Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Afirmasi Positif Jadi Semangat Bekerja

Syahriani Siregar • Selasa, 29 November 2022 | 15:01 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.
Lingkungan kerja yang nyaman dapat meningkatkan produktivitas dalam melaksanakan tugas di tempat kerja. Selain itu, afirmasi positif dapat menambah semangat dalam bekerja. Bagaimana menerapkannya?

Oleh: Siti Sulbiyah

“Insya Allah bisa, Insya Allah tercapai”. Adalah kalimat yang selalu Chairunnisa lontarkan sebelum berangkat kerja setiap pagi. Wanita berusia 29 tahun itu yakin betul kata-kata positif bisa memberikannya rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan dirinya.

“Biar makin semangat kerjanya,” ucapnya wanita yang kerap disapa Cha ini.

Kalimat itu ia ulang minimal dua kali sebelum berangkat kerja dan dilakukan setiap hari. Mengawali hari dengan kalimat positif membuatnya mudah mengeksekusi setiap pekerjaan, serta memunculkan ide-ide yang ia butuhkan untuk pekerjaannya.

Menurut Nadya Hendrawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, afirmasi berarti menguatkan atau mengokohkan sesuatu. Afirmasi positif adalah cara seseorang itu mensugesti dirinya sehingga dia merasa bisa merasa lebih positif dan optimis dalam menghadapi situasi yang mungkin akan terjadi.

“Afirmasi ini diimplementasikan dalam bentuk kata-kata penguatan yang berulang-ulang sehingga memengaruhi pikiran sadar dan bawah sadarnya, yang dipercaya bisa membentuk prilaku, kebiasaan, dan lingkungan yang lebih positif,” ungkapnya.

Afirmasi positif adalah pernyataan untuk menguatkan pikiran sadar dan bawah sadar sehingga dapat mengelola atau meningkatkan optimisme, kepercayaan diri terhadap situasi pekerja yang diselesaikan. Sebaliknya, afirmasi negatif adalah kata-kata negatif yang pada akhirnya bisa memengaruhi hal negatif di pikiran atau alam bawah sadar.

Membiasakan diri dengan mengucapkan kalimat bernuansa afirmasi positif dapat membuat lebih semangat saat bekerja. Membangun afirmasi positif dapat dilakukan dengan cara mencari kalimat yang akan menggelorakan semangat agar lebih percaya diri dalam menjalani hari atau sebelum memulai tugas kerja.

“Ketika kita bilang sama diri kita, misalnya bisa selesaikan ini tepat waktu, dan itu kita katakan berulang untuk menguatkan diri dan tentunya diiringi dengan perilaku, ini akan membuat motivasi tumbuh lebih cepat untuk menyelesaikannya,” ucapnya.

Afirmasi tidak cukup hanya dilakukan sesekali. Kata-kata penguat diri tersebut harus diucapkan berkali-kali sampai merasa yakin ataupun percaya pada diri sendiri.

Nadya mengatakan kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian yang sangat penting dalam dunia kerja untuk bisa menunjukkan kinerja. Kepercayaan diri ini juga bisa diperoleh ketika seseorang memiliki afirmasi positif untuk melalui kondisi-kondisi yang akan dihadapinya.

“Afirmasi ini korelasinya adalah bagaimana meningkatkan optimisme performa untuk mengerjakan sesuatu,” tuturnya.

Afirmasi positif juga penting untuk menjauhkan dari berbagai pikiran negatif yang terkadang membuat kehilangan motivasi. Banyaknya pikiran negatif yang timbul akibat stres, kelelahan, dan kegagalan dalam pekerjaan dapat mempengaruhi kepercayaan diri hingga semangat di tempat kerja.

“Afirmasi bisa mengurangi stress? ya benar sekali, karena afirmasi positif itu fokus sama pencapaian diri. Hal ini tentu lebih baik ketimbang memikirkan hal-hal yang menyebabkan stres seperti takut tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline yang ditentukan,” katanya.

