Dalam sebuah hubungan ada tanda-tanda yang perlu menjadi perhatian. Ada istilah yang dikenal dengan green flag, yellow flag, dan red flag, untuk menggambarkan sehat atau tidaknya sebuah hubungan.
Oleh : Siti Sulbiyah
Satu tahun menjalin hubungan percintaan tidak membuat Mawar (25), bukan nama sebenarnya, bahagia. Justru ia tersiksa dengan sikap laki-laki yang kini telah menjadi mantan pacarnya itu. Wanita yang tinggal di Kota Pontianak ini akhirnya memberanikan diri untuk putus dengan kekasihnya setelah kekerasan yang banyak ia terima.
“Dapat kekerasan fisik, mental, dan psikis,” tuturnya menyebutkan kekerasan yang diterima dari mantan pacarnya itu kala masih menjalin hubungan.
Melati merasa mantan pacarnya itu posesif. Sebab, saat menjalin hubungan, ia kerap dikekang. Gerak-geriknya pun diawasi. Kehidupan privasinya seolah direnggut. Aktivitasnya di media sosial hingga pesan di aplikasi obrolan dikontrol oleh pacarnya itu. Selain itu, laki-laki tersebut kerap cemburu dan overthinking.
Mantan pacarnya itu seolah-oleh menguasai dirinya dan segala aktivitasnya. Ia bahkan dibuat menjauh dari keluarga dan teman-temannya. “Tidak boleh quality time, mau keluarga inti ataupun keluarga besar,” katanya.
Selama hampir satu tahun ia tak berdaya menghadapi kondisi ini. Sampai akhirnya tidak kuat dan memilih untuk putus. Ia pun sadar bahwa dirinya berharga. “Saat ini belajar untuk Lebih menyayangi diri sendiri, lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan hangout bareng teman,” pungkasnya.
Pasangan yang senang mengekang dan cenderung posesif, merupakan tanda yang harus diwaspadai dalam menjalin hubungan. Tanda bahaya seperti kerap merujuk pada istilah red flag atau bendera merah. Hubungan seperti itu menandakan alasan mengapa seseorang harus berhenti. Dalam olahraga, bendera merah dikibarkan untuk menghentikan pemain karena pelanggaran.
Psikolog klinis dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog mengatakan red flag bukanlah sebuah istilah ilmiah, melainkan istilah populer yang mengindikasikan seberapa bahaya perilaku seseorang saat menjalin hubungan dengannya, khususnya dalam hubungan percintaan.
“Red flag merupakan sebuah tanda yang serius dalam sebuah hubungan karena membahayakan fisik hingga mental seseorang,” ungkapnya.
Dia menyebut, tanda-tanda pasangan yang memiliki perilaku yang red flag seperti manipulatif, posesif, mendominasi, tidak mau mendengarkan pendapat pasangan, hingga tidak peduli. Selain itu, tanda hubungan yang red flag adalah pasangan yang selingkuh hingga melakukan kekerasan fisik, verbal, dan finansial.
Dirinya mengatakan, ketika menyadari suatu perilaku atau kebiasaan pasangan yang termasuk dalam red flag, sebaiknya jangan anggap remeh pertanda tersebut. Pasalnya, memaksakan hubungan dengan orang yang memiliki sikap yang tergolong red flag bisa berakibat buruk terhadap masa depan hubungan.
Selain istilah red flag, ada pula green flag dan yellow flag untuk menggambarkan sebuah hubungan. Psikolog yang praktik di DSP Consulting Pontianak ini mengatakan, berbeda dengan red flag, yellow flag adalah tanda hati-hati atau waspada dalam sebuah hubungan. Ciri dari yellow flag adalah terjalinnya komunikasi yang kurang baik, hingga pasangan sulit untuk menerima kritik.
“Misalnya mempermasalahkan hal kecil, menyelesaikan masalah dengan tidak dewasa, hingga cenderung tidak menunjukkan keseriusan dalam hubungan,” ujarnya.
