinya tidak cukup hanya menambah volume, melainkan memastikan efektivitas penggunaan setiap liter air yang tersedia,” jelasnya, Rabu (7/10).
Ia menerangkan, salah satu persoalan utama dalam kebakaran gambut adalah pembakaran bawah permukaan (smouldering) yang sulit dijangkau. Api dapat bertahan dan merambat di dalam lapisan gambut meskipun kobaran di permukaan telah terlihat padam.
Karena itu, menurutnya diperlukan pendekatan inovatif, salah satunya dengan sistem injeksi air yang diarahkan langsung ke titik panas di bawah permukaan. Cara tersebut dinilai lebih tepat dibandingkan hanya mengandalkan penyemprotan air dari atas.
Baca Juga: Solusi Jangka Panjang Karhutla, DPRD Kalbar Minta HGU Lahan Gambut Tak Lagi Diperpanjang
Selain itu, penggunaan bahan pembasah yang ramah lingkungan juga berpotensi meningkatkan kemampuan air meresap ke dalam pori-pori gambut. “Prinsip utamanya bukan sekedar mencari pasokan air sebanyak mungkin, tetapi bagaimana membuat air yang terbatas bekerja lebih efisien dan tepat sasaran,” katanya.
Ia menambahkan, teknologi pendeteksi titik panas bawah permukaan juga dapat dipadukan dengan strategi tersebut. Dengan mengetahui lokasi bara atau titik panas secara lebih akurat, air dapat diarahkan langsung ke lokasi yang membutuhkan sehingga penggunaannya lebih efisien.
Meski demikian, kebutuhan terhadap pasokan air tetap ada. Inovasi yang diperlukan adalah bagaimana air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kawasan gambut sebenarnya memiliki potensi sumber air yang cukup besar. Air tersimpan di dalam pori-pori gambut maupun pada lapisan air tanah di bawahnya. Keberadaan sumber air tersebut, menurut dia, dapat diketahui melalui sumur pantau, pengeboran dangkal maupun metode geofisika seperti geolistrik. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan adalah melakukan pemetaan sumber air bawah permukaan sebelum memasuki musim kemarau.
Menurutnya potensi tersebut cukup besar karena gambut pada dasarnya merupakan media penyimpan air yang baik. Namun, memasuki musim kemarau, kondisi berubah karena air permukaan dan muka air tanah dapat mengalami penurunan sehingga sumber air yang mudah diakses menjadi semakin terbatas.
Karena itu, pengelolaan air di kawasan gambut tidak seharusnya hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Upaya mempertahankan kelembaban gambut perlu dilakukan sejak sebelum musim kemarau.
Berdasarkan sejumlah literatur yang dipelajarinya, Yudha menyebut salah satu strategi mempertahankan cadangan air di kawasan gambut adalah menjaga muka air tanah tetap tinggi.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan sekat kanal, embung atau kolam retensi, serta pengaturan sistem drainase agar air hujan tidak terlalu cepat keluar dari kawasan gambut.
“Menurut saya, pendekatannya bukan hanya menampung air di permukaan, tetapi mempertahankan gambut tetap basah sehingga sekaligus menjadi cadangan air dan mengurangi resiko kebakaran,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan tersebut memiliki dua manfaat sekaligus. Selain menjaga ketersediaan air, kondisi gambut yang tetap basah juga dapat mengurangi kerentanan gambut terhadap kebakaran.
Dia juga menyoroti pemanfaatan sumur bor sebagai salah satu sumber air untuk kebutuhan pemadaman. Namun, keberadaan sumur bor tidak serta-merta menjamin ketersediaan air ketika kebakaran terjadi.
Pada musim kemarau, muka air tanah di lahan gambut dapat turun cukup dalam. Kondisi tersebut memungkinkan sumur bor dangkal mengalami penurunan debit atau bahkan tidak lagi menghasilkan air dalam jumlah yang dibutuhkan.
Karena itu, menurutnya pembangunan sumur bor untuk cadangan pemadaman perlu disertai pemetaan kedalaman akuifer, pengujian debit saat musim kemarau serta pemantauan muka air tanah.
Ia juga mengingatkan kondisi tanah gambut yang relatif lunak dapat menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan sumur bor. Dinding lubang bor berpotensi runtuh dan menutup sumur apabila konstruksinya tidak menggunakan casing dan filter yang memadai.
Karena itu, sumur bor yang disiapkan sebagai cadangan air pemadaman perlu dirancang berdasarkan kondisi geologi setempat dan dipelihara secara berkala.
Menurutnya, penelitian mengenai pemantauan muka air tanah gambut saat musim kemarau sudah dilakukan. Namun, kajian yang secara bersamaan menguji debit sumur bor untuk mengetahui apakah sumber air tersebut benar-benar dapat diandalkan ketika kebakaran terjadi masih perlu diperbanyak.
“Pemantauan muka air tanah gambut saat kemarau sudah ada yang meneliti. Tetapi pengujian debit sumur bor secara bersamaan untuk menilai apakah sumber tersebut benar-benar dapat diandalkan saat kebakaran masih belum banyak dikaji,” tutupnya.(*)
Editor : Hanif