Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Waspada HubunganToksik Berkedok Romantis

Miftahul Khair • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 11:33 WIB
Ilustrasi toksik.
Ilustrasi toksik.

Banyak orang mendambakan hubungan yang romantis dan penuh kasih. Namun, ada kalanya romansa itu diselimuti oleh sifat-sifat toksik yang dapat merusak kesehatan emosional dan mental. 

Oleh : Siti Sulbiyah

Kerap kali perasaan cinta yang melebihi logika dapat menyebabkan hubungan menjadi toksik. Ya, sikap beracun ini sering kali dianggap romantis dan membuat para korbannya menjadi buta akan cinta, sehingga tak menyadari realita dan dampak buruk yang dialami.

Psikolog Reni Nurhayati, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa hubungan seperti ini memiliki ciri-ciri yang jelas. Salah satu pihak cenderung mengontrol pihak lainnya, sehingga orang yang dikontrol merasa kesulitan untuk menjadi diri sendiri. Meskipun terlihat perhatian, seseorang yang orang toksik sering kali berusaha mengontrol aspek-aspek kehidupan pasangannya.

Ciri lainnya adalah membungkus sikap romantisme namun bermaksud manipulatif. Seseorang mungkin akan memberikan sikap romantis seperti menyatakan cinta atau memberikan hadiah untuk menutupi perilaku buruk, mengharapkan balasan yang tidak wajar sebagai tanda terima kasih.

“Perilaku yang tampak romantis pada awalnya bisa berbalik menjadi manipulatif dan mengendalikan,” tuturnya.

Padahal, orang yang berperilaku toksik dalam sebuah hubungan biasanya tidak memberikan dukungan yang seharusnya, sering kali berbohong, dan bahkan melakukan kekerasan fisik. “Selain itu, komunikasi yang buruk, seringkali penuh dengan kata-kata sarkasme atau kasar, menjadi salah satu indikator hubungan toksik semacam ini,” katanya.

Ciri seseorang yang toksik  adalah sikap posesif dan cemburu. Saling menjaga dan mempercayai satu sama lain adalah hal yang wajar. Salah satu cara untuk mengekspresikan cinta adalah dengan menunjukkan keinginan untuk melindungi pasangan. Perasaan sayang memang bisa terwujud dalam berbagai bentuk. Namun, dalam beberapa kasus, hubungan toksik sering kali dimulai dari pengendalian yang berlebihan oleh salah satu pasangan, yang kemudian memicu sikap posesif.

“Pasangan yang toksik menggunakan rasa sayang sebagai alat manipulasi,” ungkap Reni. 

Cemburu yang berlebihan dan tidak berdasar juga menjadi indikasi adanya hubungan yang tidak sehat. Sikap cemburu yang ekstrim dapat membatasi interaksi sosial, membuat pasangan merasa terpaksa untuk mengurangi pergaulan dengan teman atau keluarga. Hal ini bukan hanya merugikan kebebasan individu, tetapi juga dapat merusak dinamika hubungan secara keseluruhan.

Kecemburuan yang berlebihan hingga membuat pasangan merasa disetir dan kehilangan otoritas atas dirinya sendiri adalah salah satu indikator hubungan yang toksik. Hal ini bisa merusak hubungan dan menciptakan ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

“Cemburu yang berlebihan dan tidak berdasar bukanlah tanda hubungan yang sehat. Kecemburuan seperti ini dapat membatasi interaksi sosial, sering kali menuntut pasangan untuk mengurangi pergaulan,” ujarnya. 

Dalam hubungan yang sehat, lanjutnya, menjalin pertemanan dengan siapa pun seharusnya tidak menjadi masalah besar. Keseimbangan dan saling percaya adalah kunci untuk menjaga hubungan yang positif.

“Yang terpenting adalah kedua belah pihak memahami batasan pertemanan dan saling menghargai,” ungkapnya. 

Romantisme yang ditunjukkan oleh pasangan toksik sering kali bukanlah bentuk cinta yang tulus. Reni menegaskan bahwa cinta yang sesungguhnya seharusnya bersifat mendukung dan menghargai, bukan mengendalikan. Dalam konteks ini, sikap romantis menjadi sarana untuk mendekati pasangan, namun pada akhirnya menjerat mereka dalam perangkap manipulasi.

Setelah merasa nyaman, seringkali sifat asli pasangan yang toksik mulai muncul. Perilaku manipulatif dan pengendalian mulai tampak, mengungkapkan sisi negatif yang sebelumnya tersembunyi. “Intinya, orang-orang ini ingin menguasai pasangannya, bukan karena cinta yang tulus, tetapi lebih kepada ego yang besar,” jelas Reni.

Dalam banyak kasus, korban hubungan toksik merasa terjebak dan sulit untuk keluar, meskipun mereka menyadari adanya masalah. Rasa cinta yang kuat dan ketakutan akan kehilangan pasangan seringkali menghalangi mereka untuk mengambil langkah berani. **

Editor : Miftahul Khair
#hubungan percintaan #pasangan toksik