Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hati-Hati, Anak Bisa Meniru Perilaku Negatif Orang Tua

Miftahul Khair • Selasa, 20 Agustus 2024 | 14:02 WIB
Ilustrasi anak meniru perilaku negatif. (FREEPIK)
Ilustrasi anak meniru perilaku negatif. (FREEPIK)

Anak-anak dikenal sebagai peniru ulung. Dari usia dini, mereka mengamati dan meniru perilaku orang di sekitar mereka. Namun, kemampuan ini memiliki dua sisi, anak dapat meniru perilaku positif yang baik, tetapi juga bisa menyerap perilaku negatif.

Oleh: Siti Sulbiyah

ANAK-anak memiliki kecenderungan alami untuk meniru perilaku orang lain karena mereka belajar melalui observasi. Ini dikenal sebagai imitasi atau peniruan, yang merupakan bagian krusial dari perkembangan sosial mereka. 

“Meniru perilaku orang lain itu karena mereka memiliki kecenderungan alami untuk belajar melalui observasi,” ucap Dosen IAIN Pontianak, Dr. Randi Saputra, M.Pd., Kons.

Pada usia balita, anak-anak sangat reseptif terhadap lingkungan sekitar, termasuk perilaku orang tua, saudara, teman-teman mereka, atau pengasuh. Melalui pengamatan ini, mereka memahami cara berinteraksi, mempelajari bahasa, dan menavigasi dunia sosial mereka.

Ia menilai, proses ini membantu anak-anak memperluas pemahaman mereka tentang norma dan nilai-nilai dalam masyarakat.

Dengan meniru perilaku orang dewasa dan teman sebaya, mereka secara bertahap mengasah keterampilan sosial dan membangun fondasi untuk perilaku yang lebih kompleks di masa depan. 

Sehingga, kata dia, ketika anak-anak cepat meniru perilaku orang lain, ini sebagian besar adalah respons alami terhadap dorongan mereka untuk memahami dan terlibat dengan dunia di sekitar mereka.

Apa saja faktor yang mempengaruhi anak dalam meniru perilaku orang lain? Randi mengatakan, anak-anak cenderung meniru perilaku orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Pertama, faktor internal seperti usia. Anak-anak, terutama pada usia balita, secara alami memiliki kecenderungan untuk belajar melalui observasi karena otak mereka sedang mengalami perkembangan pesat.

 “Semakin besar kecenderungan untuk meniru perilaku orang lain karena otak mereka itu sedang dalam fase perkembangan pesat. Makanya apa yang dilihat sama anak-anak itu cepat direkam melalui apa diamatinya,” jelasnya.

Kedua, lingkungan sosial juga memainkan peran penting. Anak-anak yang berada dalam lingkungan dengan interaksi sosial yang beragam lebih cenderung meniru perilaku yang mereka lihat.

Semakin banyak interaksi sosial yang dilakukan anak, semakin besar kemungkinan mereka meniru perilaku orang lain.

Faktor ketiga adalah hubungan emosional. Anak-anak cenderung meniru perilaku dari orang-orang yang mereka percaya dan cintai, seperti orang tua dan pengasuh. Interaksi yang sering dengan orang-orang terdekat dapat mempengaruhi anak untuk meniru perilaku mereka.

Faktor-faktor ini secara bersama-sama memengaruhi bagaimana anak-anak mengamati, memilih, dan meniru perilaku dari lingkungan mereka, yang merupakan bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional mereka.

Perilaku yang konsisten, baik positif maupun negatif, memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku anak. Anak-anak cenderung meniru perilaku dari lingkungan sekitar mereka, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti budaya, nilai, dan norma.

Budaya yang mengelilingi seorang anak sangat mempengaruhi jenis perilaku yang mereka amati dan tiru.

Misalnya, anak dari etnis A mungkin akan menunjukkan perilaku yang berbeda dengan anak dari etnis B, karena perbedaan nilai dan norma yang ada dalam budaya mereka masing-masing.

Randi menekankan pentingnya peran orang tua dalam memantau anak-anak mereka, terutama saat mereka berada dalam masa golden age atau masa emas.

"Orang tua itu harus ekstra hati-hati. Kalau sudah yang namanya anak, apalagi dalam masa golden age, itu benar-benar harus memperhatikan," ujar Randi.

Dalam menyerap informasi, anak-anak memiliki kemampuan luar biasa yang dapat membawa dampak positif.

Menurut Randi, ada beberapa manfaat dari kemampuan anak untuk mengamati dan meniru perilaku orang lain. Ini sangat bermanfaat dalam hal perkembangan bahasa dan kemampuan kognitif lainnya. 

"Melalui meniru, anak-anak bisa mengembangkan kemampuan bahasa dan keterampilan kognitif lainnya," tambah Randi.

Manfaat selanjutnya yang disebutkan Randi adalah anak-anak dapat belajar strategi baru untuk menyelesaikan masalah dengan mengamati orang lain.

"Misalnya, jika ayah menyelesaikan pintu yang rusak, anak akan mengamati dan belajar strategi baru untuk menyelesaikan masalah tersebut," katanya.

Baca Juga: Waspada Kehilangan Uang Akibat Impersonation Scam

Namun, Randi juga mengingatkan bahwa anak-anak juga bisa meniru perilaku negatif yang mereka lihat di lingkungan sekitar, seperti agresi, perilaku tidak sopan, dan bahasa kotor.

"Anak terlalu bergantung pada apa yang dilihatnya dan sering tidak bisa membedakan apakah perilaku itu baik atau tidak. Ini bisa menyebabkan miskonsepsi tentang tindakan dan konsekuensinya," jelasnya.

Randi menekankan pentingnya peran orang tua dalam meluruskan perilaku yang salah yang ditiru anak-anak. "Jika orang tua tidak meluruskan, maka perilaku negatif tersebut bisa menjadi kebiasaan yang terus-menerus dilakukan anak," paparnya.

Dengan demikian, penting bagi orang tua untuk selalu memantau dan memberikan teladan yang baik, serta menjelaskan dengan benar perilaku yang seharusnya ditiru oleh anak-anak mereka.(*)

Editor : Miftahul Khair
#perilaku orang tua #anak peniru ulung #anak meniru perilaku negatif