Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Peran Ayah Cegah Stunting: Kolaborasi Keluarga demi Masa Depan Anak

Miftahul Khair • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 13:19 WIB

 

Ilustrasi stunting. (IST)
Ilustrasi stunting. (IST)

Pencegahan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak. Kolaborasi yang baik antara ibu dan ayah sangat diperlukan. Keduanya perlu bekerja sama dalam memastikan anak tidak mengalami stunting.

Oleh : Siti Sulbiyah

Rudi (42), warga Dusun Mekar Raya, masih teringat jelas momen pahit ketika anak ketiganya didiagnosis mengalami stunting beberapa tahun lalu. Sebagai seorang ayah, awalnya ia merasa sulit menerima kenyataan tersebut. Namun, keadaan ekonomi yang kian terpuruk sejak dirinya di-PHK dari pekerjaan, membuat Rudi harus berjuang lebih keras demi keluarganya.

Pandemi Covid-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan Rudi. Setelah di-PHK, ia bekerja sebagai juru parkir untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anak laki-lakinya itu didiagnosis stunting pada tahun 2021, saat usianya baru tiga tahun. Kondisi ini baru terungkap ketika secara tidak sengaja Rudi dan istrinya membawa anaknya itu ke posyandu.

Saat itu, Rudi tengah bersilaturahmi ke rumah kerabatnya yang ternyata menjadi lokasi kegiatan posyandu. Di sana, ia bertemu dengan para ibu kader posyandu dan mulai menceritakan kondisi sang buah hati.

Sejak usianya 1,5 tahun sang buah hati sering mengalami step. Tubuhnya sering kejang, bahkan dalam sehari bisa mencapai tujuh kali. Dengan tubuh kecil dan lemah, kakinya tak kuat untuk berdiri. Kondisi ini membuat keluarga besar Rudi memberi sebutan "lengkaok," istilah dari kampung yang mengacu pada anak yang terlihat lemah dan sering sakit.

Rudi dan istrinya sempat membawa anaknya itu untuk mendapatkan perawatan medis. Dokter mendiagnosis anaknya dengan stunting dan menyarankan terapi untuk memperbaiki kondisinya. Namun, keterbatasan ekonomi yang semakin memburuk selama pandemi membuat mereka terpaksa menghentikan pengobatan. PHK yang dialami membuatnya kesulitan membiayai terapi yang dianjurkan.

Tak sanggup membiayai pengobatan medis, Rudi akhirnya beralih ke pengobatan tradisional yang ada di kampungnya. Dengan bantuan tabib setempat, sang anak diobati menggunakan minyak yang diolah dari ramuan tradisional serta bacaan-bacaan doa.

Namun, kondisi ini terus berlangsung selama setahun tanpa perbaikan yang signifikan. Hingga akhirnya, Rudi seakan mendapatkan secercah harapan saat ibu-ibu posyandu dan perangkat desa memperkenalkan program perbaikan gizi untuk anak-anak yang mengalami stunting.

Sebelum pandemi, Rudi mengakui bahwa ia jarang membawa anak-anaknya ke posyandu atau puskesmas. Dengan kondisi ekonomi yang saat itu cukup baik, Rudi memilih membawa anak-anaknya langsung ke dokter spesialis di rumah sakit swasta.

Namun, semua berubah ketika pandemi melanda. Kehilangan pekerjaan membuat Rudi mengandalkan posyandu untuk memantau kesehatan anak-anaknya, termasuk anaknya yang terdeteksi stunting pada 2021.

Sejak itu, Rudi secara rutin membawa anaknya ke posyandu dan puskesmas setempat untuk memantau pertumbuhan dan mendapatkan bantuan. Adanya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta layanan konsultasi gratis sangat membantu dalam memastikan gizi anaknya tercukupi. Kabar baik datang pada April 2022, yakni ketika sang buah hati dinyatakan lepas dari status balita stunting.

Sementara itu, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, angka prevalensi stunting di Kalbar mengalami menurun. Hasil SKI tahun 2023 stunting di Kalbar mencapai 24,5 persen atau turun 3,3 persen dari hasil SKI tahun 2022 sebesar 27,8 persen. Sedangkan data E-PPGBM pada bulan Februari 2024, angka stunting di Kalbar telah mencapai 15,3 persen.

Kalimantan Barat mencatat prestasi signifikan dalam upaya menurunkan prevalensi stunting. Penurunan ini menandai kemajuan signifikan dalam waktu yang relatif singkat, menunjukkan efektivitas program penanganan stunting di Kalbar.

Kepala BKKBN Kalimantan Barat, Victor Palimbong menyebutkan bahwa Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah dengan penurunan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia.

"Provinsi ini bisa menjadi daerah pembelajaran tentang bagaimana menurunkan stunting secara efektif dan efisien," katanya.

Walau turun, stunting di Kalbar masih menjadi pekerjaan rumah yang harus mendapatkan perhatian semua pihak. Utamanya peran keluarga itu sendiri dalam mencegah stunting. Tak hanya ibu, ayah juga punya peran yang signifikan.

