Dalam sebuah pernikahan, salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana suami dan istri berinteraksi dengan lawan jenis. Hubungan ini seringkali bisa menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Oleh : Siti Sulbiyah
Dalam konteks pernikahan, interaksi antara suami dan istri dengan lawan jenis perlu diatur dengan bijak. Sebab, hal ini terkadang dapat menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Contoh paling sederhana yakni situasi seperti pulang bersama dari tempat kerja, dengan alasan lokasi searah. Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, menilai dua orang berbeda jenis kelamin, terutama yang sudah berkeluarga, sebaiknya menghindari pergi atau berada dalam satu kendaraan bersama.
“Dua orang yang berbeda jenis kelamin apalagi punya suami dan istri, pergi atau bersama dalam satu kendaraan, sebaiknya dihindari, seperti dalam kasus pulang kerja bareng karena searah,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa setelah menikah, individu tidak hanya membawa diri sendiri, tetapi juga pasangan dan keluarga dalam setiap interaksi sosial. Dia menekankan bahwa dalam bergaul dengan lawan jenis, sebaiknya setiap aktivitas dilakukan dengan seizin pasangan.
"Misalnya, jika ada acara kantor atau pertemuan dengan rekan kerja, penting untuk mengabari atau meminta izin kepada pasangan terlebih dahulu," jelasnya.
Ia menilai perlu menetapkan batasan dan komitmen yang jelas sejak awal dengan pasangan ketika memutuskan berumah tangga. Setiap pasangan memiliki perbedaan dalam menentukan apa yang disukai dan tidak disukai. Penting untuk menentukan jenis interaksi yang dianggap pantas, seperti seberapa sering bertemu atau berkomunikasi dengan lawan jenis.
“Dari awal duduk berdua untuk menetapkan batasan dan komitmen, atau boundaries apa yang disukai dan tidak disukai oleh pasangan. Selain itu, juga boundaries apa yang kita sukai dan tidak sukai dari pasangan,” jelasnya.
Dalam menetapkan batasan komitmen tersebut, ia menilai setiap pasangan akan memiliki
perbedaan satu sama lain. Dengan mengedepankan batasan yang jelas, pasangan diharapkan dapat menjaga keharmonisan dalam hubungan mereka.
Baca Juga: Jokowi Resmikan Dua Rumah Sakit di Nusantara, Jadi Kebutuhan ASN Saat Pindah ke IKN
Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda. Penting untuk menghormati perasaan pasangan ketika berhubungan dengan lawan jenis. Jika satu pihak merasa tidak nyaman dengan interaksi tertentu, maka harus ada upaya untuk mengubah perilaku tersebut.
Selain itu, ia menilai, menghindari situasi yang dapat memicu kecemburuan atau kesalahpahaman adalah langkah penting dalam membangun kepercayaan dan keamanan emosional dalam pernikahan.
Ketika menghadapi permintaan dari teman atau rekan kerja, seperti ajakan untuk pulang bersama, penting untuk menolak dengan tegas dan asertif. "Jika ada lawan jenis yang meminta pulang bareng, sebaiknya tolak secara langsung dan jelas. Beritahu mereka bahwa ini adalah komitmen antara suami dan istri yang tidak boleh dilanggar," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam situasi yang terpaksa, di mana menolak secara langsung mungkin tidak memungkinkan, sebaiknya tetap meminta izin kepada pasangan terlebih dahulu.
Jovita menekankan bahwa komunikasi yang baik antara pasangan adalah kunci untuk menetapkan batasan yang sehat, sehingga hubungan dapat berkembang dengan baik tanpa mengorbankan rasa saling percaya.**
Editor : Miftahul Khair