Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Plus Minus Investasi Emas

Siti • Senin, 24 Februari 2020 | 12:32 WIB
Emas
Emas
Emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling populer di Indonesia. Harganya yang terus menunjukkan tren kenaikan, menjadi keunggulan komoditas ini. Namun bukan berarti investasi si kuning tak mengandung risiko. Lantas apa saja plus dan minusnya?

Oleh : Siti Sulbiyah

Menurut Dr. Wendy, M.Sc, Dosen FEB Universitas Tanjungpura, investasi emas batangan berbeda dengan membeli perhiasan emas atau melakukan transaksi komoditas emas di pasar future (komoditas). Emas batangan dalam konteks investasi adalah logam mulia (LM), yaitu batangan emas murni 24 karat, baik yang diproduksi secara modern (bersertifikat, termasuk emas London) maupun emas batangan lainnya yang dapat dipotong sesuai jumlah pembelian.

Menurut Wendy, perhiasan emas tidak dikategorikan sebagai investasi emas. Sebab,  umumnya tidak murni atau jauh di bawah 24 karat dan telah berbentuk barang jadi. Misalnya, cincin atau gelang yang pada saat pembelian dihitung biaya produksinya. "Sementara pada saat dijual, biaya produksi untuk membuat cincin atau gelang tersebut tidak dihitung sehingga dalam konteks investasi sifatnya merugikan," ungkap Wendy.

Salah satu keunggulan investasi emas adalah stabilitas harga serta kemampuannya dalam mereduksi penurunan nilai uang. Harga emas ini cenderung stabil dari waktu ke waktu, bahkan menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Namun begitu, anggapan bahwa berinvestasi emas paling menguntungkan dibanding dengan instrumen investasi lain, tidak selalu benar. Hal ini tergantung pada tujuan investasi.

Jika tujuan investasi pemodal adalah memeroleh keuntungan tinggi dalam jangka waktu yang singkat, mungkin emas bukan pilihan yang tepat. Tetapi jika tujuan investasinya adalah keamanan dan lindung nilai di tengah memburuknya kondisi ekonomi atau ketidakstabilan mata uang dunia, maka emas mungkin akan lebih tepat jika dijadikan pilihan investasi.

"Namanya investasi juga pasti mengandung risiko, termasuk investasi emas," ungkap Wendy.

Secara umum, lanjut Wendy, jika dilihat dari sisi harga, risiko investasi emas tidak signifikan karena dalam dekade terakhir. Harga emas terus menunjukkan tren peningkatan.

"Adapun risiko terburuknya, barangkali adalah pencurian, atau risiko kualitas akibat emas yang dibeli bukan emas murni, lantaran emas dibeli dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Hal ini mengakibatkan pada saat penjualan, harganya jauh di bawah harga pasar," tutur Wendy.

Dia menyarankan membeli logam mulia pada sumber terpercaya yang dilengkapi sertifikat asli untuk menghindari risiko kualitas. Untuk menghindari risiko kehilangan, lebih baik LM disimpan di safe deposit box (SDB) bank setelah dibeli.

Lantas, pemodal seperti apa yang cocok berinvestasi emas? Menurut Wendy, dalam kondisi ekonomi stabil, yang cocok adalah pemodal dengan tingkat tolerensi risiko yang tidak terlalu lebar. Artinya mereka yang lebih memprioritaskan keamanan dana dibandingkan berfokus mengejar pengembalian yang tinggi dengan memilih instrumen investasi yang lebih berisiko, seperti saham dan transaksi di pasar derivatif.

"Tetapi pada kondisi ekonomi tidak stabil, semua pemodal cocok melakukan investasi LM," pungkasnya.**

 

Jaga Nilai Aset

Photo
Photo
Dr. Wendy, M.Sc

Dosen FEB Universitas Tanjungpura, Wendy menilai logam mulia (LM) lebih banyak dicari saat kondisi ekonomi tidak stabil. Keputusan ini biasanya tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga pada level negara. Banyak negara yang kemudian mengalihkan cadangan devisanya menjadi emas ketika terjadi turbulensi ekonomi dan ketidakpastian global.

Apalagi semenjak perang dagang AS-China dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, harga emas dunia meningkat signifikan. Kondisi ini dikarenakan banyaknya pemodal yang berusaha mengamankan dan melindungi nilai asetnya dengan memilih LM sebagai instrumen investasi.

“Hingga saat ini, LM masih dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tutur Wendy.

Berapakah nominal investasi emas yang ideal? Menurut Wendy, tidak ada angka nominal yang disyaratkan untuk menjadikan instrumen ini sebagai aset investasi. Hal ini dikarenakan sifat LM adalah untuk menjaga nilai aset. Umumnya, pembelian LM tergantung pada satuan berat LM yang dijual, misalnya pecahan 10 gram, 50 gram, atau 100 gram. Tentunya jumlah LM yang dibeli disesuaikan dengan kemampuan finansial pembeli. (sti)

 

  Editor : Siti
#emas #emas batangan