Peran ayah dalam mencegah stunting juga sangat penting, salah satunya dalam memastikan kualitas sperma yang akan berperan dalam perkembangan janin. Sperma yang sehat dihasilkan dari proses yang terjadi tiga bulan sebelum pembuahan, sehingga seorang calon ayah perlu mempersiapkan dirinya secara maksimal.

"Peran ayah termasuk mengurangi kebiasaan merokok dan memastikan pola makan bergizi," jelasnya.

Rokok dan pola makan yang buruk dapat memengaruhi kualitas sperma, yang pada gilirannya bisa berdampak pada perkembangan janin dan meningkatkan risiko stunting. Oleh karena itu, menjaga kualitas sperma melalui gaya hidup sehat menjadi bagian integral dalam upaya mencegah stunting.

Peran ayah dalam pencegahan stunting sangatlah vital, mulai dari memberikan dukungan ekonomi, psikologis, hingga aktif terlibat dalam pemantauan kesehatan anak. Dengan terlibat penuh dalam proses pengasuhan, pemenuhan gizi, serta penciptaan lingkungan yang sehat, ayah dapat berkontribusi besar dalam mencegah stunting dan memastikan anak-anaknya tumbuh dengan optimal.

Baca Juga: Lasarus: Sis Sukardi dan NKRI Harus Menang Mutlak untuk Kelanjutan Pembangunan di Berbagai Aspek

Dapat Dilakukan Pendeteksian Dini

Victor mengatakan stunting dapat mengakibatkan tiga hal yaitu tinggi badan tidak sesuai umur, tertinggal secara kognitif, dan mudah terserang penyakit. Stunting bukan hanya tentang tinggi badan yang kurang, melainkan juga mencakup masalah kognitif dan kerentanan terhadap penyakit. Anak yang mengalami stunting memiliki risiko tertinggal dalam kemampuan kognitif, yang dapat mempengaruhi prestasi pendidikan dan perkembangan jangka panjang mereka. Oleh karena itu, stunting sering kali menjadi indikator penting untuk melihat kualitas kehidupan generasi mendatang.

Salah satu langkah paling sederhana dan murah untuk mencegah stunting adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan dasar pada calon ibu. Pemeriksaan Hemoglobin (HB), lingkar lengan atas, indeks massa tubuh (IMT), dan usia sangat penting untuk memastikan kondisi tubuh calon ibu sebelum kehamilan. Pemeriksaan ini mudah diakses dan harganya terjangkau, namun dampaknya signifikan.

“Jika kekurangan darah terdeteksi, solusinya sederhana: intervensi dengan tablet tambah darah,” jelasnya.

Langkah pencegahan seperti ini sangat penting untuk memastikan ibu dalam kondisi sehat sebelum dan selama kehamilan, sehingga dapat mengurangi risiko melahirkan anak yang stunting.

Tanda-tanda stunting dapat dideteksi bahkan sebelum bayi lahir. Seorang bayi yang berisiko stunting bisa didiagnosis saat kehamilan memasuki usia 8 bulan. Ini memberikan kesempatan bagi para dokter dan calon orang tua untuk melakukan langkah-langkah intervensi yang tepat sebelum bayi lahir.

Untuk mencegah stunting, seorang calon ibu tidak hanya perlu menyiapkan mentalnya dalam menjalani kehidupan berkeluarga, tetapi juga mempersiapkan tubuhnya agar siap untuk kehamilan yang sehat. Pemahaman tentang asah, asih, dan asuh, yang merupakan tiga pilar pengasuhan, menjadi penting. Tetapi tak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa tubuh dalam kondisi optimal sebelum mengandung.

Dampak Hingga ke Beberapa Generasi

Stunting bukanlah penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang muncul akibat malnutrisi kronis. Faktor-faktor penyebabnya dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yakni faktor spesifik dan faktor sensitif.

“Faktor spesifik cuma 30 persen, yang menyangkut masalah gizi dan kesehatan,” jelas Victor.

Namun, faktor sensitif memiliki peran yang lebih besar, mencapai 70 persen. Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, perumahan yang sehat, serta lingkungan hidup yang mendukung.

Menurut para ahli, kata Victor, stunting diakibatkan oleh tiga hal utama, yakni nutrisi yang tidak optimal, kesehatan yang tidak terjaga, dan pengasuhan yang kurang maksimal. Ketiga aspek ini saling berkaitan dalam menciptakan situasi yang memicu stunting, dan karena itu penanganannya harus melibatkan berbagai sektor, tidak hanya kesehatan dan gizi.

Baca Juga: Sambut HLN Ke-79, Donasi Insan PLN Terangi 3.725 Keluarga se-Indonesia

Salah satu fakta tentang stunting adalah dampaknya yang bisa dirasakan hingga beberapa generasi. Stunting pada ibu tidak hanya memengaruhi anak yang dilahirkan, tetapi juga bisa berdampak pada generasi berikutnya. Jika seorang ibu kekurangan gizi dan melahirkan anak yang stunting, anak itu sudah mengandung telur yang nantinya dapat menghasilkan keturunan stunting pula.

“Bisa dibayangkan, ibu melahirkan anak stunting, dalam tubuhnya sudah ada telur yang akan menghasilkan anak stunting pula,” jelasnya.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya intervensi gizi pada setiap generasi untuk memutus siklus stunting. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Kolaborasi #stunting #ayah