Berbeda dengan red flag dan yellow flag, green flag menggambarkan sebuah hubungan yang sehat. Hubungan semacam ini akan membuat perasaan nyaman dan aman, dan kedua orang yang menjalin hubungan bisa saling bertumbuh positif.
Utamakan Kesejahteraan Diri
Psikolog klinis dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog mengingatkan untuk mengutamakan kesejahteraan dan kesehatan diri saat menjalani sebuah hubungan. Menjalin hubungan dengan pasangan yang memiliki sikap menghargai dan menghormati, serta punya komunikasi yang baik, adalah hubungan yang harus dipertahankan.
“Hubungan seperti ini akan aman dan nyaman serta mendukung tumbuh kembang secara positif,” ungkapnya.
Pasangan yang baik tidak hanya memperlakukan dengan rasa hormat, namun juga akan sangat pengertian, sabar, dan benar-benar menikmati hubungan tersebut. Hubungan seperti inilah yang kerap diistilahkan sebagai green flag atau hubungan yang sehat.
Namun begitu, untuk menciptakan hubungan seperti ini, tentulah mesti saling mengusahakan satu sama lain.“Perlu usaha dari kedua belah pihak, tidak bisa satunya bisa punya perilaku green flag, sementara satunya tidak. Jadi harus sama-sama green flag,” tuturnya.
Menurutnya, setiap orang layak memiliki hubungan yang baik dengan punya pasangan yang benar-benar bisa mendukung perkembangan diri dalam hal apapun. (sti)
Berhati-Hati dengan Yellow Flag
Psikolog klinis dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog mengatakan yellow flag dalam sebuah hubungan adalah tanda waspada. Ibarat lampu lalu lintas, lampu kuning berarti mengingatkan pengendara untuk hati-hati. Begitu pula dalam sebuah hubungan.
“Yellow flag ibarat lampu lalu lintas harus hati-hati, karena ini tanda untuk meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Meski tanda-tandanya tidak separah tanda-tanda red flag, namun dirinya mengingatkan potensi tanda-tanda perilaku ini yang berubah semakin parah. Orang yang punya perilaku yellow flag ini bukan tidak mungkin berubah menjadi semakin parah hingga mengarah pada perilaku red flag.
Menjalin hubungan dengan orang yang memiliki tanda yellow flag ini bisa saja untuk diteruskan apabila pasangan menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki diri. Bila tidak diatasi perilaku yellow flag ini, hubungan bisa menjadi semakin buruk. “Potensi untuk mengarah ke red flag ini lebih besar kalau tidak benar-benar diatasi,” imbuhnya. (sti)
Sulit Berharap dari Orang ‘Red Flag’
Psikolog klinis dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog mengatakan sulit untuk berharap pada seseorang akan mengubah perilakunya yang cenderung menunjukkan memiliki tanda-tanda red flag. Hal ini manusia memiliki perilaku yang berpola dan kemungkinan untuk melakukan hal berulang di masa depan.
“Misalnya orang yang suka selingkuh, belum tentu kalau sudah menikah dia tidak akan selingkuh,” tuturnya.
Orang dengan tanda-tanda red flag hanya bisa diharapkan bila benar-benar menunjukkan keseriusannya yang begitu besar untuk berubah. Dan ini juga dibuktikan dengan konsisten berperilaku baik dengan orang lain, terutama dalam hubungan dengan pasangannya.
Bila tidak ada tanda-tanda dari pasangan mengubah perilakunya itu, patut dipertimbangan kelanjutan dari hubungan tersebut. Sebab, tidak ada jaminan pasangan benar-benar akan berubah sementara perilakunya sudah pasti merugikan baik secara fisik maupun mental.
“Kalau sudah membahayakan banget tidak ada perkembangan ke arah yang baik, maka perlu dipikirkan untuk mengakhiri hubungan tersebut,” ujarnya. (sti)
Editor : Siti