Mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda barangkali menjadi impian bagi banyak pelajar Indonesia. Dengan sistem pendidikan yang berkualitas tinggi dan lingkungan yang mendukung, Belanda menjadi tujuan menarik bagi mahasiswa.
Oleh : Siti Sulbiyah
BELANDA telah menjadi salah satu tujuan studi populer bagi pelajar internasional. Dengan sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, budaya yang inklusif, dan banyak program yang diajarkan dalam bahasa Inggris, banyak pelajar bermimpi untuk melanjutkan pendidikan di negeri kincir angin ini.
Dimas Apriyandi, peraih beasiswa di Belanda berbagi tips dan trik supaya bisa lolos melanjutkan pendidikan di negeri kincir angin. Ia mengatakan ada beberapa jenis beasiswa yang memberikan kesempatan bagi pelajar Indonesia yang ingin belajar di luar negeri. Sama seperti beasiswa luar negeri pada umumnya, beasiswa ke Belanda juga terbuka melalui berbagai jalur.
“Setidaknya ada tiga pintu beasiswa, yakni beasiswa pemerintah, beasiswa swasta, dan beasiswa universitas,” ungkap Peraih Gelar Master of Business Information Technology Master’s Degree University of Twente Belanda ini.
Bagi pelajar yang ingin menempuh pendidikan di Belanda, beasiswa pemerintah dibuka melalui beberapa kementerian, seperti Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).
“Untuk beasiswa Kominfo itu, khusus untuk yang pekerja digital,” tuturnya.
Tak hanya pemerintah Indonesia, pemerintah Belanda juga memberikan kesempatan bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di negara kincir angin tersebut.
Untuk beasiswa swasta juga tak kalah banyaknya. Pelajar Indonesia bisa mencari perusahaan di negara bersangkutan yang membuka beasiswa untuk pelajar dari berbagai negara.
Sejumlah universitas di Belanda juga membuka peluang beasiswa bagi pelajar negara lain, termasuk Indonesia. Uniknya, kata Dimas, beasiswa universitas ini bisa diterima oleh pelajar yang telah menerima beasiswa dari pemerintah Belanda. Sehingga pelajar bisa mendapatkan beasiswa secara dobel.
“Kadang orang hanya fokus ke LPDP saja. Padahal masih banyak kesempatan lain,” ujarnya.
Mendapatkan beasiswa tentunya membutuhkan persiapan yang matang dan ketekunan. Ada beberapa syarat umum yang diberlakukan bagi pendaftar beasiswa keluar negeri. Salah satunya adalah keberadaan motivation letter.
Motivation letter adalah salah satu elemen kunci dalam proses pendaftaran beasiswa luar negeri. Dokumen ini memberikan kesempatan kepada pelamar untuk menonjolkan diri serta latar belakang dari keinginan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Melalui dokumen ini, juga dijelaskan mengapa tertarik pada program studi tertentu dan mengapa memilih institusi tersebut.
“Juga menulis tentang relevansi rencana tesis dengan Indonesia atau negera mereka itu apa,” ujarnya.
Kemampuan bahasa Inggris yang baik sangat penting dalam proses pendaftaran beasiswa di luar negeri. Bahasa Inggris sering kali menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan tinggi, tak terkecuali di Belanda, yang hampir seluruh penduduknya mengerti bahasa tersebut. Untuk kebutuhan beasiswa, pelamar wajib memiliki sertifikat seperti TOEFL IBT ataupun IELTS. Selain itu, ada pula Duolingo. Aplikasi untuk mempelajari lebih dari 40 bahasa tersebut kini juga mampu mengeluarkan sertifikasi.
“Kalau mau daftar LPDP, termasuk beasiswa ke Amerika juga sudah menerima ini (Duolingo,red),” tuturnya.
Selain dokumen persyaratan, persiapan yang tidak kalah penting adalah wawancara. Tes ini umumnya dilakukan setelah pelamar beasiswa telah melengkapi dokumen persyaratan yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa.
Tes wawancara memberi kesempatan untuk menonjolkan kepribadian dan motivasi yang tidak selalu terlihat dalam dokumen aplikasi. Ini adalah saat yang tepat untuk minat dan tujuan akademis yang ingin dicapai. Dalam sesi interview, Dimas menekankan pentingnya penguatan alasan melanjutkan pendidikan di luar negeri.
“Relevansikan dengan karir, studi, dan apa sih dampak kepada masyarakat sekitar. Dampaknya tidak perlu besar, dalam lingkungan RT pun tidak masalah,” ucapnya.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif sangat penting dalam lingkungan akademis. Persiapan wawancara membantu berlatih berbicara dengan percaya diri, menjawab pertanyaan, dan mengungkapkan ide-ide dengan baik. Proses wawancara ini melibatkan beberapa profesional
Misalnya beasiswa dari LPDP. “Jadi ada interviewer dari LPDP, psikolog, dan orang yang mengerti di bidang kamu. Biasanya ada yang lain lagi,” imbuhnya.
Beberapa dokumen juga perlu dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Misalnya dokumen seperti Kartu Keluarga, KTP, Akta, dan ijazah. Dokumen-dokumen ini harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris secara tertulis oleh lembaga berwenang. **
Editor : A'an