Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Waspadai Infeksi Virus Penyebab Gondongan

A'an • Jumat, 18 Oktober 2024 | 15:57 WIB
ilustrasi gondongan.
ilustrasi gondongan.

Masyarakat diharapkan dapat mewaspadai infeksi virus yang menyebabkan gondongan atau mumps. Pasalnya, masa inkubasi virus antara 2-3 pekan, membuat individu yang terpapar tidak langsung menunjukkan gejala. Ini berpotensi menyebabkan penyebaran virus semakin meluas. 

 

Oleh : Siti Sulbiyah


Mumps atau yang lebih dikenal dengan istilah gondongan menjadi perhatian serius di kalangan masyarakat saat ini. Pasalnya, terjadi kenaikan kasus sejak beberapa waktu belakangan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kubu Raya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya mencatat terdapat peningkatan signifikan kasus Parotitis Epidemika, atau yang lebih dikenal dengan istilah mumps (gondongan) sejak Agustus hingga akhir September 2024.

Plt Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengungkapkan bahwa kasus mumps mengalami lonjakan dari 196 kasus pada bulan Agustus menjadi 305 kasus di bulan September, meningkat sebesar 64 persen. Menurutnya, kasus terbanyak terjadi pada anak-anak usia 5 hingga 9 tahun, dengan total 123 kasus, diikuti oleh kelompok usia 10 hingga 18 tahun sebanyak 116 kasus. 

"Kami menyadari bahwa sebagian besar kasus terjadi di lingkungan sekolah, sehingga kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Nasional untuk menghimbau agar anak-anak yang terdiagnosis mumps tidak masuk sekolah," ujarnya kepada Pontianak Post, Senin (14/10).

Gondongan adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus paramyxovirus. Dokter spesialis anak di RS Kharitas Bhakti, Dr. dr. Rini Andriani, Sp.A mengatakan virus ini memiliki masa inkubasi antara 2-3 pekan. Hal ini menjadi tantangan dalam penanganan penyakit, karena anak yang terpapar virus tidak langsung menunjukkan gejala.

“Anak yang terpapar, tapi belum tentu dia langsung sakit,” tuturnya.

Masa inkubasi yang cukup lama membuat anak-anak yang telah terpapar tetap dapat berinteraksi di lingkungannya, sehingga potensi penularan menjadi sangat tinggi. “Ini menyebabkan kenapa makin lama penderitanya semakin banyak dan tidak habis-habis,” tuturnya.

Kondisi ini diperparah jika anak yang baru sembuh dari penyakit menular tidak diberi waktu istirahat yang cukup, sehingga meningkatkan kemungkinan terinfeksi penyakit lainnya.

Sebagai upaya pencegahan, Dokter Rini menganjurkan agar anak yang terinfeksi diberi waktu istirahat minimal dua minggu. Namun, banyak orang tua yang khawatir jika anak mereka harus libur sekolah terlalu lama. 

Oleh karena itu, ia mengharapkan pihak sekolah dapat lebih tegas dalam menangani kasus penyakit menular dengan memberikan waktu libur yang cukup bagi anak-anak yang terinfeksi, seperti gondongan, maupun virus lainnya seperti cacar air. 

Gejala gondongan bervariasi, mulai dari demam, sakit kepala, hingga pembengkakan di area pipi dan leher.  Penyakit ini sering dianggap hanya menyerang anak-anak, namun kenyataannya, virus ini juga dapat menginfeksi orang dewasa, terutama bagi mereka yang belum pernah mendapatkan imunisasi atau memiliki sistem imun yang lemah. 

Menurut Dokter Rini, meskipun seseorang telah mendapatkan imunisasi, mereka masih berisiko terinfeksi virus ini, terutama saat sistem imun tubuh sedang menurun. “Walaupun sudah imunisasi, tetap bisa terkena terutama ketika imun sedang turun. Tapi dari penelitian, gejalanya lebih ringan,” ujarnya.

Hingga saat ini, ia menegaskan tidak ada antivirus spesifik untuk mumps. Pengobatan yang diberikan umumnya bersifat suportif. Jika pasien mengalami bengkak, nyeri, sulit tidur, atau tidak nafsu makan, maka ada obat yang bisa diberikan untuk mengatasi gejala-gejala tersebut. Dalam kondisi tertentu, antibiotik juga mungkin diperlukan dengan catatan harus sesuai anjuran dokter.

Proses pemulihan dari infeksi mumps menekankan pentingnya istirahat dan terapi suportif. Dari segi nutrisi, Dokter Rini menekankan bahwa asupan makanan yang baik dan seimbang sangat penting untuk penyembuhan, meskipun tidak ada makanan khusus untuk penanganan gondongan.

Dalam hal pengobatan tradisional, ada pertanyaan mengenai penggunaan belau. Menurut Dokter Rini, zat biru pada belau mengandung antiseptik, tetapi tidak berfungsi untuk membantu penanganan gondongan. “Jadi, jika belau digunakan dengan harapan bisa mengatasi gondongan, hal itu hanya mitos," katanya.

Bagi anak atau individu yang sudah terinfeksi virus mumps, ia merekomendasikan agar mereka diistirahatkan di rumah untuk mencegah penularan lebih lanjut. "Penggunaan masker juga disarankan untuk mengurangi penyebaran virus melalui droplet," tuturnya.**

Editor : A'an
#gondongan