Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Komitmen Ibu Herlina Selama 22 Tahun Usaha Amplang

A'an • Selasa, 24 September 2024 | 14:47 WIB
Herlina
Herlina

Usaha pelestarian budaya dan kuliner lokal dilakukan dengan penuh dedikasi Herlina. Dengan komitmen 22 tahun, ia terus menghidupkan amplang, camilan khas Ketapang melalui inovasi rasa dan perhatian terhadap kualitas produk. Di sisi lain, Herlina berusaha memperkenalkan keindahan batik Ketapang.

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

Puluhan perempuan dari berbagai kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar) memadati Ballroom Hotel Golden Tulip Pontianak, Kamis (12/9). Mereka mengenakan pakaian batik berwarna putih dengan motif berwarna biru terang. Ini adalah seragam khas bagi para anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).

“Anggota Iwapi Kalbar saat ini telah lebih dari 1000 orang yang bergerak di berbagai bidang usaha,” ungkap Oktavia, Ketua Iwapi Kalbar, usai kegiatan pembukaan acara Rakerda Iwapi Kalbar tersebut.

Oktavia mengatakan ada banyak pengusaha perempuan anggota Iwapi  Kalbar yang berdedikasi untuk memajukan perekonomian perempuan. Mereka turut memberdayakan perempuan dengan membuka lapangan pekerjaan, bahkan ikut melahirkan pengusaha-pengusaha baru.

Salah satu perempuan yang menurutnya menginspirasi adalah Herlina (62). Ketua Iwapi Ketapang itu menurut Oktavia memiliki kiprah yang signifikan dalam melestarikan amplang, salah satu camilan khas kabupaten berjuluk Kota Ale-Ale tersebut.

Herlina datang jauh-jauh dari Ketapang tak sekedar menghadiri Rakerda Iwapi Kalbar. Ia punya semangat yang besar untuk memajukan dunia usaha di Kalbar. Ini adalah bagian dari mengkonsolidasikan program yang bertujuan untuk mendorong pelaku usaha perempuan. Terlebih di Kabupaten Ketapang, Herlina menilai ada banyak potensi yang bisa berkembang.

“Pelaku usaha perempuan harus terus berkembang. Pengusaha perempuan di Ketapang cukup semangat apalagi mulai bermunculan pengusaha-pengusaha muda,” ujar Herlina.

Herlina telah 22 tahun menjalankan usaha amplang. Ia melahirkan merek bernama Obic, salah satu produsen amplang yang besar di Kabupaten Ketapang.

Ia merupakan seorang guru yang memutuskan pensiunan sejak tahun 2002. Setelah tak lagi aktif mengajar, ia memulai usaha produksi camilan berbahan dasar ikan tersebut. Pascapensiun, ia merasa tidak enak hidup menganggur sehingga mencoba buka usaha.

Keterampilan yang ia lihat pada anak pengasuhnya yang mahir membuat amplang, memicu minatnya untuk mencoba peruntungan di bidang tersebut. Dari sana, keinginan Herlina untuk membuat amplang muncul dan berkembang.

Pada awalnya, Herlina hanya membuat amplang dalam jumlah kecil, mulai dari 3 kilogram dan meningkat hingga 5 kilogram, sampai akhirnya mencapai produksi 20-30 kilogram untuk dagingnya saja. Sejak memulai usaha pada tahun 2002, ia telah menjajal berbagai inovasi untuk memberikan sentuhan berbeda pada amplang buatannya.Ia mencoba memberikan sentuhan yang berbeda dari amplang yang ia bikin. Ia mencoba menginovasikan amplang dengan berbagai rasa.

“Saya harus beda sama orang,” katanya.

Dalam usaha tersebut, ia berusaha menghadirkan varian rasa yang tidak umum, seperti pedas, coklat, campuran kunyit, keju, bawang goreng, dan udang ebi. Namun, tidak semua varian rasa berhasil. Rasa coklat dan kunyit, misalnya, tidak sesuai dengan selera sehingga tidak dilanjutkan. Sementara itu, keempat varian rasa lainnya terus dipertahankan dan masih tersedia hingga saat ini.

“Saya ada varian rasa, dan mungkin di Ketapang saya satu-satunya yang ada varian rasa,” tambahnya.

Ia memperhatikan kualitas produknya dengan berfokus pada kesehatan. Ia memilih menggunakan bahan-bahan alami dan menghindari penggunaan tepung dalam proses pembulatan adonan, meskipun ini membuat adonan lebih sulit dibentuk. Menurutnya, tepung akan menyerap lebih banyak minyak, yang bisa mengurangi kualitas amplang.

Selain itu, untuk memastikan amplang tidak terlalu berminyak, ia menggunakan mesin spinner untuk mengurangi kadar air dan minyak setelah proses penggorengan. Proses ini menurutnya sangat dibutuhkan karena jika tidak amplang akan mengandung minyak yang tentunya dapat mengurangi cita rasa amplang itu sendiri.

“Karena kalau tidak (di-spinner) maka amplang mengandung banyak minyak. Jadi spinner itu untuk mengeringkan,” katanya.

Dengan usaha yang telah berjalan selama 22 tahun, usaha amplang bermerek Obic kini memproduksi sekitar 600-700 kilogram amplang setiap bulannya. Jumlah ini bisa meningkat pada saat hari besar seperti Idulfitri atau event-event besar di Kabupaten Ketapang.

“Kalau lebaran bisa sampai dua kali lipat bahkan tiga kali lipat,” tambahnya.

Ia menggunakan ikan tenggiri untuk membuat amplang karena teksturnya yang lebih halus dan lembut. Meskipun dulu ia juga menggunakan ikan belidak yang lebih enak, saat ini penggunaan belidak sudah dilarang karena populasinya yang terancam punah. Selain membuka gerai di Ketapang, ia juga membuka cabang di Kota Pontianak, di mana amplangnya bisa ditemukan di pusat oleh-oleh dan ritel modern. Penjualan online juga dikelola oleh anaknya yang mengatur distribusi ke luar Kalimantan Barat.

Tantangan dalam usaha ini adalah persaingan yang ketat, dengan banyaknya produsen baru yang menawarkan harga lebih murah. Meski begitu, dirinya tetap optimis bahwa kualitas dan rasa amplangnya akan membuat orang kembali mencarinya. Selain itu, kenaikan harga bahan baku seperti minyak dan tepung juga menjadi tantangan tersendiri, membuat penyesuaian harga jual menjadi sulit.

Herlina terus berkomitmen untuk memproduksi amplang berkualitas dan sehat. Upaya ini tidak hanya mempertahankan warisan kuliner lokal, tetapi juga memperkenalkan keunikan amplang Ketapang kepada pasar yang lebih luas.

“Kalau usaha, kita berbuat dulu, nanti pasar yang akan mencari kita. Membuat dulu, berkarya dulu, nanti pasar yang akan mencari kita,” pesannya.**

Editor : A'an
#Amplang #kuliner lokal #ketapang