Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Fenomena Childfree, dan Alasan di Belakangnya

Miftahul Khair • Rabu, 21 Agustus 2024 | 10:00 WIB
Ilustrasi ibu dan anak. (FREEPIK)
Ilustrasi ibu dan anak. (FREEPIK)

Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Keputusan ini seringkali didasarkan pada berbagai alasan, mulai dari pertimbangan pribadi hingga faktor sosial dan ekonomi.

Oleh: Siti Sulbiyah

ISTILAH childfree mengacu pada individu atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka.

Fenomena ini pun memunculkan beragam tanggapan. Salsabila (27), warga Kota Pontianak menilai pilihan seseorang untuk memutuskan childfree tidak salah.

“Karena, setiap orang punya hak buat menentukan apa yang mereka mau lakukan sama hidup mereka. Kalau ada yang pilih nggak punya anak, ya sudah, itu pilihan mereka,” tuturnya.

Di zaman sekarang, menurutnya apabila memutuskan childfree dianggap wajar. Hal ini karena kebutuhan serba mahal, dan banyak kasus yang melibatkan anak dengan alasan ekonomi.

Dalam benak orang, menurutnya bisa saja lebih baik finansial stabil baru memikirkan punya keluarga.

Riana (23) menilai keputusan untuk tidak memiliki anak adalah keputusan masing-masing orang. Namun, yang jadi masalah adalah ketika orang-orang memilih childfree karena fomo.

“Sebaiknya kalo mau childfree pikirin matang-matang sebab dan alasannya,” katanya.

Bila ia menghadapi seseorang yang memilih untuk childfree, termasuk bila itu kelak adalah calon pasangannya, ia mengaku tidak akan menghakimi.

Soal masa depan rumah tangga, kata dia, tentunya akan didiskusikan tentang apa yang jadi alasan untuk akhirnya childfree dan strategi rumah tangga seperti apa yang akan disusun.

“Intinya keputusan kelak berdasarkan alasan yang jelas dan masuk akal,” ucapnya.

Sementara itu, dalam survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia, diketahui bahwa persentase perempuan childfree di Indonesia cenderung meningkat dalam empat tahun terakhir. Survei ini dirilis pertengahan tahun lalu.

Dari survei tersebut diketahui pada tahun 2022, sekitar 8 orang diketahui memilih hidup childfree diantara 100 perempuan usia produktif yang pernah kawin, namun belum pernah memiliki anak serta tidak sedang menggunakan alat KB.

Jumlah ini setara dengan 0,1 persen perempuan berusia 15-49 tahun. Artinya, dari 1000 perempuan dewasa di Indonesia, satu diantaranya telah memutuskan untuk childfree.

Dalam Jurnal Psikologi Sains dan dan Profesi Universitas Padjadjaran berjudul Studi tentang Ideologi Childfree pada Perempuan Dewasa yang Belum Menikah, menemukan bawah ada beragam motivasi dari pilihan perempuan yang belum menikah dan memilih ideologi childfree.

Keputusan perempuan yang belum menikah untuk childfree dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan dari segi komponen individualis, feminis, dan pesimis. Perempuan ini ingin hidup mandiri, bebas, dan fokus pada diri sendiri.

Masih dalam jurnal tersebut, ditemui bahwa ada pandangan pesimis dari ideologi childfree mencerminkan ketidakpercayaan terhadap prospek dalam memiliki anak karena ketidakpastian masa depan atau pandangan negatif terhadap tantangan yang berkaitan dengan peran orang tua.

Psikolog di Kota Pontianak, Dwi Surya Purwanti, M.Psi., Psikolog menilai childfree adalah sebuah keputusan pribadi atau individu ataupun sebuah  keputusan bersama dalam konteks pasangan untuk tidak memiliki keturunan atau anak.

Ia menilai, keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree yang dilakukan oleh individu ataupun pasangan, biasanya sudah melalui banyak pertimbangan.

Meski begitu, keputusan tersebut pasti memiliki latar belakang atau sebab. Sebagian besar, penyebab utamanya adalah karena trauma di masa lalu.

"Penyebabnya ini dikaitkan dengan adanya trauma pada masa lalu. Kondisi yang pernah dialami di mana mentalnya tidak sehat karena trauma tersebut, atau ada trauma lain yang tidak bisa diselesaikan," ungkapnya.

Ada pula karena trauma yang berkaitan dengan masalah finansial, masalah pendukung lainnya ataupun lingkungan. Lingkungan sekitar yang dirasa tidak sehat apabila memiliki anak, juga bisa menjadi pertimbangan.

Sebab lainnya, lanjutnya, adalah adanya kekhawatiran tentang masa depan lingkungan yang mengancam kehidupan manusia, pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan rasa ketidakmampuan mengasuh anak, serta kondisi ekonomi.

Namun yang paling dominan, kata dia, adalah karena adanya trauma yang menjadi pemicu orang menganut childfree.

"Fakta di lapangan, ketika ditelusuri sumber utama alasanya adalah trauma dan masalah kondisi mental seseorang. Dalam kondisi masalah mental yang kurang baik, tentu perasaan-perasaan ketidakmampuan akan banyak hal selalu menyelimuti dirinya yang dimana akan membuat orang menjadi overthinking akan sesuatu hal yang harusnya tidak perlu menjadi fokus perhatian dia," jelasnya.(*)

Editor : Miftahul Khair
#childfree #pernikahan tanpa anak