Dalam dunia kerja yang semakin menuntut, kesehatan mental dan keseimbangan hidup menjadi perhatian utama. Dengan meningkatnya tekanan kerja, penting bagi pekerja untuk mengambil langkah dalam menjaga kesejahteraan mereka.
Oleh : Siti Sulbiyah
DATA WHO menunjukkan bawah 970 juta penduduk dunia hidup dengan gangguan jiwa. Gangguan jiwa terbanyak adalah kecemasan (30 persen) dan depresi (28,9 persen). Selain itu, 15 Persen orang dewasa usia pekerja mengalami gangguan jiwa pada tahun 2019.
Kecemasan berdampak pada berkurangnya produktivitas.
Data tersebut diungkapkan oleh Psikolog Klinis, Fifi Pramudika, M.Psi, dalam Kegiatan Seminar Hari Puncak Kesehatan Jiwa Sedunia 2024, Membentuk Lingkungan Kerja yang Sehat, Rabu (9/10).
Ia menyebut ada beberapa faktor risiko di tempat kerja seperti kurang terampilnya melakukan pekerjaan, beban kerja berlebihan, hingga kam kerja yang panjang.
“Jam kerja yang panjang, tidak fleksibel, tidak mendukung sosialisasi. Ini seperti kalau di pabrik, harus fokus dengan bekerja dengan mesin tidak ada kesempatan bersosialisasi, ini juga bisa bikin stress,” papar Fifi.
Fifi juga mengungkapkan bahwa budaya organisasi yang toksik di tempat kerja, termasuk adanya perilaku negatif, kekerasan, pelecehan, atau perundungan, serta masalah gaji yang tidak memadai, dapat memperburuk kondisi mental pekerja. Pekerja yang terpapar faktor risiko ini dapat menunjukkan berbagai gejala, baik fisik, psikologis, maupun perilaku.
Gejala fisik yang muncul bisa berupa sakit seperti tipes atau penyakit kronis akibat stres yang berkepanjangan. Sementara itu, gejala psikologis seperti kecemasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan dapat menyebabkan fenomena pekerja merasa tidak memiliki keterikatan terhadap tempat kerja mereka. Dalam aspek perilaku, pekerja yang mengalami stres cenderung menunjukkan penurunan kinerja dan tingkat ketidakhadiran yang tinggi.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan, satu dari sepuluh penduduk berusia produktif mengalami gangguan mental. Di tengah kondisi ini, angka kasus bunuh diri juga mengalami lonjakan signifikan. Data dari Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan bahwa,terjadi peningkatan kasus bunuh diri sebesar 35 persen pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam momen yang sama, dr. Arif Hening Mustikaningrum MKK, SpOk, menyoroti faktor risiko pekerjaan memberikan pengaruh signifikan terhadap kesehatan mental pekerja. Salah satunya adalah fenomena long working hours (jam kerja panjang) atau lembur.
Dalam penelitian yang dirilis oleh International Labour Organization (ILO) pada tahun 2023, salah satu faktor risiko paling tinggi terhadap kematian pekerja adalah jam kerja yang panjang. Bekerja lebih dari 55 jam per minggu meningkatkan risiko kardiovaskular hingga 17 persen dan risiko stroke hingga 35 persen, dibandingkan dengan mereka yang bekerja antara 35-40 jam seminggu.
“Penyakit paling besar ternyata adalah adalah kardiovaskular. Dari data Jamsostek, kematian mendadak di tempat kerja meningkat tiga tahun,” tutur dr. Arif.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan fisik dan mental saling berpengaruh. Pola makan yang buruk, seperti konsumsi gula tinggi, dapat mempengaruhi menurunnya kesehatan mental.
"Orang yang stres juga sering mengalami peningkatan asam lambung," katanya.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi buah dan sayur memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap stres. Ini menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental saling terkait.
Selain itu, dr. Arif mengingatkan pentingnya work-life balance. Ini merupakan konsep yang merujuk pada keseimbangan yang sehat antara waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu untuk kehidupan pribadi, termasuk keluarga, hobi, dan aktivitas lainnya.
Dokter Arif menyebut beberapa masalah yang sering dihadapi pekerja dalam mewujudkan work-life balance seperti kurangnya perawatan terhadap diri sendiri, perasaan bahwa pekerjaan tidak berarti, dan kurangnya batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal ini berkontribusi pada penurunan kesehatan fisik dan mental, perasaan tidak kompeten, serta kesepian. Perasaan ini seperti adalah alarm bagi terganggunya work-life balance. **
Editor : A'an