PONTIANAK - Ada banyak alasan kenapa friendship marriage menjadi pilihan dalam menjalani kehidupan. Kemungkinan pertama, bisa karena tidak mau terlalu merasa bertanggung jawab satu sama lainnya.
“Contohnya suami tidak perlu merasa dituntut harus mencari nafkah dan menghidupi istri dan anaknya. Begitu juga istri tidak perlu dituntut untuk melayani kebutuhan suami, menyiapkan makan, memasak, mengurus anak dan rumah, juga melayani di ranjang,” ungkap Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog.
Dalam hal ini, masing-masing individu dapat lebih fokus untuk diri sendiri dalam mengejar tujuan dalam hidupnya baik dalam hal karier ataupun mengejar pendidikan yang lebih tinggi.
Alasan lainnya bisa juga karena masalah seksual. Bisa jadi salah satu pihak mengalami kemandulan, disfungsi ereksi, kelainan orientasi seksual atau hal lainnya sehingga memutuskan untuk friendship marriage. Dengan menjalani hubungan semacam ini pasangan merasa lebih bisa menerima keadaan satu sama lain.
Sebagai contohnya, seorang homoseksual atau ketertarikan pada sesama jenis, memutuskan untuk menjalani friendship marriage karena masih ingin mendapatkan koneksi dan persahabatan.
“Hal ini dikarenakan di negara kita melarang adanya pernikahan sejenis,” ucapnya.
Alasan lain kenapa orang memilih friendship marriage bisa jadi karena sebelumnya sering merasa kecewa dan lelah secara emosional saat menjalani hubungan romantis. Sudah sewajarnya seseorang menginginkan hubungan yang stabil dan minim drama di saat umur semakin bertambah.
“Seringkali ribut, putus nyambung, dan hubungan yang toxic dalam hubungan romantis membuat orang-orang lelah dan mendambakan kenyamanan dan kestabilan emosional,” ucapnya.
Partner yang baik dalam berkomunikasi dan status yang jelas sebagai istri atau suami seseorang dalam kehidupan sosial membuat pasangan menjadi merasa tuntutan pernikahan yang tinggi di masyarakat sudah terpenuhi.(sti)
Editor : Miftahul Khair