Oleh: Ghea Lidyaza Safitri
Masyarakat mengenal deodorant spray sebagai salah satu produk kosmetik yang berfungsi untuk menghilangkan bau badan. Penggunaannya tergolong sederhana, yakni menekan tombol bagian atas deodorant hingga spray (butiran-butiran partikel cairan) menempel tepat di bagian ketiak.
Deodorant spray memang menjadi pilihan beberapa orang. Namun, ada juga yang beranggapan produk ini berbahaya karena mengeluarkan bau seperti alkohol.
Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita menjelaskan dalam bidang farmasi, sediaan deodoran spray disebut dengan aerosol. Aerosol memiliki arti mendispersikan (mengubah) zat aktif berbentuk cair menjadi butiran-butiran di udara (gas). Di dalam sediaan aerosol biasanya memiliki eksipien berupa propelan.
Propelan adalah gas cair yang berfungsi mendorong atau memberi tekanan agar bisa mendispersikan menjadi butiran-butiran halus. Perempuan yang akrab disapa Rise ini menuturkan gas yang kerap digunakan sebagai propelan adalah hidrokarbon. Contohnya, butanol, propanol dan iso butanol yang banyak digunakan untuk sediaan kosmetik.
Rise mengatakan sebenarnya gas yang digunakan memiliki titik didik yang rendah. Ketika deodorant spray disemprotkan, cairan akan terdispersi menjadi gas. Dan, gas akan menguap di dalam suhu ruang. Jika terhirup pernafasan, persentase gas dapat menyumbat saluran pernafasan sangat kecil. Karena gas pada deodorant spray, khususnya produk kosmetik tidak menyebabkan toksik bagi tubuh.
“Menurut jurnal penelitian yang telah dibaca, persediaan spray yang banyak mengganggu pernafasan cenderung berupa pewangi ruangan atau pembasmi serangga (nyamuk),” ujarnya.
Meski tidak bersifat toksik bagi tubuh, penggunaan deodorant spray bisa menyebabkan seseorang mengalami efek samping pada kulit. Rise menyebutkan ada dua respon kulit yang bisa dilihat karena ketidakcocokan dalam penggunaan kosmetik, yakni iritasi dan alergi. Timbulnya alergi bergantung pada imunitas tubuh. Biasanya, alergi timbul jika imunitas tubuh seseorang tidak terlalu baik.
“Sedangkan iritasi timbul secara langsung. Iritasi dapat terlihat jika ada salah satu bagian tubuh yang mengalami peradangan, gatal dan warna merah,” tutur Rise.
Alergi maupun iritasi yang timbul bukan disebabkan oleh gas propalen. Melainkan tiga eksipien yang ada di dalamnya, yaitu pewangi, pengawet dan zat pewarna. Sehingga, jika memiliki tanda-tanda mengalami alergi dan iritasi, lebih baik memilih produk tanpa pewangi, kandungan pengawet rendah (ada tambahan pelembut), serta produk dengan zat warna alami atau tanpa tambahan warna.
Wakil Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD-IAI) Kalbar ini menyatakan selain disebabkan tiga eksipien. Alergi dan iritasi juga bisa dikarenakan tingkat sensitivitas kulit yang cenderung lebih tinggi dari normalnya. Misalnya, menggunakan produk setelah mencukur bulu ketiak. Ketika proses mencukur tentu ada jaringan kulit yang rusak dan membuat jadi sensitif.
Saat menyemprotkan produk deodorant spray, akan terasa pedih di bagian ketiak (iritasi). Kemudian, bisa juga dikarenakan kondisi kulit sedang kering akibat cuaca dan udara atau ketika bulu rambut baru di ketiak akan tumbuh. Ketika menjadi sensitif, saat berinteraksi dengan zat kimia akan merasa pedih dan panas.
“Sehingga perlu mempertimbangkan kondisi kulit saat akan mengenakan produk. Rise menyarankan untuk tidak lupa melihat petunjuk yang tertera di belakang produk,” ungkapnya.
Dia menyarankan agar menyemprotkan deodorant spray hanya sebanyak dua sampai tiga kali dengan jarak sejauh 10 sampai 15 centimeter. Rise merasa jumlah dan jarak semprot ini sudah cukup baik.
“Khususnya, mendispersi butiran-butiran gas hingga produk menempel pada permukaan yang dituju untuk memberikan aroma wangi,” pungkasnya. ** Editor : Super_Admin