Oleh : Siti Sulbiyah
Perjuangan Erlinawati (49) mengikuti serangkaian tahapan kurasi yang dilakukan oleh L’Adresse Paris Agency (LPA) membuahkan hasil. Tiga produknya berhasil lolos mengikuti Paris Fashion Week yang digelar akhir Juni 2022 ini. Produknya menjadi salah satu dari 15 kerajinan dari Indonesia yang berhasil lolos dalam ajang bergengsi tahunan tersebut.
“Sama sekali tidak menyangka bisa dipamerkan di Paris,” ungkap Erlinawati, pengrajin kerajinan berbahan kulit kayu kapuak.
Adapun ketiga produk yang berhasil lolos kurasi tersebut adalah Sunflower Totebag, Jasmine Totebag, dan Anjabyl Phonebag. Ada dua kali kurasi yang harus ia lalui sebelum akhirnya dinyatakan lolos. Kurasi produk adalah proses penyeleksian terhadap produk UKM/IKM yang telah didaftarkan sebelum produk tersebut dapat diekspor.
Wati, sapaan akrab Erlinawati, sudah menggeluti usaha kerajinan kulit kayu kapuak sejak enam tahun yang lalu. Beberapa produk yang dihasilkannya seperti tas, pouch, dompet, tas handphone, hingga kotak tisu. Produk kerajinan tersebut kini telah memiliki merek bernama Anjabyl. Merek ini sudah mengantongi Sertifikat HAKI.
Kulit kayu kapuak atau biasa disebut kapoak sendiri merupakan jenis kayu yang bisa hidup di daerah tropis, seperti Kalimantan dan Sumatra. Kulit kayu ini memiliki struktur berserat padat, kuat, dan mudah dibentuk.
Berkat kegigihan dan kreativitasnya, produk Anjabyl bisa melenggang ke Paris Fashion Week. Pekan mode bergengsi ini kembali digelar pada 21 sampai 26 Juni 2022. Kali ini, tema yang diangkat dalam ajang itu adalah koleksi Menswear Ready to Wear untuk musim Spring/Summer 2023.
Pameran yang memeriahkan pekan fesyen tersebut mendapatkan dukungan KBRI Paris bekerja sama dengan Bank Indonesia. Pameran yang digelar 23 hingga 25 Juni 2022 tersebut bertempat di sebuah showroom di pusat kota Paris, yaitu persis di depan Galeries Lafayette, salah satu department store terkemuka Prancis. Dalam pameran tersebut, ada pula produk lokal dari berbagai penjuru dunia.
“Sejak awal memang didampingi Bank Indonesia,” ujarnya.
Bagi Wati, tidak mudah melewati setiap tahapan kurasi. Ada dua tahapan kurasi yang harus dilalui. Ia harus mengirimkan sampel kerajinannya untuk mendapatkan penilaian dari LPA. Ada juga presentasi secara daring.
Penilaian yang dilakukan LPA sangatlah detail. Tak hanya berbicara soal tampilan kerajinan secara fisik, melainkan juga sisi cerita dibaliknya. “Jadi dijelaskan mengapa kayu kulit kapuak. Lalu kain etnik yang digunakan itu artinya apa. Apa cerita di baliknya,” ucapnya.
Kerajinan kayu kulit kapuak yang dihasilkannya kerap diinovasikan dengan kain etnik seperti corak insang, songket, hingga tenun dayak. Selain kain etnik, ada juga yang dikreasikan dengan akar keladi air. “Kurator dari LPA sangat antusias kalau mendengar cerita dibalik kerajinan ini,” imbuhnya.
Tak hanya Paris, dalam waktu yang berdekatan, produk berbahan dasar kulit kayu kapuak ini juga berhasil mengikuti tiga pameran yang akan digelar di Jepang. Lewat program Akselerasi UMKM Berorientasi Ekspor Borneo (Painor Borneo) 2022, produk Anjabyl ini bakal memeriahkan pameran di negeri sakura tersebut.
Ada tiga produk yang dikirim ke Jepang, yaitu Sunflower Totebag, Kapuak Sambas Totebag, dan Anjabyl tissue box,” katanya.
Produk-produk tersebut diikutsertakan pada summer event di tiga lokasi berbeda, yakni di Shibasakura Event Fujinomiya, Hoshigaoka Terrace, dan Nagano. “Produk ini akan di-display, tidak dijual. Ini sebenarnya bagus karena produknya akan terus dipromosikan. Kalau ada pesanan akan dikirim,” ujarnya.
Produk Wati pada tahun ini juga lolos kurasi untuk pameran di Jerman lewat ajang Indonesia Festival Frankfurt (IFF) pada 16-18 September 2022 mendatang. IFF 2022 merupakan festival Indonesia pertama di Frankfurt yang ditujukan untuk mempromosikan budaya, perdagangan, investasi, pariwisata dan pendidikan. ** Editor : Siti Sulbiyah