Dia menilai stress dalam kondisi apapun tidak akan terasa nyaman, termasuk saat bekerja. Jika kondisi dibiarkan terus menerus, hal ini tentu dapat membuat semakin membenci pekerjaan tersebut dan tidak bergairah untuk mengembangkan karier ke arah yang diinginkan.

Ada banyak kalimat positif yang bisa diucapkan. Misalnya “Saya akan menjadi yang terbaik yang saya bisa”, atau “Saya mampu mengerjakan tugas tepat waktu”, dan lain sebagianya.

Afirmasi juga bisa diucapkan untuk meredam perasaan marah terhadap pencapaian yang dirasa jelek dan belum maksimal. Misalnya dengan mengucapkan “Saya memaafkan semua hal yang terjadi sebelumnya”.

Bagaimana melakukanya? Afirmasi positif bisa dilakukan sebelum memulai pekerjaan dan sebelum tidur. Selain mengucapkannya berulang-ulang, ada baiknya untuk sedikit melantangkan suara agar semua indra mendengar dan bisa menjadi sebuah energi positif sebagai bekal untuk mengawali hari.

Selain itu, hindari kata-kata negatif seperti jangan ataupun tidak. Misalnya, orang yang ingin berhenti merokok. Sebaiknya tidak mengatakan “saya tidak ingin merokok”, karena kalimat ini membuat fokus ditujukan pada rokok. Akan lebih baik jika kalimatnya diubah menjadi “Saya ingin hidup sehat”.

Selain menghindari kata negatif, afirmasi juga sebaiknya menghindari penggunaan kata yang bersifat menekan seperti kata harus. Misalnya “Saya harus bisa”.

“Jangan menggunakan kata harus karena itu jadinya seperti sebuah mandatori yang digunakan untuk menuntut atau menekan. Gunakan kata yang bisa kita terima sebagai bentuk proses yang kita lakukan,” pungkasnya.

Waspada Jadi  Toxic Positivity

Afirmasi positif adalah pernyataan yang menguatkan dan memberikan motivasi, semangat, serta menghilangkan rasa takut. Afirmasi positif bisa diimplementasikan dalam menjalani dunia kerja.

Menurut Nadya Hendrawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, afirmasi positif bisa mengarahkan untuk fokus pada pencapaian diri, serta mendorong diri untuk menghargai apa yang mampu dicapai.

“Afirmasi bisa menguatkan pencapaian kita, juga sebagai bentuk rasa syukur, yang tentunya bisa mengurangi stress,” ujarnya.

Namun di sisi lain, afirmasi positif bukannya sebuah bentuk penyangkalan atas kondisi-kondisi yang mungkin saja terjadi apabila mengalami sebuah kegagalan yang berpotensi menimbulkan perasaan sedih, takut, kecewa, hingga khawatir.

“Afirmasi positif memang diperlukan untuk memotivasi diri membangun kepercayaan diri, tapi sebagai manusia, kita perlu memanusiakan diri kita. Tidak apa sedih, atau khawatir, cemas, tapi kita tahu solusinya,” ucapnya.

Nadya menegaskan afirmasi positif yang keliru adalah afirmasi positif yang mengakibatkan munculnya toxic positivity. Yakni, sebuah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif.

“Harus hati-hati karena bisa terjebak pada toxic positivity,” ujarnya.

Seseorang yang terjebak dalam toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, seperti sedih, marah, atau kecewa, dari suatu hal yang terjadi. Padahal, emosi negatif juga penting untuk dirasakan dan diekspresikan.

“Kalau afirmasi positif, perasaan sedih tersebut tidak hanya menjadi sedih, tapi sedih yang berusaha mencari bagaimana solusinya ke depannya,” pungkasnya. (sti) Editor : Syahriani Siregar
#toxic positivity #semangat bekerja #afirmasi positif #berangkat kerja