Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan mengandung banyak zat berbahaya, termasuk material gas yang dapat merusak sistem pernapasan. Paparan jangka panjang terhadap asap tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker paru
Oleh : Siti Sulbiyah
Orang yang tinggal di daerah yang sering mengalami karhutla atau mereka yang terpapar asap secara rutin lebih berisiko mengalami masalah kesehatan. Selain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), ada risiko yang tak kalah berbahaya dari paparan polusi asap karhutla. Salah satunya adalah adanya potensi kanker paru.
Dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Onkologi, dr. Eko Rustianto S, M.Si.Med., Sp.B Subsp.Onk(K), FINACS mengatakan ada hal yang tidak kalah berbahayanya dari dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan, khususnya yang terjadi pada lahan gambut.
Lahan gambut memiliki bagian yang memiliki peran dalam mengunci gas-gas berbahaya, yakni gas Radon dan gas Thoron. Keduanya adalah gas radioaktif yang muncul secara alami sebagai produk pemecah dari uranium-238. Kedua gas tersebut biasanya akan keluar bersamaan dengan terjadinya kebakaran lahan tersebut.
“Pada waktu gas ini keluar, maka berisiko terkena manusia,” tutur dokter di RSUD Dr.Soedarso ini.
Risiko paparan terhadap manusia bisa dinilai cukup tinggi khususnya pada daerah sekitar lahan yang terbakar. Paparan yang cukup lama dengan intensitas frekuensi yang cukup sering bisa menyebabkan terjadinya risiko yang lebih serius, dalam hal ini dapat meningkatkan risiko kanker paru.
Penelitian terhadap paparan gas Radon dan Thoron ini menurutnya pernah dilakukan hewan, salah satunya tikus. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa ada perubahan sel dari yang normal menjadi sel ganas pada daerah paru karena proses paparan gas Radon dan Thoron tersebut.
“Ketika dipaparkan, ternyata tikus tersebut terjadi perubahan dalam sistem di tubuh, dimana terjadi keganasan pada paru,” tuturnya.
Dosen di Universitas Tanjungpura ini mengatakan kanker paru termasuk kanker dengan penyebab kematian yang tinggi di dunia. Kanker ini sering kali disebut "pembunuh senyap" karena gejalanya yang tidak khas dan sering kali tidak muncul hingga penyakit berada pada stadium lanjut.
“Gejalanya muncul ketika sudah (stadium) berat, misalnya mengalami sesak nafas hingga batuk darah,” katanya.
Banyak pasien didiagnosis pada stadium lanjut, ketika kanker telah menyebar. Ini terjadi karena kurangnya gejala yang terlihat pada awalnya, sehingga individu tidak mencari perawatan medis. “Itulah yang membuat beberapa pasien datang dalam fase yang terlambat, sehingga kematiannya cukup tinggi,” terangnya.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan karhutla, khususnya di lahan gambut yang sering terpapar asap selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu memiliki risiko yang tinggi terhadap berbagai penyakit pernapasan. Paparan berkepanjangan ini salah satunya dapat mengakibatkan kanker.
Di sisi lain, kanker paru tidak hanya dipicu oleh asap karhutla, tetapi juga oleh faktor risiko lain seperti merokok. Kombinasi antara merokok dan paparan asap kebakaran hutan dapat memperburuk kondisi paru-paru, meningkatkan peluang berkembangnya kanker.
“Orang merokok jelas akan meningkatkan risiko kanker paru. Sudahlah merokok ditambah lagi dengan paparan dari asap kebakaran lahan,” tuturnya. **
Kerja Kolektif
Dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Onkologi, dr. Eko Rustianto S, M.Si.Med., Sp.B Subsp.Onk(K), FINACS mengingatkan pentingnya bagi masyarakat untuk menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh asap kebakaran hutan. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi bahkan mencegah paparan.
Bagi mereka yang tinggal di daerah rawan kebakaran lahan gambut, penting untuk mengurangi paparan jangka panjang. Menghindari merokok dan menjaga gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur dan pola makan seimbang, dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dan kesehatan paru-paru.
“Selain perilaku hidup sehat, jangan lupa untuk mengenakan masker,” tuturnya.
Penggunaan masker dapat melindungi sistem pernapasan dari gas berbahaya. Tak hanya asap kebakaran lahan, penggunaan masker juga dapat mencegah terinfeksinya berbagai penyakit yang dapat menginfeksi seperti Covid-19 hingga TBC.
Eko menekankan kebakaran lahan gambut merupakan masalah lingkungan yang serius, tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan, termasuk kanker paru-paru. Asap yang dihasilkan dari kebakaran ini mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan paru-paru.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat dan pihak terkait bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran lahan. Terlebih, bencana asap adalah bencana tahunan yang semestinya bisa dimitigasi secara maksimal. Bencana ini dapat dicegah dengan kerja-kerja kolektif semua pihak.
“Konsepnya kalau kita lihat masalah akar rumputnya, kita bisa mencegah, hasilnya akan signifikan,” pungkasnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair