Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kala Remaja Terjebak Toxic Relationship

Syahriani Siregar • Minggu, 4 Agustus 2024 | 14:15 WIB

Ilustrasi Toxic Relationship
Ilustrasi Toxic Relationship
Toxic relationship atau hubungan tidak sehat adalah fenomena yang juga bisa terjadi di kalangan remaja. Hubungan ini tidak hanya merugikan secara emosional, melainkan fisik, maupun psikologis. 

Oleh : Siti Sulbiyah

Hubungan interpersonal adalah bagian penting dari kehidupan remaja. Di masa ini, mereka belajar tentang persahabatan hingga hubungan yang sehat. Namun, tidak semua hubungan berjalan dengan baik. Beberapa remaja terjebak dalam apa yang disebut sebagai toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat.

Dosen Itekes Muhammadiyah Kalbar, Ns. Prasetyo Aji Nugroho, MNS menilai toxic relationship didefinisikan sebagai sebuah hubungan antar individu atau kelompok yang bersifat merusak, tidak hanya fisik, tapi juga bisa mental seseorang. Tak hanya terjadi pada orang dewasa, relasi beracun ini juga bisa terjadi pada kelompok remaja.

“Jika dihubungkan dengan remaja, lingkupnya terjadi pada hubungan pertemanan, percintaan atau asmara, serta hubungan dengan orang tuanya,” tuturnya. 

Masa remaja adalah periode penting dalam kehidupan seseorang. Pada fase ini, mereka mulai mengeksplorasi identitas diri dan hubungan sosial. Namun, tidak sedikit yang pada fase ini terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Menurut Prasetyo ada beberapa tanda atau bentuk-bentuk dari hubungan tidak sehat pada remaja.

“Ada hubungan yang mana terkekang, ada keegoisan, mendapatkan tekanan dari seseorang, ada timbul perasaan tidak nyaman ketika berhubungan dengan orang lain,” ucapnya.

Di samping itu, bentuk hubungan tidak sehat pada remaja adalah adanya kekerasan, baik itu kekerasan fisik, verbal, seksual, hingga mental. 

Remaja yang mengalami beberapa di antara tanda-tanda toxic relationship tersebut berpotensi memunculkan dampak negatif. Dari sisi masalah kesehatan mental, hubungan beracun dapat menyebabkan remaja merasa tidak berharga dan kehilangan kepercayaan diri.

“Hal ini memengaruhi remaja dalam pengaturan emosionalnya, yang mana dia akan kesulitan menemukan sisi positif dalam dirinya, sehingga remaja akan tidak percaya diri dan memiliki harga diri yang rendah,” imbuhnya. 

Remaja juga bisa merasakan kecemasan dan masalah kesehatan mental lainnya ketika terjebak dalam hubungan semacam ini. “Bisa muncul gejala kecemasan, stress, hingga depresi,” tambahnya.

Selain itu, dampak lainnya dari toxic relationship pada remaja adalah munculnya perilaku tidak jujur hingga hilangnya rasa menghormati.

Di samping itu, salah satu tantangan bagi remaja dalam hubungan tidak sehat adalah kesulitan untuk keluar dari hubungan tersebut. “Ada ketergantungan dengan orang lain sehingga sulit terlepas dari hubungan (toksik) yang sedang dijalani itu,” paparnya. 

Lantaran bergantung dengan orang lain, atau masih merasa dalam kekangan, maka dalam hal ini remaja akan menghadapi kesulitan dalam mengambil keputusan. Dalam hal ini, remaja yang terkekang akan merasa tidak percaya diri serta selalu mengkritik diri sendiri. Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi kesehatan mental remaja. 

Prasetyo menilai pengalaman dalam hubungan tidak sehat dapat meninggalkan bekas yang dalam dan mempengaruhi cara remaja memandang hubungan di masa depan. Remaja akan memiliki trauma ketika akan berhubungan sama orang lain.

“Sehingga ia akan mengalami ketakutan untuk berinteraksi dengan orang lain, merasa cemas, khawatir, dan akan menimbulkan pikiran negatif, sehingga menjadi pribadi yang menutup diri,” katanya.

Ia menilai penting bagi orang tua untuk menangani situasi ini dengan sensitif dan tidak terburu-buru dalam memberikan penilaian. Orang tua menurutnya dapat melihat tanda-tanda seperti anak menunjukkan perubahan signifikan dalam suasana hati, sering merasa cemas, sedih, atau cenderung diam dan mengurung diri.

Selain itu, lanjutnya, bisa juga terjadi sebaliknya, di mana anak justru gampang marah, membangkang atau membantah apa yang dikatakan orang tua. Termasuk bila anak menunjukkan tanda-tanda tidak nafsu makan. 

Peran orang tua dalam mengatasi anak yang terjebak dalam relasi ini sangatlah penting. Orang tua menurutnya perlu menjalin komunikasi asertif yang membuat anak merasa tidak dihakimi. Orang tua perlu menunjukkan sikap sebagai orang yang siap mendengarkan.

“Jadi di sini orang tua bersikap sebagai teman sebaya,atau teman curhatnya,” tuturnya.

Orang tua perlu mencari tahu bagaimana kegiatan yang dilakukan anak sehari-hari, kondisi lingkungan di sekolahnya, dengan cara yang tidak seperti mengintrogasi. Komunikasi akan terjalin dengan baik apabila hal ini telah dibangun sejak lama sehingga apabila anak memiliki masalah, orang tua segera mengetahui karena anak tak sungkan untuk bercerita. 

“Orang tua perlu mendengarkan secara aktif, memberikan anak untuk mengekspresikan emosinya, sehingga remaja tersebut memiliki komunikasi yang terbuka kepada orang tua,” paparnya. **

 

Editor : Syahriani Siregar
#toxic relationship