Generasi Z (Gen Z) yang lahir pada 1997-2012 saat ini yang telah memasuki dunia kerja. Namun, generasi ini dianggap cenderung lebih mudah memilih mengundurkan diri atau resign. Apa penyebabnya?
Oleh : Siti Sulbiyah
SURVEI yang dilakukan Jakpat pada Februari 2024 menunjukkan bahwa sebesar 41 persen dari Gen Z yang telah bekerja tidak memiliki rencana untuk resign. Jakpat sendiri adalah singkatan dari Jejak Pendapat, yang merupakan platform survei terbuka.
Selain itu, survei ini juga menunjukkan bahwa 34 persen dari Gen Z mengungkapkan keinginan untuk resign, meskipun tanpa menentukan waktu pasti. Diikuti oleh 10 persen dari Gen Z yang merencanakan untuk resign dalam enam bulan ke depan. Sebanyak delapan persen lainnya mempertimbangkan untuk resign dalam waktu satu tahun ke depan.
Pada 2023, Jakpat juga melakukan survei tentang alasan Gen Z memilih untuk resign. Survei tersebut menunjukkan bahwa, 64,9 persen Gen Z memilih resign karena gaji tidak sesuai dengan job desk yang membuat. Alasan lain yang membuat Gen Z memilih resign adalah jam kerja tidak teratur, budaya kerja toksik, rekan kerja yang toksik, SOP dan aturan perusahaan tidak jelas, tidak ada jenjang karier, hingga tidak adanya work life balance.
Psikolog di UPT Klinik Utama Sungai Bangkong, Patricia Elfira Vinny, M.Psi, Psikolog menilai fenomena resign atau mengundurkan dari tempat kerja bisa terjadi pada siapa saja dan dari generasi manapun. Namun saat ini, Gen Z kian menjadi sorotan karena mereka cenderung lebih mudah memilih untuk resign. Banyak yang menilai, daya tahan kerja mereka lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
“Pekerja yang lahir di antara tahun 1997 - 2000-an memiliki daya tahan kerja yang cenderung lebih rendah dibandingkan yang lahir dari tahun 1970an - 1980an,” paparnya.
Fenomena ini pun telah banyak dibuktikan oleh beberapa penelitian. Patricia juga kerap mendapatkan keluhan tentang daya tahan kerja Gen Z dari teman sejawat yang bekerja di perusahaan.
Masalah kesejahteraan mental kerap kali menjadi salah satu alasan Gen Z memilih untuk resign. Dari pengalaman Patricia sebagai psikolog, masalah yang banyak dikeluhkan oleh Gen Z dalam pekerjaan adalah stres kerja dan burnout. Burnout sendiri didefinisikan sebagai kelelahan fisik, emosional atau mental, disertai dengan penurunan motivasi, penurunan kinerja dan sikap negatif pada diri sendiri dan orang lain.
Kesejahteraan mental menurutnya cukup besar memberikan pengaruh bagi Gen Z terhadap keputusan untuk resign. “Ketika mereka merasa tidak sejahtera baik secara materiil dan psikologis, mereka jauh lebih mudah mengambil tindakan resign dari pekerjaan," ungkapnya.
Baca Juga: Peringati HUT ke-60, Golkar Kabupaten Kayong Utara Santuni Lansia dan Anak Yatim
Namun, mereka bisa tetap bertahan apabila pekerjaan yang ada saat ini memiliki gaji yang layak. Ketika secara materiil masih dianggap layak bagi Gen Z bertahan di tempat kerja tersebut, mereka biasanya akan mengabaikan persoalan penyebab stres yang dialami selama bekerja.
“Ataupun berupaya mengantisipasi masalah stress dengan konseling ke psikolog maupun konselor,” tambahnya.
Perbedaan nilai hidup dalam setiap generasi sangat mungkin memengaruhi loyalitas Gen Z terhadap pekerjaan. Ia menilai generasi milenial (Lahir 1981-1996) cenderung lebih menggunakan pola pikir yang optimis dibandingkan Gen Z yang lebih suka menghindari risiko.
“Ini karena generasi Z menyaksikan bagaimana tidak stabilnya generasi milenial, oleh karena itu, gen Z cenderung lebih berhati-hati dibandingkan milenial,” terangnya.
Hanya saja, lanjut dia, pola pikir yang terlalu sering menghindari masalah, membuat mereka jadi tidak mudah beradaptasi dengan tantangan. Hal ini, tak jarang ketika dalam bekerja yang penuh tantangan, Gen Z jauh lebih mudah menghindari bahkan melepaskannya dibandingkan milenial yang tetap menjalaninya sekalipun penuh resiko kerja.
Kebosanan kerja pada juga Gen Z dianggap lebih cepat terjadi sehingga memengaruhi keputusan mereka untuk resign ataupun bertahan. Patricia menilai penyebab utama rasa bosan di tempat kerja tersebut lantaran Gen Z rentan sekali terhadap stress yang juga disebabkan oleh perubahan lingkungan sosial yang jauh didominasi oleh gadget. Ini menyebabkan komunikasi sosial juga cenderung terbatas.
“Sehingga ketika seseorang gen Z mengalami masalah terbanyak akan melupakannya ke media sosial dan cenderung dipendam sendirian, karena minimnya sosialisasi dengan orang lain,” paparnya.
Pengaruh media sosial dalam hal ini dinilai cukup, apalagi Gen Z tumbuh remaja dan dewasa di era digitalisasi yang berkembang pesat. Generasi ini dimanjakan dengan semua kemudahan sehingga menurut mereka mendapatkan lapangan pekerjaan atau bahkan membuat lapangan pekerjaan akan jauh lebih mudah.
Dengan mudahnya akses informasi bahkan penyebaran informasi diri di medsos, ia menilai hal ini akan membuat mereka juga merasa lebih mudah membangun brand personal yang juga dianggap bisa bermanfaat bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan atau melakukan pekerjaan sesuai harapan mereka.
Coba Lihat Sisi Positif
Hasil survei situs karier yang dilakukan oleh Jobplanet menunjukkan bahwa 57,3 persen dari total 4.550 responden yang merupakan Gen Z pindah kerja setelah setahun. Selain itu, sebanyak 33,2 persen responden bertahan selama dua tahun. Lalu 3,2 persen untuk 3-4 tahun dan 5,8 persen untuk lebih dari lima tahun.
Psikolog di UPT Klinik Utama Sungai Bangkong, Patricia Elfira Vinny, M.Psi, Psikolog memberikan saran agar Gen Z mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan, baik saat melamar pekerjaan maupun saat memutuskan untuk resign. Ia menilai penting untuk menilai apakah keputusan tersebut akan membawa kebaikan bagi diri sendiri atau justru memperburuk keadaan.
Ia menyarankan untuk melihat sisi positif dari tempat kerja, meskipun ada stres yang dialami. “Bisa lebih dulu melihat sisi positif yang ada di tempat kerja sembari mengimbangi kondisi stres yang dialami karena pekerjaan itu mungkin ternyata tidak sesuai harapan,” katanya.
Gen Z menurutnya bisa menyisihkan waktu untuk hobi atau kegiatan positif lainnya bisa menjadi cara efektif untuk mengimbangi tekanan pekerjaan. Mereka dapat menyeimbangkan antara bekerja dan menjalankan hobi sehari-hari. Menurutnya, aktivitas fisik seperti olahraga dapat membantu menjaga kesehatan mental.
“Sehingga ketika juga gaji tidak begitu sesuai harapan masih terbantukan oleh keseimbangan bekerja tadi,” tuturnya. **
Editor : Miftahul Khair