Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sebab Orang Muda Enggan Menikah, dari Perubahan Nilai hingga Banyaknya Kasus KDRT

Syahriani Siregar • Sabtu, 23 Maret 2024 | 10:05 WIB

Ilustrasi Toxic Relationship
Ilustrasi Toxic Relationship

Beberapa tahun terakhir, telah terjadi tren menurunnya angka pernikahan di Indonesia. Berbagai faktor yang diduga menjadi penyebabnya, seperti perubahan nilai dan pola pikir generasi muda.

Oleh : Siti Sulbiyah

Angka pernikahan di Indonesia yang terus mengalami tren penurunan menjadi perbincangan hangat di media sosial beberapa hari terakhir. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan di Indonesia yang terus mengalami penurunan cukup signifikan. 

BPS mencatat, pada 2018, angka pernikahan di Tanah Air tercatat sebanyak 2.016.171 pasangan. Pada 2019, angkanya menurun jadi 1.968.878. Pada 2020, angkanya menurun lagi menjadi 1.792.548. Sedangkan pada 2021, angkanya menciut menjadi 1.742.049 pasangan, kemudian pada 2022 sebanyak 1.705.348, dan 2023 sebanyak 1.577.255 pasangan.

Melihat data ini, Maria (23) tak begitu heran. “Kalau menurut aku itu sepertinya bukan hal yang mengejutkan lagi,” kata anak muda di Kota Pontianak ini.

Sebagai generasi Z, ia melihat fenomena ini terjadi disebabkan lantaran orang muda takut untuk menjalani kehidupan pernikahan. Ia sendiri merasakan demikian. Berbagai informasi seputar tidak bahagiannya kehidupan rumah tangga yang berseliweran, bahkan tak sedikit yang viral, mengubah pola pikir orang muda tentang pernikahan itu sendiri.

“Sekarang kita tahu media sosial mudah diakses, mudah digunakan. Banyak trending atau hal viral mengenai KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), terus orang-orang yang menikah berbagi pengalaman terkait nggak enaknya kehidupan setelah menikah,” katanya,

Tak hanya itu, faktor biaya hidup setelah menikah juga menjadi kekhawatiran orang muda untuk menikah. Informasi tentang tidak enaknya menikah tersebut seolah mengganti doktrin yang selama ini menggambarkan bahwa pernikahan sebagai kehidupan yang indah. 

“Jujur aku pernah kepikiran untuk gak menikah, bisa dibilang aku salah satu yang kena doktrin ini,” kata dia.

Diusianya yang masih cukup muda, belum ada dalam pikirannya untuk menikah dalam waktu dekat. Fokusnya saat ini adalah bekerja untuk menyambung kehidupan. “Sekarang belum memikirkan menikah, lebih sibuk mikirin besok mau makan apa dari mana uangnya,” pungkasnya.

Di era modern ini, terjadi pergeseran paradigma terkait dengan institusi pernikahan, khususnya di kalangan anak muda. Tidak sedikit dari mereka yang menunda atau bahkan menolak untuk menikah. Devy Hestiwana, M. Psi, Psikolog menilai tren penurunan angka pernikahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga beberapa negara maju lainnya. 

“Sebagai contoh Jepang dan korea,” ucap psikolog di Kota Pontianak ini.

Ia menilai, fenomena penurunan angka pernikahan ini bisa saja disebabkan oleh adanya perubahan nilai di masyarakat soal perkawinan. Perkawinan dianggap sebagai kebutuhan biologi, kebutuhan seksual, yang bisa dilakukan tanpa adanya ikatan. Sementara ada pandangan pula bahwa perkawinan merupakan kewajiban utamanya memiliki keturunan. 

“Akibat dari pandangan itu, mendorong generasi muda enggan untuk memiliki ikatan perkawinan,” katanya.

Beberapa faktor turut memengaruhi, di antaranya ekonomi yang tidak stabil, mental yang belum siap, kondisi sosial budaya yang mulai modern dan terbuka. Kemudian maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan menjadi alasan bagi sejumlah masyarakat untuk tidak menjalin hubungan. Tingginya kasus perceraian juga dapat dikatakan sebagai salah satu faktor kuat untuk tetap melajang. 

Selain itu, lanjutnya, untuk sebagian perempuan makin ingin mandiri dan diakui. Sebab, perempuan memiliki ketidakpercayaan yang cukup besar bila menyerahkan hidupnya kepada institusi keluarga dengan realitas seperti kekerasan dalam rumah tangga yang jumlahnya semakin tinggi.

Kehidupan rumah tangga yang tak seindah yang dibayangkan tersebut juga turut membuat orang muda memilih untuk menunda menikah. Kondisi ini juga bisa diperkuat dengan keinginan untuk berfokus pada pengembangan karier.. 

“Kemudian masih ingin menikmati kehidupan pribadi di luar karier. Karena merasa selama ini belum punya waktu untuk diri sendiri. Jadi ada keinginan untuk menikmatinya,” jelasnya. 

Faktor yang membuat orang muda menunda pernikahan adalah merasa belum menemukan pasangan yang tepat dan sesuai ekspektasi ideal tentang pasangan. Sebagai contoh, jika seseorang sudah bekerja dan memiliki pendidikan yang tinggi, kemungkinan besar memiliki harapan jika akan mendapatkan pasangan yang setara. 

“Jika belum mendapatkan, biasanya mereka tidak ada masalah untuk menunda dahulu karena sudah nyaman dengan situasi saat ini,” ujarnya.

Sebagian lagi, lanjutnya, menilai dirinya belum mampu menjalankan fungsi keluarga bagi pasangan dan anaknya nanti. Fungsi itu seperti komunikasi, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, pengelolaan finansial, kecerdasan emosi dan psikologis, kesiapan sarana tempat tinggal, juga fungsi lainnya. 

Sebagian orang, menurutnya, menilai bahwa menikah juga dianggap tidak menjamin seseorang akan merasa kesepian ataupun agar masa tuanya ada yang merawat. Selain itu, pengalamannya dengan pasangan yang pernah selingkuh, atau punya trauma jika ada orang tua selingkuh atau mendapatkan KDRT semakin membuat ragu untuk menikah. 

“Informasi di media sosial  yang dapat diakses dengan mudah, memperlihatkan pernikahan yang tidak menyenangkan, membuat generasi muda semakin merasa pernikahan menjadi bukan prioritas utama,” paparnya.**

Editor : Syahriani Siregar
#pernikahan