BANYAK faktor yang memengaruhi tinggi badan anak. Mulai genetik, lingkungan, nutrisi, hingga hormonal. Anak disebut pendek apabila tingginya kurang dari kurva normal. Yakni, kurang dari persentil tiga pada kurva CDC dan kurang dari minus dua pada kurva WHO.
“Penyebab pendek abnormal yang bisa diobati itu stunting dan GHD,” ujar Dr dr Nur Rochmah SpA (K).
Dokter spesialis anak konsultan endokrin anak dan remaja itu menuturkan, stunting dan GHD merupakan dua kondisi yang berbeda. Stunting disebabkan malanutrisi dan penyakit kronis, sedangkan GHD dipicu kekurangan hormon pertumbuhan. GHD juga berbeda dengan perawakan pendek familial. Yaitu, anak pendek yang masih di ambang batas sesuai potensi tingginya, dengan orang tua yang pendek.
Anak mendapatkan tinggi badan berdasar proporsi dari gen orang tua. Jika sudah ada gen tinggi, ditambah nutrisi, hormon, dan vitamin D-nya bagus, anak akan tumbuh dengan optimal.
“Ada lagi jenis perawakan pendek yang masuk kategori normal selain pendek familial, yaitu late bloomer,” lanjutnya.
Pada kondisi tersebut, anak mengalami pacu tumbuh yang lebih lambat dibandingkan sebayanya. Namun, dengan tinggi badan akhir yang normal. Late bloomer baru akan tumbuh ketika memasuki masa pubertas. Dua kondisi tersebut merupakan pendek yang normal. Berbeda dengan pendek akibat stunting dan GHD.
“Ortu yang awam mungkin akan bingung, ya. Ini pendeknya normal atau tidak. Artinya, awareness ortu perlu ditingkatkan sejak awal sebelum terlambat diketahui,” tambah dokter anak RSIA Kendangsari Merr Surabaya itu. Anak-anak sudah tidak bisa bertambah tinggi ketika lempeng pertumbuhannya selesai.
“Ada yang datang kepada kami di usia SMA, dengan pemeriksaan didapatkan usia tulang yang lempeng pertumbuhannya sudah menutup,” ujarnya.
Ketika datangnya sudah terlambat seperti itu, tidak bisa diintervensi dengan hormon pertumbuhan. Lebih optimal jika kondisi itu diketahui di usia awal, prasekolah, atau SD, misalnya. Lantas diterapi. “Itu bagus, bisa dicapai pertumbuhan yang optimal dengan tinggi badan akhir yang baik. Seperti Messi yang mendapatkan tinggi badan akhir 169 cm,” papar dr Rochmah.
Karena itu, pantau tumbuh kembang anak sejak masa imunisasi. Untuk mendiagnosis GHD, perlu kompetensi dokter anak endokrin. Ada uji stimulasi hormon pertumbuhan untuk melihat kadar hormon cukup atau tidak.
“Misalnya, ada anak tetangga usia 6 tahun dan 3 tahun, tapi tinggi badan yang 6 tahun ini disalip sama adiknya. Konsul ke puskesmas, ternyata yang 6 tahun kependekan. Periksakan lebih lanjut ke rumah sakit apakah penyebabnya GHD atau lainnya,” jelasnya.
Untuk saat ini, pengobatan GHD berupa suntik hormon. Suntik hormon diberikan satu kali dalam sehari saat malam menjelang tidur pada otot lengan, paha luar, dan perut subkutan.
“Ortu tidak perlu khawatir karena aman. Bentuk (suntikan)- nya juga tidak seperti dulu, sekarang alatnya seperti pena,” imbuhnya.
Tinggi badan yang dicapai pasien lebih kurang 1 sentimeter per bulan. Dalam setahun, bisa naik 10–12 cm. Namun, tiap orang bervariasi. Terapi tidak perlu dilanjutkan apabila tinggi badan tidak memuaskan. Yakni, kurang dari 4 cm per tahun.
“Selain pertumbuhan, metabolism ikut terganggu karena GHD. Anak pendek juga berisiko di-bully. Maka, perlu diberikan terapi hormonal untuk mengoptimalkan pertumbuhannya,” tutur dr Rochmah. (/lai/c7/nor/jp) Editor : Misbahul Munir S