Oleh : Siti Sulbiyah
Produk-produk dari Kalara Borneo menarik perhatian peserta yang hadir dalam kegiatan Bimbingan Teknis UMKM Bikopra yang dilaksanakan di Grand Mahkota Hotel Pontianak, 20-22 Februari 2023 yang lalu. Salah satu yang menarik perhatian adalah sirup dan manisan kering dari buah maram.
“Yang sirup ini harganya berapa?” tanya seorang peserta yang berasal dari Kabupaten Sanggau kepada Yohana Tamara, sang penjual produk.
Pria tersebut mengaku baru pertama kali melihat ada produk sirup dengan rasa yang berasal dari buah maram. Di Sanggau, ceritanya, terdapat banyak buah maram. Kebanyakan hanya dijadikan manisan.
Terdapat dua rasa sirup berbahan dasar buah maram yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Untuk botol yang berwarna hijau, merupakan rasa original dari buah maram yang kadar asamnya kuat. Sementara untuk botol merah, diberikan sentuhan manis.
PANEN : Buah maram yang telah dipanen.
“Jadi yang botol ini ada rasa sweet and sour (asam manis). Kenapa ada rasa ini, karena kalau untuk masyarakat, semakin ke arah kota semakin suka yang ada manisnya,” ujar Yohana menjelaskan.
Buah maram berasal dari tanaman endemik Kalimantan. Umumnya tumbuh subur terutama di lahan rawa gambut. Buah yang juga dikenal dengan asam paya ini kerap dijadikan manisan basah atau rujak buah.
Yohana merupakan pemilik usaha Kalara Borneo. Usahanya sudah berjalan sekitar satu tahun lamanya. Hilirisasi buah maram merupakan salah satu produk unggulannya. Buah tersebut dipilih karena merupakan khas Kalimantan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Menurut wanita berusia 31 tahun ini, buah ini bisa tumbuh sepanjang tahun. Namun pada musim panen raya produksinya membeludak. Namun menurutnya, masyarakat belum mampu mengolah buah ini menjadi produk hilirisasi yang tahan lama.
“Kalau musim panen, oleh masyarakat hanya dijadikan rujak saja. Dan kalau tidak dipanen buahnya pasti busuk,” tuturnya.
Selain sirup dengan dua varian rasa, wanita kelahiran Pontianak ini juga menghasilkan produk manisan kering dari buah maram. Dibuat kering agar memiliki daya simpan yang lebih lama.
Untuk memperkenalkan buah maram kepada masyarakat luas, Yohana juga berkolaborasi dengan pelaku usaha lain. Salah satunya adalah dengan brand kopi dari Jakarta, Anomali Coffee. Kerja sama ini meluncurkan produk Teh Maram. Teh ini memiliki paduan teh hitam, soda, sirop buah maram, dan sirop leci.
“Kita juga kerja sama dengan usaha Nasi Peda Pelangi di SCBD jakarta. Di sana tersedia minuman soda asam maram,” tuturya.
Lewat hilirisasi produk, masyarakat luas bisa menikmati buah maram. Bila tidak bisa menikmati dalam bentuk segarnya, setidaknya buah ini bisa dinikmati dalam bentuk minuman maupun manisan kering.
Yohana meyakini masih banyak produk turunan lainnya yang bisa dihasilkan dari olahan buah maram. Bisa menjadi campuran kue, eskrim maram, dan lain sebagainya.
Bagi Yohana, produk yang baik berasal dari bahan baku yang berkualitas, di samping tentunya proses produksi yang terstandarisasi. Maka dari itulah, kualitas dari bahan baku harus dipastikan sedemikian rupa. Ia pun tak segan membayar mahal bila petani memasok bahan baku yang baik.
“Saya berani bayar dua kali lipat dibandingkan harga pasaran jika kualitasnya bagus,” tegasnya.
Sejauh ini produknya telah dipasarkan melalui pameran-pemeran lokal, nasional, dan internasional. Selain itu juga dijual sejumlah marketplace. Para pembelinya, kata dia, kebanyak dari Jawa dan Bali. Hanya yang menjadi tantangan saat ini adalah biaya logistik yang tinggi. Bagaimana tidak, buah maram dipanen dari daerah yang jauh dari pusat kota dengan dukungan infrastruktur yang kurang memadai.
Inilah yang membuat Yohana memindahkan pusat produksinya dari yang sebelumnya di Kabupaten Sintang, menjadi di Kota Pontianak. Menurutnya, bila diolah di Pontianak, akan lebih mudah dalam proses pengiriman produk ke berbagai daerah.
“Kalau di Pontianak dekat dengan pasar. Harapannya bisa memangkas biaya logistik,” pungkasnya. Editor : Misbahul Munir S